Gunungkidul Siaga Kekeringan hingga Agustus, BPBD Siapkan 1.500 Tangki
BPBD Gunungkidul menetapkan siaga darurat kekeringan hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 1.500 tangki air disiapkan untuk mengantisipasi krisis air bersih.
Ubur-Ubur - Ilustrasi/StockCake
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pengunjung wisata pantai di Kabupaten Gunungkidul diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kemunculan ubur-ubur yang mulai terlihat di sejumlah titik perairan. Kondisi ini menjadi perhatian serius petugas menjelang puncak libur sekolah yang diperkirakan memicu lonjakan wisatawan di kawasan pesisir.
Fenomena ubur-ubur di wilayah Pantai Selatan Gunungkidul tersebut dinilai berpotensi meningkatkan risiko insiden sengatan, terutama pada wisatawan anak-anak yang kerap tertarik dengan bentuk hewan laut tersebut. Petugas pun meningkatkan kesiapsiagaan di sejumlah titik rawan untuk mengantisipasi kejadian serupa terulang.
Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 Pantai Baron, Marjono, mengatakan ubur-ubur yang oleh warga lokal disebut inpes sudah mulai muncul di kawasan pantai Bumi Handayani. Bahkan, sebelumnya sudah tercatat adanya korban akibat sengatan hewan tersebut.
“Untuk hari ini [Sabtu siang] belum ada. Tapi, kami meminta pengunjung untuk tetap waspada dan berhati-hati,” kata Marjono kepada wartawan, Sabtu (20/6/2026).
Ia menyebutkan, pada Minggu (14/6/2026) lalu terdapat lima pengunjung yang menjadi korban sengatan ubur-ubur di Pantai Sepanjang, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari.
Guna mengantisipasi kejadian serupa, pihaknya telah menyiapkan obat-obatan serta perlengkapan pertolongan pertama di sejumlah pos penjagaan.
Menurut Marjono, ubur-ubur memang kerap terlihat menarik karena bentuk dan warnanya, namun tetap berbahaya apabila tersentuh langsung karena dapat menyebabkan sengatan pada kulit manusia.
Memasuki masa liburan sekolah setelah pembagian rapor, diperkirakan terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawan ke pantai-pantai di Gunungkidul.
“Paling banyak yang menjadi korban merupakan anak-anak,” ujarnya.
Sekretaris Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 Pantai Baron, Surisdiyanto, menambahkan bahwa sengatan ubur-ubur dapat menimbulkan efek seperti rasa panas di area kulit, nyeri, gatal, hingga sesak napas, bahkan dapat menyebabkan pingsan pada kondisi tertentu.
“Jika tersentuh jangan panik, kemudian bilas di area tersengat dengan air biasa atau air laut. Tujuannya agar tentakel dari ubur-ubur bisa terlepas dari area kulit,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kelompok anak-anak menjadi yang paling rentan karena rasa penasaran terhadap bentuk ubur-ubur yang dianggap menarik.
Pihaknya juga telah menyiagakan personel di sejumlah titik pantai untuk memberikan pertolongan pertama apabila terjadi kasus sengatan, termasuk rujukan ke fasilitas kesehatan apabila diperlukan.
Selain ancaman ubur-ubur, petugas juga mengingatkan wisatawan agar tidak beraktivitas di area pantai yang dinilai berbahaya guna mencegah risiko kecelakaan laut selama masa liburan.
“Kami siagakan seluruh personel yang kami miliki untuk pengawasan. Kalau ada pengunjung di area berbahaya, maka langsung kami peringatkan,” kata Suris.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul menetapkan siaga darurat kekeringan hingga 31 Agustus 2026. Sebanyak 1.500 tangki air disiapkan untuk mengantisipasi krisis air bersih.
Seorang nelayan Morotai tewas tersambar petir saat pulang melaut. BNPB mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem di pesisir.
Harganas 2026 akan digelar di Yogyakarta dengan tema “Ayah Wajib Hadir”, menyoroti pentingnya peran ayah dalam keluarga.
Kebakaran Habit Pool and Lounge di Sleman diduga akibat korsleting listrik dengan kerugian ditaksir hingga Rp15 miliar.
Pemkot Surabaya mengoptimalkan Gerakan ABSO dengan 87 titik drop box limbah medis untuk pengelolaan sampah obat dan B3 rumah tangga.
Perumda Sendang Kamulyan Batang menyiapkan proyek air bersih untuk mendukung KITB yang masuk Perpres 106 dengan target operasional 2028.