Antisipasi Macet Dampak Jalan Tol: Sleman Siapkan Trans Sembada, Ini Jalurnya
Trans Sembada Sleman disiapkan untuk mengantisipasi kemacetan akibat perubahan mobilitas setelah jalan tol beroperasi.
Cabai rawit - Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN— Pasar Jepang menjadi salah satu tujuan ekspor cabai dari DIY yang terus dibidik pelaku usaha. Injapan Corporation, UMKM yang berbasis di Bantul, telah delapan kali mengirim cabai beku ke Jepang dengan nilai transaksi mendekati Rp1 miliar.
Perusahaan yang memiliki fasilitas produksi di Gunungkidul tersebut mulai melakukan pengiriman secara bertahap sejak Juni 2025. Sejumlah pengiriman dilakukan dengan volume sekitar 8 ton.
Pimpinan Injapan Corporation, Heri Kurnianta, mengatakan pada Juni 2025 pihaknya mengirim 7,9 ton cabai beku. Selanjutnya, sebanyak 8,3 ton dikirim pada April 2026 dan 8 ton pada Agustus 2026.
Secara keseluruhan, delapan kali pengiriman cabai beku tersebut menghasilkan akumulasi transaksi yang mendekati Rp1 miliar. Capaian itu menunjukkan peluang pasar Jepang bagi produk cabai dari DIY masih terbuka.
Injapan Bidik Produk Rempah Lain
Injapan Corporation tidak hanya melihat peluang ekspor cabai beku ke Jepang. Perusahaan tersebut juga mulai menjajaki pengiriman produk lain, yakni kencur, jahe, dan kunyit.
"Kami akan mencoba peluang produk lain yaitu kencur, jahe, dan kunyit. Secara kasar, kami melihat ada kebutuhan dan minat yang tinggi untuk produk-produk tersebut," kata Heri dalam keterangan tertulis.
Potensi pasar cabai di Jepang dinilai masih cukup besar. Dalam Webinar Go Ekspor seri kesembilan yang digelar Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Yogyakarta, kebutuhan cabai dari sekitar 266.000 warga negara Indonesia (WNI) di Jepang diperkirakan mencapai 1.227 ton per tahun.
Besarnya kebutuhan tersebut menjadi peluang bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan pasar produk pertanian ke Jepang. Namun, ekspor ke negara tersebut tetap membutuhkan pemenuhan berbagai persyaratan.
Ekspor Cabai Wajib Penuhi Standar Karantina
Untuk masuk ke pasar Jepang, pelaku usaha harus memenuhi persyaratan karantina dan keamanan pangan yang ketat. Kepatuhan terhadap ketentuan negara tujuan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan akses pasar.
Direktur Tindakan Karantina Tumbuhan Barantin, Abdul Rahman, mengatakan kepatuhan terhadap persyaratan fitosanitari negara tujuan menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan akses pasar ekspor.
Satu ketidaksesuaian, kata dia, dapat menyebabkan komoditas ditahan hingga ditolak oleh negara tujuan. Karena itu, pelaku usaha perlu memahami ketentuan yang berlaku sebelum melakukan pengiriman.
Karantina Jogja telah menyiapkan alur pelayanan ekspor bagi pelaku usaha. Proses tersebut dimulai dari pengajuan pengguna jasa, verifikasi melalui sistem SSM-QC Ekspor dan Best Trust, pemeriksaan dokumen, pemeriksaan fisik dan laboratorium, hingga penerbitan keputusan karantina.
Alur pelayanan tersebut ditujukan untuk membantu pelaku UMKM memahami persyaratan ekspor. Selain itu, layanan tersebut membantu pelaku usaha menavigasi ketentuan dari berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga negara tujuan ekspor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Trans Sembada Sleman disiapkan untuk mengantisipasi kemacetan akibat perubahan mobilitas setelah jalan tol beroperasi.
BMKG menegaskan tangkapan layar akun @infobmkg yang beredar di media sosial merupakan hasil rekayasa dan memicu kesalahpahaman.
Harga masker tertekan setelah erupsi Anak Krakatau. Stok ritel menipis, tetapi kapasitas produksi dalam negeri masih sangat longgar.
Penumpang KA Bandara YIA PSO mencapai 1,23 juta orang hingga Agustus 2026, naik 2,97% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Tim SAR masih mendalami temuan pelampung di wilayah Gunung Anak Krakatau yang diduga berkaitan dengan lima jurnalis hilang kontak.
UMKM Bantul, Injapan Corporation, telah delapan kali mengirim cabai beku ke Jepang dengan akumulasi transaksi mendekati Rp1 miliar.