Gunungkidul Galakkan Budidaya Tamanan Bambu

David Kurniawan
David Kurniawan Sabtu, 23 Januari 2016 00:20 WIB
Gunungkidul Galakkan Budidaya Tamanan Bambu

Gunungkidul menggalakkan budidaya tanaman bambu

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Pemerintah Kabupaten Gunungkidul terus menggalakkan budidaya tanaman bambu. Kebijakan itu diambil guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri kerajinan  yang selama ini masih banyak dipasok dari luar daerah.

Setiap tahunnya pemkab menargetkan minimal sepuluh lahan kritis yang ada ditanami bambu.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Gunungkidul Bambang Wisnu Broto mengatakan, hingga sekarang tanaman bambu yang ada sekitar 130 hekatare. Jumlah ini masih jauh dari potensi yang dimiliki, karena dari data yang ada potensi yang dimiliki mencapai 5.500 hektare.

“Area luasnya masih sangat kecil, tapi untuk pengembangan akan dilakukan secara bertahap. Beruntungnya saat ini sudah banyak masyarakat yang sadar untuk melakukan penanaman secara swadaya,” kata Bambang kepada Harian Jogja, Kamis (21/1/2016).

Menurut dia, banyak manfaat yang didapatkan dengan adanya pengembangan tanaman bambu. Selain untuk mengatasi lahan kritis sehingga bisa mengurangi potensi longsor ataupun banjir, budidaya ini juga untuk memenuhi bahan baku industri kerajinan tangan berbahan dasar anyaman.

Budidaya ini, kata Bambang, disebar secara merata di seluruh kecamatan. Pengembangan yang dilakukan sejak 2011 lalu itu, sudah mulai membuahkan hasil. Hal itu terlihat dari pengembangan di Kecamatan Purwosari, di mana sebuah gunung ditanami bambu sudah mulai dipanen. Hanya saja, sambungnya, masih ada kendala belum adanya kecocokan harga antara pemilik tanaman dengan pengusaha.

“Sebenarnya ini bukan masalah, karena warga di sana akan membentuk kelompok pengrajin. Kalau itu bisa dilakukan, maka dari budidaya itu bisa memberikan nilai ekonomis yang lebih,” ujarnya.

Bambang mengakui selama ini, pasokan bahan baku bambu dipenuhi dari luar daerah seperti Madiun, Boyolali, Klaten dan Magelang. Kondisi ini berdampak terhadap pasokan kerajinan di Gunungkidul, dari permintaan kerajinan bambu ke luar negeri mencapai 2.000 kontainer, perajin baru bisa memasok sebanyak 730 kontainer saja.

“Prospeknya sangat bagus, apalagi kalau bisa dipenuhi dari wilayah sendiri pasti untungnya akan lebih tinggi lagi. Bagaimana tidak, untuk mencukupi kebutuhan bambu wulung satu truk, pengusaha harus merogoh kocek hingga Rp20 juta,” ujarnya.

Sementara itu, Camat Patuk Haryo Ambar Suwardi mengungkapkan pihaknya terus mengupayakan warga untuk menananm bambu. Sebagai contohnya, pada Kamis kemarin, pihak kecamatan menggandeng pihak ketiga untuk melakukan penanaman bambu di lokasi wisata Gunung Ireng, Desa Pengkok, Patuk.

“Masyarakat akan kita dorong untuk melakukan budidaya sendiri, apalagi di sini tanaman itu populasinya sudah jauh berkurang,” kata Ambar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online