Warga Perbatasan DIY-Jateng Ikuti Kirab di Petilasan Kyai Ajar Ragil

Beny Prasetya
Beny Prasetya Rabu, 02 Mei 2018 12:17 WIB
Warga Perbatasan DIY-Jateng Ikuti Kirab di Petilasan Kyai Ajar Ragil

Warga Perbatasan DIY Jateng sekitar Desa Wisata Tritis, Ngargorejo melakukan doa bersama di Petilasan Kyai Ajar Ragil, Selasa (1/5/2018). /Harian Jogja-Beny Prasetya

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Warga perbatasan DIY dan Jawa Tengah melakukan kirab budaya di Kawasan Desa Wisata Tritis, Ngargorejo, Samigaluh Kulonprogo, Selasa (1/5/2018). Ratusan warga gabungan tersebut melakukan kirab dengan menyusuri jalan desa dan berdoa di petilasan Kyai Ajar Ragil.

Kirab yang dimulai dengan berdoa bersama di Puncak Widosari, ratusan warga berlanjut ke petilasan Kyai Ajar Ragil yang ditetuakan oleh warga setempat. Di tempat itu juga warga DIY dan  Jawa Tengah yang menonton mengikuti prosesi rayahan gunungan.

Ketua Panitia Kirab Budaya, Warih Triyanto, mengaku bersatunya warga Magelang, Jawa Tengah dan Kulonprogo dalam perayaan itu karena warga kedua provinsi itu telah terbiasa berinteraksi bersama. Kendati berbeda wilayah administrasi kedua belah warga itu bisa bergabung dalam perayaannya.

"Ada puluhan warga dari Desa Ngargoretno, Magelang, dan kami rukun walau dipimpin dua kepala yang berbeda," katanya.

Warih mengungkapkan tujuan utama kirab yang dilakukan tiap Bulan Syaban tahun Hijriah itu untuk merawat warisan budaya dan adat istiadat yang ada di wilayah tersebut. Selain itu acara tersebut juga dilakukan agar agenda pariwisata di Desa Wisata Tritis lebih banyak.

"Acara Nyadran, Merti Dusun digunakan warga untuk menjaga alam bersama warisan budaya dan adat yang ada," katanya.

Gunungan berupa gunungan hasil bumi dan gunungan ubo rampe yang berisi ayam ingkung bersama nasi berkah itu, Warih katakan untuk sebagai perlambang limpahan rezeki Tuhan kepada warga desa Tritis. Alhasil di akhir acara dua gunungan itu dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk limpahan rezeki.

Salah seorang penonton yang ikut melakukan prosesi rayahan Lailatul Hidayah, 19, mengaku baru pertama kali mengikuti prosesi tersebut. Dirinya mengaku tertarik mengikuti prosesi rayahan karena mengamini akan mendapatkan berkah berlimpah ketika mampu mendapatkan hasil bumi itu.

"Dapat terong, kubis, kacang, nanti bakal di masak bersama keluarga, semoga mendapatkan berkah," ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online