Kepyakan Gotong Royong Digalakkan, Tradisi Sambatan Rewang Dipelihara
Kepyakan gotong royong terus digalakkan di Gunungkidul. Tradisi sambatan, rewang, nyumbang hingga layatan tetap dijaga sebagai budaya warga.
Ilustrasi minuman keras (miras). (JIBI/Solopos/Antara/Yusuf Nugroho)
Miras Gunungkidul yang memakan nyawa masih dalam pemeriksaan.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Jajaran petugas Polsek Ngawen terus melakukan penyelidikan terkait dengan kasus minuman keras maut yang terjadi di Dusun Sedangrejo, Tancep, Ngawen.
Kepala Polsek Ngawen AKP Tri Wibowo menegaskan pihaknya serius untuk mengungkap miras oplosan maut ini. Salah satu upaya yang dilakukan dengan jalan menelusuri asal usul barang haram tersebut. Bahkan, kata dia, petugas juga sudah menemukan dan memeriksa terhadap penjual miras yang berasal dari wilayah Cawas.
(Baca Juga :http://www.solopos.com/2016/10/24/miras-gunungkidul-miras-habis-diminum-korban-polisi-belum-bisa-pastikan-jenis-oplosan-763247"> MIRAS GUNUNGKIDUL : Miras Habis Diminum Korban, Polisi Belum Bisa Pastikan Jenis Oplosan)
“Penjualnya bernama Lasimin,” kata Tri Wibowo saat dihubungi, Selasa (25/10/2016).
Menurut dia, meski sudah dilakukan pemeriksaan terhadap penjual, tidak serta merta langsung menetapkan tersangka. Pasalnya dalam pemeriksaan yang dilakukan petugas, ditemukan fakta jika yang dijual Lasimin bukan miras oplosan dan hanya menjual minuman beralkohol tanpa campuran seperti ciu, anggur merah, anggur putih atau vodka.
Kapolsek pun menduga, miras maut yang ditenggak Melani dan kawan-kawan merupakan hasil oplosan sendiri. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya variasi minuman yang disita untuk barang bukti. Namun demikian, untuk memastikan jenis minuman yang dioplos, dia mengaku kesulitan menemukan bahan campuran, karena barang bukti telah habis dan menyisakan botol saja.
“Yang kita temukan tinggal botolnya saja. di TKP kita temukan aneka botol seperti ciu, minuman berenergi, anggur merah hingga minuman berasa jeruk,” ungkapnya.
Kesulitan lainnya, sambung Tri Wibowo, untuk melakukan autopsi sulit dilakukan. Pasalnya pihak keluarga korban, khususnya Handoko telah ikhlas dengan kejadian tersebut. Sementara untuk jasad Melani juga sudah dibawa pulang ke Bandung dan dikuburkan di sana.
“Apa pun itu, kami akan berusaha mengungkap kasus ini, terutama terkait dengan penyebab kematian korban sehingga kejadian miras maut bisa menjadi pelajaran bersama,” tegas dia.
Sementara itu, Camat Ngawen Barji mengaku prihatin dengan kasus miras maut yang terjadi di Tancep. Harapannya kejadian tersebut bisa menjadi perhatian bersama sehingga kasus serupa tidak terulang lagi.
“Untuk itu kita harus bersama-sama melakukan pencegahan,” katanya.
Untuk diketahui, pada Sabtu lalu ada pesta miras yang dilakukan oleh pasangan Saniyo-Melani Setyani yang diikuti oleh Handoko, Mbah Bancak dan Adriyanto. Dari pesta ini, Melani dan Handoko tewas diduga akibat menenggak minuman keras oplosan, sedang untuk Saniyo dan Mbah Bancak terpaksa dirawat di rumah sakit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kepyakan gotong royong terus digalakkan di Gunungkidul. Tradisi sambatan, rewang, nyumbang hingga layatan tetap dijaga sebagai budaya warga.
Pemkab Sleman menggandeng BSI untuk memperluas pembayaran pajak digital guna mengejar target penerimaan pajak daerah Rp1,3 triliun.
BI Rate naik menjadi 5,5%. APPI menilai dampak terbesar akan dirasakan nasabah baru yang mengajukan kredit karena bunga berpotensi meningkat.
BKPSDM Kota Jogja mengingatkan ASN yang live media sosial untuk kepentingan pribadi saat jam kerja berpotensi melanggar disiplin dan terkena sanksi.
Sebanyak 200 guru DIY mengikuti pelatihan AI dari Microsoft Elevate untuk mendukung pembelajaran, penilaian siswa, dan efisiensi administrasi.
Harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp75.700 per kg, sementara telur ayam ras Rp30.200 per kg menurut data terbaru PIHPS Bank Indonesia.