Tren Kebakaran Lahan di Sleman Fluktuatif, Kemarau Jadi Pemicu
Tren kebakaran lahan di Sleman selama sembilan tahun terakhir menunjukkan pola fluktuatif. Musim kemarau panjang menjadi salah satu pemicu utama lonjakan kasus
Foto ilustrasi transmigrasi. - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Kabupaten Sleman telah memberangkatkan 325 kepala keluarga (KK) melalui program transmigrasi selama periode 2010 hingga 2024. Jumlah pemberangkatan terbanyak terjadi pada 2012 dengan 81 KK, yang sebagian besar dipengaruhi tingginya minat warga pascaerupsi Gunung Merapi.
Berdasarkan rekapitulasi pemberangkatan transmigran asal Kabupaten Sleman yang dihimpun Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman, pada 2012 para transmigran ditempatkan di enam lokasi, yakni di Ogan Komering Ilir, di Konawe Selatan, di Kubu Raya, di Tana Tidung, di Bulungan, dan di Kubu Raya.
Jumlah pemberangkatan juga tergolong tinggi pada 2011 dengan 70 KK dan pada 2010 sebanyak 45 KK.
Ketua Tim Kerja Transmigrasi Disnaker Sleman, Malik Syahrul, mengatakan pemberangkatan transmigran dari Sleman selama periode tersebut dilakukan secara bertahap ke berbagai wilayah penempatan.
“Transmigrasi pada 2010, 2011, 2012 memang banyak diikuti warga, utamanya yang terdampak erupsi Gunung Merapi,” kata Syahrul dihubungi, Jumat (31/7/2026).
Setelah periode dengan jumlah pemberangkatan tinggi pada awal 2010-an, jumlah transmigran yang diberangkatkan cenderung menurun. Pada 2013 tercatat 10 KK, pada 2014 sebanyak 11 KK, pada 2015 sebanyak 22 KK, pada 2016 sebanyak 18 KK, pada 2017 sebanyak tujuh KK, dan pada 2018 sebanyak 25 KK.
Pada 2019, Sleman memberangkatkan 13 KK. Namun, tidak ada pemberangkatan pada 2020 dan 2021 ketika Indonesia diterpa pandemi Covid-19. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan program transmigrasi tertunda.
Program kembali berjalan pada 2022 dengan pemberangkatan 12 KK, kemudian menurun menjadi lima KK pada 2023 dan enam KK pada 2024.
Pada 2024, enam KK asal Sleman ditempatkan di tiga lokasi, masing-masing dua KK di UPT Mahalona, Kecamatan Koromolai, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan; dua KK di UPT Puuhlu, Kecamatan Oheo, Konawe Utara, Sulawesi Tenggara; serta dua KK di UPT Padang Tarok, Kecamatan Kamang Utara, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat.
Secara keseluruhan, persebaran penempatan transmigran asal Sleman mencakup berbagai daerah di Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatra. Lokasi tujuan tersebut antara lain di Bulungan, di Kubu Raya, di Sambas, di Paser, di Kayong Utara, di Ogan Komering Ilir, di Sijunjung, hingga di Bengkulu.
Sebelumnya, Kepala Disnaker Sleman, Epiphana Kristiyani, menilai program transmigrasi masih relevan hingga saat ini, terutama bagi masyarakat miskin yang belum memiliki aset maupun sumber daya ekonomi.
Menurut dia, transmigrasi dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk membangun sumber penghidupan baru karena calon transmigran tidak hanya dipindahkan ke daerah tujuan, tetapi juga memperoleh berbagai bentuk dukungan dari pemerintah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tren kebakaran lahan di Sleman selama sembilan tahun terakhir menunjukkan pola fluktuatif. Musim kemarau panjang menjadi salah satu pemicu utama lonjakan kasus
Perbaikan 256 RTLH di Gunungkidul ditargetkan selesai akhir Agustus 2026. Hingga akhir Juli, 101 rumah telah rampung dibangun.
Presiden Prabowo menegaskan Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri nonblok di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
BI menyiapkan GPIPS untuk memperkuat pengendalian inflasi pangan dan menjaga stabilitas harga melalui penguatan produksi serta distribusi.
Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi di Banyumas ditargetkan dimulai Oktober 2026 dan mulai beroperasi pada tahun depan.
KPU Kulonprogo menyiapkan kurikulum demokrasi yang terintegrasi dalam mata pelajaran Pancasila atau PKN di sekolah dan madrasah.