Penggantian Jembatan Kewek Melaju, Progres Sudah Tembus 13,5 %
Proyek penggantian Jembatan Kewek di Kota Jogja mencapai progres 13,54 persen dan melampaui target. Pembongkaran jembatan lama segera dilakukan.
Sejumlah wisatawan bermain kano di kawasan Pantai Drini di Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, belum lama ini. - Harian Jogja/David Kurniawan\r\n
Harianjogja.com, JOGJA—Perubahan perilaku wisatawan yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir membuka peluang baru bagi industri pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jika sebelumnya wisatawan cenderung datang untuk mengunjungi satu destinasi tertentu, kini pola perjalanan berkembang menjadi lebih dinamis dengan menggabungkan beberapa tujuan wisata dalam satu rangkaian perjalanan.
Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi momentum bagi Yogyakarta untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pariwisata nasional. Selain dikenal sebagai kota budaya, pendidikan, seni, dan kuliner, Yogyakarta juga memiliki akses yang strategis menuju berbagai destinasi unggulan di Pulau Jawa.
Ketua DPD Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY, Trianto Sunarjati, mengatakan minat wisatawan terhadap Yogyakarta masih menunjukkan tren positif. Menurutnya, berbagai keunggulan yang dimiliki DIY menjadikan daerah ini tetap memiliki daya tarik kuat di tengah persaingan destinasi wisata nasional.
Namun, karakter wisatawan saat ini telah mengalami perubahan. Mereka tidak lagi hanya berfokus pada satu lokasi tujuan, melainkan memilih perjalanan yang mencakup beberapa destinasi sekaligus atau dikenal sebagai multi destination trip.
"Setelah berkunjung ke Yogyakarta, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke Borobudur, Solo, Semarang, Karimunjawa, Bromo, Banyuwangi hingga Bali. Pola seperti ini semakin banyak diminati," ujar Trianto, Senin (27/7/2026).
Menurut dia, tren tersebut seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman bagi daerah tujuan wisata. Sebaliknya, pola perjalanan lintas daerah dapat menjadi peluang untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat antarwilayah sehingga manfaat ekonomi yang dihasilkan juga semakin besar.
Dengan kerja sama yang baik, wisatawan berpotensi tinggal lebih lama selama berada di Indonesia. Kondisi itu akan meningkatkan tingkat hunian hotel, aktivitas transportasi, kunjungan ke destinasi wisata, hingga belanja produk lokal yang pada akhirnya berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat.
Trianto menilai tantangan terbesar sektor pariwisata saat ini bukan lagi sekadar menarik wisatawan datang, melainkan menciptakan pengalaman yang mampu meninggalkan kesan mendalam. Wisatawan modern cenderung mencari aktivitas yang autentik, personal, dan berbeda dari pengalaman yang bisa mereka peroleh di tempat lain.
Karena itu, pelaku industri pariwisata di DIY didorong untuk terus berinovasi dalam menghadirkan produk dan layanan baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Pengembangan paket wisata berbasis budaya, kuliner, desa wisata, aktivitas kreatif, hingga wisata kebugaran menjadi beberapa peluang yang dinilai memiliki prospek menjanjikan.
"Fokus kita bukan hanya meningkatkan jumlah wisatawan, tetapi juga kualitas kunjungan. Wisatawan yang tinggal lebih lama, menikmati lebih banyak aktivitas, berbelanja produk lokal, dan memperoleh pengalaman berkesan akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih besar," kata Trianto.
Selain inovasi produk, kualitas tata kelola destinasi juga menjadi faktor penting yang menentukan daya saing pariwisata. Menurut Trianto, pengalaman wisata yang baik tidak hanya ditentukan oleh keindahan destinasi, tetapi juga didukung infrastruktur dan pelayanan yang memadai.
Penataan parkir, kemudahan akses transportasi, pengelolaan lalu lintas wisatawan, hingga kenyamanan ruang publik menjadi aspek yang harus mendapat perhatian bersama. Pertumbuhan sektor pariwisata, kata dia, harus berjalan beriringan dengan kenyamanan masyarakat lokal.
"Pariwisata yang berkualitas harus memberikan manfaat bagi semua pihak. Wisatawan mendapatkan pengalaman terbaik, pelaku usaha memperoleh manfaat ekonomi, dan masyarakat tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan nyaman," ujarnya.
Trianto menambahkan, peluang lain yang juga berkembang adalah meningkatnya minat terhadap wisata kebugaran atau wellness tourism serta sektor Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE). Yogyakarta dinilai memiliki modal yang kuat untuk menangkap peluang tersebut karena didukung kekayaan budaya, alam, kreativitas masyarakat, serta infrastruktur pariwisata yang terus berkembang.
Ia optimistis DIY dapat terus mempertahankan daya tariknya di tengah perubahan tren perjalanan wisata global. Namun, hal itu harus dibarengi dengan inovasi yang berkelanjutan, transformasi digital yang lebih cepat, serta kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat.
"Yang harus kita lakukan adalah memperkuat inovasi, mempercepat transformasi digital, dan terus berkolaborasi agar Yogyakarta selalu relevan dengan kebutuhan wisatawan masa kini maupun masa depan," kata Trianto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Proyek penggantian Jembatan Kewek di Kota Jogja mencapai progres 13,54 persen dan melampaui target. Pembongkaran jembatan lama segera dilakukan.
Xiaomi rilis update keamanan Juli 2026 untuk 58 perangkat. Cek daftar HP yang kebagian update dan segera pasang untuk perlindungan data Anda!
UAD membuka lowongan kerja dosen tetap dan tenaga kependidikan 2026. Tersedia 19 formasi di Fakultas Hukum, Kedokteran, administrasi, dan sistem administrator.
Kraton Yogyakarta mendorong museum bertransformasi menjadi ruang belajar yang interaktif dan inklusif bagi anak-anak melalui penyelenggaraan Gya!Dolan Sesarenga
Media asing seperti Financial Times dan Reuters menyoroti pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Analis menilai langkah ini berpot
Kris Dayanti meraih dua medali emas pada Kejuaraan Nasional Wushu Kungfu 2026. Prestasi di usia 51 tahun ini menjadi inspirasi bahwa semangat berprestasi tidak