Api Misterius di Seyegan Muncul 118 Kali dalam 18 Hari

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Rabu, 10 Juni 2026 12:37 WIB
Api Misterius di Seyegan Muncul 118 Kali dalam 18 Hari

Penggunaan kamera termal di lokasi munculnya api misterius Seyegan, Sleman. /Harian Jogja-Catur Dwi Janati.

Harianjogja.com, SLEMAN— Fenomena api misterius di Seyegan, Kabupaten Sleman, masih belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Hingga memasuki hari ke-18 pada Selasa (9/6/2026), kemunculan api di rumah warga tercatat telah mencapai 118 kali dengan lokasi yang terus berpindah-pindah.

Meski berbagai upaya penanganan telah dilakukan, termasuk pendampingan dari tim peneliti, kemunculan api masih terjadi di sejumlah titik. Bahkan dalam rentang empat jam pada dini hari, api kembali muncul sebanyak tiga kali di area berbeda.

Penghuni rumah, Mutfiana, mengatakan fenomena tersebut masih berlangsung hingga Selasa pagi. Dalam periode antara pukul 00.00 WIB hingga sekitar pukul 04.00 WIB, api kembali terlihat muncul sebanyak tiga kali.

"Hari ini tadi pagi sudah tiga kali, pagi tadi sebelum jam empat. Dari jam 12 [malam] sampai jam empat itu tiga kali," terang Fia pada Selasa (9/6/2026).

Menurut Fia, kemunculan api tidak terjadi pada satu lokasi tertentu. Titik kemunculannya terus berubah sehingga menyulitkan upaya pengawasan dan penanganan.

Pada kejadian dini hari tersebut, satu titik api muncul di area tumpukan kayu, satu titik lainnya berada di atas dapur, sedangkan kemunculan api berikutnya terjadi di sekitar kandang.

Tambahan tiga kejadian itu membuat jumlah total kemunculan api selama 18 hari terakhir mencapai 118 kali. Fenomena api Seyegan tersebut hingga kini masih menjadi perhatian berbagai pihak karena penyebab pastinya masih terus diteliti.

Sebagai bagian dari upaya penanganan, tim peneliti dari UGM sebelumnya merekomendasikan penjenuhan cairan basa menggunakan air kapur. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan perkembangan bakteri Clostridium yang diduga berperan dalam pembentukan gas hidrogen yang berpotensi memicu kemunculan api.

Aplikasi air kapur disarankan dilakukan secara rutin setiap hari pada area yang berpotensi menjadi sumber kemunculan api. Tim peneliti juga telah meninggalkan sejumlah karung berisi kapur untuk digunakan oleh penghuni rumah.

Fia mengaku akan berupaya menjalankan rekomendasi tersebut sesuai kemampuan keluarga.

"Apa yang kami bisa upayakan akan kami lakukan, selagi kami mampu. Kalau ini kan dimampu-mampuke agar bisa. Ada bahayanya, tinggal tenaga," ujarnya.

Di tengah berbagai upaya teknis yang dilakukan, keluarga juga mempertimbangkan langkah nonteknis dengan menggelar doa bersama. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana ikhtiar sekaligus mempererat dukungan dari warga sekitar dan para relawan yang selama ini membantu.

"Iya, kepikiran sekali [doa bersama]," tuturnya.

"Pengennya doa bersama sama relawan, sama tetangga," imbuhnya.

Rencana doa bersama itu masih dalam tahap pembahasan keluarga. Apabila terealisasi, kegiatan tersebut akan melibatkan tetangga dan relawan yang selama ini turut mendampingi keluarga menghadapi fenomena api Seyegan yang hingga kini masih terus berlangsung.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online