Produksi Ikan Turun Drastis, Nelayan Gunungkidul Pilih Tangkap Benur
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Sainah membantu melayani pembeli bakso tusuk di warungnya di Jalan Imogiri-Panggang, Dusun Miri, Kebonagung, Imogiri, Bantul, Senin (25/6/2018)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, JOGJA—Sainah sempat tercatat sebagai penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dan sangat miskin. Namun berkat kegigihan, pedagang bakso tusuk asal Dusun Miri, Kebonagung, Imogiri, Bantul ini bisa mengubah kehidupan hingga 180 derajat. Dia bisa mandiri dan bermanfaat bagi orang banyak. Berikut laporan wartawan Harian Jogja David Kurniawan.
Sainah, ibu tiga anak, pernah merasakan sukarnya mencari uang. Awal 2008, di tengah-tengah kewajiban merawat buah hati, ia dan suaminya harus banting tulang.
Namun, hasil berjualan tempura ditambah pengahasilan suami sebagai buruh bangunan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Dulu satu pekan bisa dapat Rp100.000 sudah beruntung,” kata Sainah kepada Harian Jogja, Senin (25/6/2018).
Saking sulitnya mendapatkan uang, Sainah masuk dalam keluarga penerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial pada 2009 lalu. Proses mendapatkan bantuan tidak mudah karena ia harus berusaha sendiri mengumpulkan beras untuk kemudian diverifikasi oleh petugas PKH di kecamatan. “Kalau sekarang enak, tinggal ditunjuk dari Pemerintah Pusat bisa langsung dapat. Dulu, calon penerima harus membuat permohonan dan melengkapi berkas sendiri-sendiri,” kata dia.
Ide mengajukan bantuan ke pemerintah muncul saat ia bejualan tempura keliling dan melihat perkumpulan anggota PKH yang rutin digelar setiap sebulan sekali. Sainah pun memberanikan diri bertanya apakah bisa mendapatkan bantuan tersebut. “Pendamping bilang bisa, tetapi saya harus memenuhi beberapa persyaratan seperti memiliki anak usia sekolah dan berasal dari keluarga kurang mampu,” kata dia.
Sekitar satu bulan setelah mengumpulkan berkas, Sainah mendapatkan kabar gembira. Permohonan yang diajukan diterima sehingga dia berhak mendapatkan bantuan PKH. “Saya ingat dulu untuk dua anak, dana PKH yang diberikan Rp500.000 dan bantuan berhenti sejak 2014 lalu setelah saya sukses berjualan bakso tusuk. Saya putuskan tidak menerima bantuan agar bisa dialokasikan ke keluarga yang lain,” katanya.
Modal Nekat
Sainah mulai berjualan bakso sejak mengetahui heboh bakso bakar di Alun-Alun Selatan, Kota Jogja. Pendamping PKH kala itu menawari program pinjaman Kelompok Usaha Bersama (Kube) PKH dengan plafon Rp1 juta-Rp5 juta. Peluang ini pun ditangkap Sainah untuk membuka usaha dengan meminjam uang Rp1 juta. Pinjaman ini digunakan untuk uang muka membeli lemari pendingin sebesar Rp500.000. Duit Rp40.000 dipakai untuk membeli daging dan sisanya ditabung.
Meski ide dan modal untuk berusaha sudah didapatkan, ada kendala yang dia hadapi. Sainah kesulitan membuat bakso tusuk. Pengalamannya hanya berjualan tempura dan menjadi pencari rongsokan.
Dia mendatangi penggilingan daging, bertanya ke pedagang bakso tentang cara membuat bakso. “Tidak semua mau ditanyai, tapi setelah saya tanya ke banyak orang ada yang mau kasih resep. Inti dari membuat bakso tusuk harus diperbanyak dagingnya. Sebab kalau lebih banyak tepung, rasanya kurang enak,” tuturnya.
Berbekal saran ini, Sainah pun memulai usaha. Bakso yang dibuat hanya satu kilogram dan tidak langsung habis karena dijual selama tiga hari.
