Dinkes Kulonprogo Ungkap Risiko Keracunan MBG dari Ayam Barbeque

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Rabu, 19 Agustus 2026 18:57 WIB
Dinkes Kulonprogo Ungkap Risiko Keracunan MBG dari Ayam Barbeque

Foto ilustrasi dapur Makan Bergizi Gratis, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Harianjogja.com, KULONPROGO— Hasil uji laboratorium dan analisis epidemiologi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kulonprogo mengarah pada menu ayam saus barbeque dalam kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami siswa SMP 3 Wates. Menu itu memiliki nilai adjusted odds ratio paling tinggi, yakni 10,47, sehingga siswa yang mengonsumsinya tercatat memiliki risiko keracunan 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan menu lainnya.

Kepala Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih, mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel muntahan dan feses siswa menemukan sejumlah bakteri patogen. Temuan itu menjadi bagian dari penyelidikan untuk mengetahui penyebab gangguan pencernaan yang dialami para penerima MBG.

"Dari sampel muntahan anak-anak ditemukan bakteri Staphylococcus aureus, Enterobacter, Klebsiella pneumoniae, Streptococcus, dan Serratia. Sementara dari sampel feses ditemukan E. coli patogen," ujar Susilaningsih, Rabu (19/8/2026).

Hasil Pemeriksaan Sampel Siswa

Menurut Susilaningsih, jenis bakteri yang ditemukan dalam pemeriksaan tersebut memiliki keterkaitan dengan gejala yang dialami para siswa.

Keluhan yang muncul meliputi nyeri perut, mual, muntah, hingga diare. Dinkes Kulonprogo menyebut karakteristik gejala itu sangat cocok dengan infeksi bakteri Staphylococcus aureus dan E. coli.

Namun, pemeriksaan terhadap sampel makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait menghadapi kendala teknis.

Dinkes Kulonprogo menjelaskan sampel makanan yang disimpan pada tanggal 20 tidak dapat diperiksa karena ukurannya terlalu kecil sehingga tidak memenuhi standar kuantitas yang diperlukan dalam pemeriksaan laboratorium.

Dengan kondisi itu, analisis terhadap keterkaitan makanan dengan kasus gangguan kesehatan tidak hanya mengandalkan pemeriksaan sampel makanan.

Ayam Saus Barbeque Memiliki Risiko Tertinggi

Dinkes Kulonprogo kemudian menggunakan analisis epidemiologi multivariat untuk melihat hubungan antara jenis makanan yang dikonsumsi dengan risiko keracunan.

Hasil penghitungan statistik menunjukkan ayam saus barbeque memiliki nilai adjusted odds ratio paling tinggi dibandingkan menu lainnya.

"Berdasarkan analisis statistik, jenis makanan yang memiliki nilai adjusted odds ratio paling tinggi adalah ayam saus barbeque, yaitu sebesar 10,47. Artinya, siswa yang mengonsumsi menu tersebut memiliki risiko keracunan 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan menu lainnya, dengan p-value kurang dari 0,001 yang menunjukkan hubungan sangat signifikan," tegas Susilaningsih.

Angka tersebut menjadi bagian dari hasil analisis epidemiologi yang digunakan Dinkes Kulonprogo dalam menelusuri hubungan antara menu MBG dan kasus yang terjadi di SMP 3 Wates.

Waktu Pengolahan Ayam Jadi Perhatian

Selain persoalan kontaminasi, Dinkes Kulonprogo menemukan aspek lain yang menjadi perhatian dalam pengelolaan makanan di SPPG, yakni manajemen waktu dan suhu.

Berdasarkan kronologi yang diperoleh dalam penyelidikan, bahan baku ayam mulai dimasak pada pukul 03.00 WIB. Proses memasak berlangsung selama 45 menit.

Namun, distribusi makanan berlangsung hingga kloter terakhir sekitar pukul 09.30 WIB. Pada makanan itu juga tidak dilengkapi label batas aman konsumsi yang maksimal empat jam.

Rangkaian waktu antara proses pengolahan dan distribusi tersebut menjadi bagian dari temuan Dinkes Kulonprogo dalam mengevaluasi pengelolaan makanan MBG.

Dengan hasil pemeriksaan laboratorium dan analisis epidemiologi yang telah diperoleh, Dinkes kemudian menyusun sejumlah rekomendasi untuk mencegah kejadian serupa.

Dinkes Minta Pengelolaan Suhu dan Waktu Diperketat

Rekomendasi pertama berkaitan dengan manajemen suhu dan waktu pengolahan makanan.

Dinkes meminta jeda antara proses memasak dan pemorsian diperpendek. Penyimpanan makanan matang pada suhu ruang juga diminta tidak berlangsung lebih dari dua jam.

Selain itu, pengelola SPPG diminta menyediakan sarana pendingin cepat untuk makanan matang yang belum segera didistribusikan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari rekomendasi yang disampaikan Dinkes Kulonprogo kepada Satgas MBG Kulonprogo dan pengelola SPPG.

Penjamah Makanan Diminta Jalani Pemeriksaan Berkala

Dinkes juga menyoroti aspek kesehatan para penjamah makanan yang terlibat dalam proses pengolahan menu MBG.

Pemeriksaan kesehatan secara berkala direkomendasikan untuk mencegah kontaminasi Staphylococcus. Penggunaan alat pelindung diri atau APD serta kebiasaan mencuci tangan juga diwajibkan.

Rekomendasi itu menjadi bagian dari langkah pengendalian risiko kontaminasi pada proses penyiapan makanan.

"Manajemen suhu dan waktu dengan memperpendek jeda antara proses memasak dan pemorsian, serta melarang penyimpanan di suhu ruang lebih dari 2 jam. Menyediakan sarana pendingin cepat untuk makanan matang yang belum segera didistribusikan. Mengajukan pemeriksaan kesehatan berkala bagi penjamah makanan untuk mencegah kontaminasi Staphylococcus, serta mewajibkan penggunaan APD dan cuci tangan. Mewajibkan penerapan sistem HACCP, penempelan label batas waktu konsumsi, dan penyediaan bank sampel makanan yang memadai di setiap kloter," jelas Susilaningsih.

Sistem HACCP dan Bank Sampel Jadi Rekomendasi

Selain pengawasan terhadap suhu, waktu, dan kesehatan penjamah makanan, Dinkes Kulonprogo merekomendasikan penerapan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point atau HACCP.

Sistem tersebut masuk dalam rekomendasi yang disampaikan kepada pengelola SPPG bersama kewajiban menempelkan label batas waktu konsumsi.

Dinkes juga meminta penyediaan bank sampel makanan yang memadai pada setiap kloter. Langkah tersebut menjadi bagian dari rekomendasi setelah pemeriksaan sampel makanan pada kasus ini menghadapi kendala karena jumlah sampel yang tersedia terlalu kecil untuk memenuhi standar pemeriksaan.

Hasil investigasi terbaru itu sekaligus melengkapi penyelidikan Dinkes Kulonprogo terhadap kasus gangguan kesehatan setelah konsumsi MBG di wilayah tersebut. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel tubuh, analisis epidemiologi, serta evaluasi proses pengolahan menjadi dasar penyampaian rekomendasi kepada Satgas MBG Kulonprogo dan pengelola SPPG.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online