Kosong yang Penuh Jadi Ruang Cerita Mahasiswa dan Sekolah Mitra UAJY

Media Digital
Media Digital Senin, 15 Juni 2026 16:40 WIB
Kosong yang Penuh Jadi Ruang Cerita Mahasiswa dan Sekolah Mitra UAJY

Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), G. Sri Nurhartanto, sedang menyerahkan buku kumpulan cerita pengalaman mahasiswa kepada salah satu penulis buku, Slovenia Yuviesha Chin, di Auditorium Lantai 4 Gedung St. Bonaventura UAJY pada Senin (15/6/2026)./ Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono

SLEMAN—Percakapan sederhana dengan para siswa di sekolah mitra ternyata mampu melahirkan sebuah karya yang sarat makna. Pengalaman itu kini terdokumentasi dalam buku Kosong yang Penuh, kumpulan refleksi mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) yang resmi diluncurkan di Auditorium Lantai 4 Gedung St. Bonaventura UAJY, Senin (15/6/2026).

Buku tersebut memuat cerita dan pengalaman mahasiswa saat menjalani pendampingan di berbagai sekolah mitra melalui mata kuliah Masyarakat Digital Fakultas Teknologi Industri UAJY. Melalui interaksi langsung dengan siswa, guru, hingga pengelola sekolah, para mahasiswa merekam beragam kisah yang kemudian dituangkan menjadi tulisan reflektif.

Salah satunya dialami Winda Paembonan. Mahasiswi UAJY itu mengenang momen ketika berdiskusi bersama siswa SMA Stella Duce Bambanglipuro, Bantul. Dalam suasana yang hangat dan terbuka, para siswa berbagi cerita mengenai cita-cita dan rencana masa depan mereka.

“Ada yang bercerita ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, masuk sekolah kedinasan, hingga ada yang ingin langsung bekerja,” kata Winda.

Pengalaman tersebut kemudian ia tuliskan dalam sebuah artikel yang selanjutnya dihimpun bersama karya mahasiswa lainnya. Kumpulan tulisan itu kemudian diterbitkan dalam bentuk buku cetak oleh Penerbit Pohon Cahaya.

Pengalaman berbeda dirasakan Slovenia Yuviesha Chin saat melakukan pendampingan di TK Indriyasana Utama Kotagede. Dari pengamatannya, sekolah tersebut masih menghadapi tantangan pascagempa 2006, terutama dalam penyelesaian pembangunan infrastruktur.

Selain persoalan fisik bangunan, keterbatasan tenaga kerja dan minimnya publikasi juga menjadi hambatan bagi sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Dharma Ibu Yogyakarta tersebut.

“Tujuan saya ingin mempromosikan TK Indriyasana Utama ini. Saya harap artikel ini bisa membuat lebih banyak orang tahu tentang sekolah tersebut,” ujar Slovenia.

Rektor UAJY, G. Sri Nurhartanto, mengatakan buku Kosong yang Penuh lahir dari pengalaman langsung mahasiswa yang terlibat di tengah masyarakat, khususnya di lingkungan sekolah-sekolah mitra kampus.

Menurutnya, proses tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk melihat dan memahami realitas pendidikan dari dekat, sekaligus menangkap harapan yang dimiliki para siswa maupun orang tua.

“Mereka menuangkan pengalaman dan ide dalam sebuah buku yang didampingi dosen pendamping. Dari pengalaman langsung, anak-anak muda melihat, memotret, dan mengalami sendiri apa yang terjadi di sekolah mitra serta harapan orang tua maupun para siswa,” kata Nurhartanto.

Ia menjelaskan peluncuran buku ini menjadi yang pertama dilakukan oleh UAJY. Kehadiran buku tersebut merupakan hasil kolaborasi antara UAJY dan Yayasan Dua Belas Cahaya Kasih melalui program Cerita Kasih.

Lebih jauh, Nurhartanto menilai pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa Fakultas Teknologi Industri yang selama ini identik dengan dunia teknologi dan perhitungan.

“Adik-adik mahasiswa yang biasanya bergulat pada persoalan angka, sekarang bergulat pada rasa. Ini penting karena setelah lulus mereka akan berinteraksi dengan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Dua Belas Cahaya Kasih, Henricus Yulianto Perdana, menjelaskan judul Kosong yang Penuh dipilih untuk menggambarkan berbagai ruang yang kerap luput dari perhatian publik, tetapi sesungguhnya menyimpan nilai-nilai penting.

Menurutnya, nilai tersebut tidak selalu terlihat secara langsung. Melalui interaksi, pengamatan, dan refleksi yang mendalam, mahasiswa mampu menemukan makna yang selama ini tersembunyi.

“Akhirnya nilai-nilai itu bisa direkonsiliasi lewat cerita,” kata Henricus.

Ia menambahkan, buku ini juga menjadi bagian dari upaya membantu sekolah-sekolah Katolik yang mengalami penurunan jumlah peserta didik. Melalui publikasi yang lebih kuat, nilai dan keunggulan masing-masing sekolah diharapkan dapat lebih dikenal masyarakat luas.

“Kami membantu sekolah-sekolah dan yayasan Katolik yang banyak mengalami penurunan, terutama dari sisi meningkatkan publikasi value di era masyarakat digital,” ujarnya.

Melalui buku Kosong yang Penuh, pengalaman yang awalnya hanya tersimpan dalam ruang-ruang kecil di sekolah kini hadir menjadi cerita yang dapat dibaca banyak orang. Buku ini tidak hanya merekam perjalanan mahasiswa belajar dari masyarakat, tetapi juga menjadi medium untuk memperkenalkan nilai-nilai pendidikan yang selama ini mungkin belum banyak diketahui publik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online