Ubur-Ubur Menghilang dari Pantai Gunungkidul, Wisatawan Tetap Waspada
Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 Pantai Baron memastikan ancaman ubur-ubur menghilang di kawasan pantai, tapi pengunjung diminta waspada potensi laka laut.
Pedagang kebutuhan pokok di Pasar Argosari Gunungkidul. (JIBI/Harian Jogja/David Kurniawan)
PSKS cair, pedagang di Gunungkidul ikut senang
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Pencairan Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS) yang mulai dicairkan secara serempak dua pekan lalu memberikan dampak positif terhadap aktivitas jual beli di sejumlah pasar di Gunungkidul.
Para pedangang mengaku mendapatkan tambahan penghasilan, usai warga mengambil bantuan pemerintah Rp600.000.
Peningkatan pendapatan itu, salah satunya dirasakan Lastri, pedagang kelontong di Pasar Argosari, Wonosari. Menurut dia, sejak satu pekan lalu, jumlah pembeli terus meningkat, barang yang dibeli pun ikut bertambah.
“Kalau hari biasa, tiap harinya bisa mengantongi Rp4 juta. Tapi hingga siang ini [kemarin] saya sudah mendapatkan Rp6 juta,” kata Lastri, Sabtu (25/4/2015).
Dia menjelaskan, pembeli yang datang memborong sembako, mulai dari beras, minyak, gula pasir hingga telor. Meski mengalami permintaan, hal tersebut tidak berpengaruh terhadap harga-harga di pasaran. “Masih tetap sama, dan harganya tetap normal,” ungkap wanita berkerudung itu.
Hal senada juga dirasakan Laila, pedangang lain di Pasar Argosari. Menurut dia, peningkatan kunjungan didominasi oleh orang yang telah lanjut. Saat membeli, mereka juga banyak membawa uang pencahan Rp100.000.
“Sepertinya mereka abis mengambil bantuan. Yang mendapat bantuan mayoritas kan orang yang sudah tua,” ujar wanita yang akrab disapa Ila itu.
Dia menjelaskan, biasanya usai mengambil bantuan, warga langsung berbondong-bondong ke pasar. Uang yang dimiliki dipergunakan untuk membeli beberapa kebutuhan pokok.
“Kalau pendapatan, itu rahasia. Tapi kalau dilihat dari jumlah barang yang dibeli meningkat, misalnya kalau di hari biasa hanya membeli beras lima kilo, kemarin ada yang membeli satu sak,” papar Ila.
Kondisi yang sama juga dirasakan sejumlah pedagang di Pasar Candirejo, Kecamatan Semin. Salah satunya dirasakan, Sudarti pedagang kelontong di pasar tersebut.
Sejak pencairan PSKS pendapatannya mengalami peningkatan. Dia mencontohkan, dalam sekali berjualan bisa meraup uang Rp3 juta, padahal di hari-hari biasa hanya mendapatkan separuhnya. “Ada peningkatan, saat membeli warga juga menggunakan uang pecahan besar,” kata Sudarti.
Menurut dia, kondisi seperti ini sudah terjadi sejak era Presiden SBY. Saat pencairan bantuan dilakukan, maka aktivitas di pasar juga ketiban berkah. “Bisa saya tebak, baik saat PSKS atau Bantuan Langsung Tunai diberikan, warga banyak yang membelanjakannya ke pasar,” ungkapnya.
Dia mengatakan, kondisi ini tidak akan berlangsung lama. Saat uang habis, atau pencairan selesai, maka kondisi pasar akan kembali normal seperti sedia kala. “Hanya berlangsung beberapa hari saja, sesudahnya akan kembali normal lagi,” ungkap Sudarti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah 2 Pantai Baron memastikan ancaman ubur-ubur menghilang di kawasan pantai, tapi pengunjung diminta waspada potensi laka laut.
Empat wisatawan terseret ombak Pantai Jungwok Gunungkidul saat hendak berfoto. Seorang wisatawan asal Solo meninggal dunia.
Kemenhub mendirikan posko darurat di Pelabuhan Trisakti untuk menangani insiden Kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak di Masalembo.
DPRD DIY mendorong penanganan kekeringan melibatkan seluruh OPD, tidak hanya BPBD, dengan dukungan koordinasi dan anggaran memadai.
Debit Sungai Tinalah Kulonprogo surut saat kemarau. Kondisi ini membuat wisata keceh diminati, tetapi wisatawan diminta tetap waspada.
Kejagung mengungkap Ferry Boboho mengembalikan Rp5 miliar pada Agustus 2026. Uang itu bagian dari Rp40 miliar Tan Kian.