“Saya harus putar otak dan akhirnya menemukan ide promosi. Setiap orang saya minta memakan satu tusuk secara gratis. Alhamdulillah cara ini ampuh dan banyak pembeli yang berminat pada bakso tusuk yang saya buat,” kata dia.
Untung yang dia kantongi dari berjualan bakso tusuk lumayan besar. Dari modal Rp40.000, Sainah mendapat Rp80.000. Keuntungan berjualan terus ia kumpulkan untuk modal pengembangan usaha. “Selama enam bulan, uang yang saya peroleh terus saya kumpulkan untuk modal, saya tidak mengambil sepeser pun untuk lainnya. Baru setelahnya, saya ambil uang dari keuntungan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.”
Setelah usaha mulai mapan dan rezeki mulai mengalir, Sainah pun mengubah cara berjualan. Ia tidak lagi berjualan keliling, tetapi memanfaatkan rumahnya di tepi jalan Imogiri-Panggang sebagai warung. Pendapatan meningkat pesat. “Kalau di awal satu kilogram untuk tiga hari, sekarang sehari bisa membutuhkan satu kuintal daging ayam dan sapi untuk bahan membuat bakso tusuk,” ucap dia.
Berkat usaha bakso tusuk ini, rumahnya tidak pernah sepi. Sepeda motor banyak diparkir di depan warung dan pembeli silih berganti datang untuk membungkus atau makan bakso tusuk buatan Sainah. Dalam sehari penghasilannya Rp6 juta-Rp7 juta. Bahkan saat Lebaran, dalam sehari Sainah bisa mendapatkan Rp10 juta. “Sampai sekarang sudah memiliki enam cabang dan karyawan 24 orang,” kata dia.
Kesuksesan berjualan bakso tusuk tidak hanya mengubah kehidupan Sainah. Beberapa waktu lalu, ia juga mendapatkan penghargaan dari Menteri Sosial Idrus Marham karena sukses memanfaatkan program PKH untuk mengentaskan kemiskinan. “Saya sangat senang, apalagi bisa bertemu dengan menteri.”
Suami Sainah, Teguh Prasetyo, mengatakan kesuksesan berjualan bakso tusuk tidak diperoleh dengan instan. Keluarganya akan terus menjaga kualitas rasa sehingga pelanggan tidak pindah ke pedagang yang lain. “Yang jualan seperti kami banyak. Jadi, kami harus jaga kualitas,” katanya.
Selain rasa, yang harus dijaga adalah sambal untuk cocolan bakso tusuk.
“Kepedasan sambal akan terus kami pertahankan. Kami pakai mesin cetak untuk produksi bakso tusuk sehingga bisa langsung cetak, kukus dan goreng kemudian sajikan. Tidak ada bakso tusuk yang masuk ke lemari pendingin,” ujar Teguh.
Nasib seseorang tidak ada yang pernah tahu. Namun, manusia harus tetap berusaha agar mendapatkan hidup yang layak. Prinsip ini yang terus dipegang Sainah.
“Tanpa usaha dan doa, kehidupan saya tidak akan seenak sekarang,” ucap Sainah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hasil tangkapan ikan di Gunungkidul turun drastis hingga 47% pada 2025. Cuaca ekstrem dan peralihan nelayan ke benur jadi penyebab utama.
Jadwal SIM keliling Gunungkidul Mei 2026 lengkap dengan SIMMADE, SIMPITU, SIM Station, dan layanan malam. Cek lokasi dan syarat perpanjangan SIM.
Ratu Oceania Raya menggelar kegiatan Disney Day 2026 sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mendukung pengembangan sumber daya manusia Indonesia
Jadwal SIM keliling Bantul Mei 2026 lengkap lokasi, jam layanan, syarat perpanjangan SIM A dan C, serta tips hindari antrean.
Rute Trans Jogja 2026 lengkap dengan tarif terbaru dan sistem pembayaran digital. Praktis, murah, dan terhubung ke seluruh Jogja.
Jadwal pemadaman listrik Jogja 16 Mei 2026 di Sleman, Kota Jogja, dan Gunungkidul. Cek lokasi terdampak dan tips antisipasi.