Investasi di Gunungkidul Serap 10.738 Orang Tenaga Kerja
Investasi di Gunungkidul semester pertama 2026 mencapai Rp487,6 miliar dan menyerap 10.738 tenaga kerja, didominasi PMDN dan PMA.
Pembangunan Jembatan Bonjing bikin iri.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Banjir bandang yang terjadi di Gunungkidul akhir November 2017 lalu masih menyimpan masalah. Pasalnya hingga sekarang, sejumlah jembatan yang ada di sepanjang aliran Sungai Oya belum juga diperbaiki.
Tercatat dari sejumlah kerusakan, baru Jembatan Bonjing di Dusun Gelaran I, Bejiharjo yang telah selesai diperbaiki. Sementara itu, jembatan lain seperti Klayar di Dusun Klayar, Kedungpoh; Jembatan Mojorejo, Katongan, Nglipar hingga Jembatan Jelok, Desa Beji, Patuk belum ada tanda-tanda diperbaiki.
Kondisi jembatan pun masih sama seperti sewaktu putus pada tiga bulan yang lalu. Sebagai contoh dapat dilihat di Jembatan Mojorejo, Desa Katongan. Badan jembatan yang putus karena terseret banjir masih dibiarkan berserakan di aliran Sungai Oya. Hal yang tak jauh berbeda juga terlihat di Jembatan Klayar. Meski kerusakannya tidak separah dengan yang terjadi di Jembatan Mojorejo dan masih bisa dilalui.
Namun beberapa kerusakan seperti besi pengaman jembatan yang ringsek atau aspal di sekitar yang terkelupas masih dibiarkan sehingga mengganggu kelancaran warga saat beraktivitas.
Salah seorang warga Dusun Jeruklegi, Katongan, Nglipar, Ari Sudarsono berharap agar kerusakan di Jembatan Mojorejo bisa diperbaiki. Terlebih lagi kondisi kerusakan sudah terjadi sejak tiga bulan lalu. Selain itu, saat ini memasuki masa panen sehingga menggangu aktivitas warga untuk mengangkut hasil pertanian yang dimiliki.
“Jembatan Mojorejo merupakan akses utama bagi warga. Jadi kalau rusak maka warga harus memutar sehingga dibutuhkan tambahan biaya saat akan mengangkut hasil panen yang dimiliki,” kata Ari kepada Harianjogja.com, Kamis (22/2/2018).
Menurut dia, perbaikan jembatan harus segera dilakukan sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal. Ia pun menilai, proses pembangunan bisa seperti yang dilakukan di Jembatan Bonjing yang sudah selesai dibangun sejak akhir Januari lalu. “Rusaknya bareng karena terjangan banjir Sungai Oya, tapi di sana [Jembatan Bonjing] sudah selesai terlebih dahulu,” ungkapnya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Sukri, salah seorang warga Dusun Jelok, Beji, Patuk. Menurut dia, putusnya Jembatan Jelok sangat berpengaruh terhadap aktivitas warga. Untuk mengatasi hal ini, warga pun menyediakan kapal sebagai media penyeberangan. “Menyeberang menggungakan kapal merupakan sarana paling cepat karena kalau memutar lewat jalur darat jarak tempuhnya bisa mencapai sepuluh kilometer,” kata Sukri.
Dia pun berharap pemerintah segera mewujudkan program pembangunan jembatan sehingga akvitias warga dapat kembali normal. “Saya dapat informasi kalau tim dari PU sudah melakukan pengukuran. Mudah-mudahan bisa ditindaklanjuti dengan pembangunan jembatan. Harapan kami tidak muluk-muluk, minimal jembatan yang dibangun sama seperti sebelum diterjang banjir,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Investasi di Gunungkidul semester pertama 2026 mencapai Rp487,6 miliar dan menyerap 10.738 tenaga kerja, didominasi PMDN dan PMA.
Daihatsu menghadirkan beragam solusi mobilitas berkelanjutan pada ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi 0,14% pada Juli 2026. Inflasi tahunan tercatat 2,88% dan inflasi tahun kalender mencapai 1,65%.
Gunung Semeru mengalami lima kali erupsi pada Senin pagi dengan tinggi letusan hingga 700 meter. Status gunung masih Level III atau Siaga.
Donald Trump menyebut perundingan AS dan Iran dimulai Senin. Pembahasan mencakup Selat Hormuz dan program nuklir Teheran.
AS dan Jepang berkolaborasi mengintervensi pasar valuta asing untuk menghentikan pelemahan yen yang sempat menyentuh level terendah dalam 40 tahun.