Fenomena Cahaya Surga Gua Jomblang Gunungkidul Memikat Turis Mancanegara
Gua Jomblang Gunungkidul menarik wisatawan mancanegara. Sekitar 95% pengunjung datang dari luar negeri untuk melihat cahaya surga.
Kapal-kapal milik nelayan di Pantai Baru diamankan saat terjadi gelombang tinggi beberapa waktu lalu. /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL - Nelayan di Pantai Samas, Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul masih belum berani melaut. Mereka pun sudah menghentikan aktivitas melaut sejak Mei lalu.
Salah seorang nelayan di Pantai Samas, Mugari mengatakan, kondisi gelombang di pantai selatan sudah mulai membaik. Namun demikian, hal tersebut belum menjadi jaminan karena banyak nelayan yang belum berani kembali beraktivitas di laut untuk menangkap ikan.
Menurut dia, untuk sekarang ikan sulit didapatkan. Jika ingin mendapatkan hasil yang lebih, nelayan harus melaut di malam hari. Namun permasalahannya, kata Mugari, pada saat malam angin berembus sangat kencang sehingga tidak memungkinkan untuk menangkap ikan.
"Kalau siang sebenarnya cuaca baik, tapi ikannya sulit didapatkan sehingga nelayan lebih memilih menghentikan aktivitas penangkapan," kata Mugari, Kamis (23/8/2018).
Dia menjelaskan, nelayan berhenti menangkap ikan di laut sejak Mei lalu. Hal ini terjadi karena faktor alam yang membuat usaha penangkapan tidak maksimal. Sebagai gantinya, kata Mugari, nelayan beralih menjadi petani atau mengganti tangkapan ikan dengan mencari kepiting di muara sungai.
"Jadi meski berhenti melaut, tapi kami tetap mendapatkan penghasilan meski tidak sebanyak seperti menangkap ikan di laut," tuturnya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan Tatang, nelayan lain di pesisir Selatan Bantul. Menurut dia, kondisi paceklik ikan merupakan hal biasa dan terjadi setiap tahun. Biasanya musim paceklik ini terjadi pada rentang waktu Mei sampai September. "Di bulan-bulan ini banyak nelayan yang menghentikan aktivitas melaut karena ombak yang relatif tinggi," ungkapnya.
Tatang menuturkan, meski tidak melaut, nelayan tetap beraktivitas. Salah satunya dengan mengubah cara penangkapan. Jika di waktu normal, nelayan mencari ikan di laut, maka pencarian menggunakan jarit eret yang dipasang di pinggir pantai. "Ini jadi solusi karena nelayan tetap bisa memeperoleh hasil," katanya.
Menurut dia, pemasangan jaring eret hanya solusi jangka pendek. Hal ini terjadi karena hasil yang didapatkan tidak sebanyak seperti saat menangkap ikan di laut.
"Perbandingannya satu bading sepuluh. Jika di laut bisa memperoleh 100 kilogram, dengan jaring eret nelayan hanya bisa menangkap sebanyak sepuluh kilo," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gua Jomblang Gunungkidul menarik wisatawan mancanegara. Sekitar 95% pengunjung datang dari luar negeri untuk melihat cahaya surga.
UMP DIY 2026 sebesar Rp2,4 juta, sedangkan KHL mencapai Rp4,6 juta. UU Pelindungan Ketenagakerjaan membuka opsi penyesuaian upah.
Gunung Karangetang di Sulawesi Utara erupsi pada 7 November 2026. Kolom abu mencapai 1.000 meter, sementara guguran lava mengarah ke sejumlah sungai.
Kemnaker menjelaskan syarat penerima BSU 2026 senilai Rp900.000, mulai dari batas gaji hingga status kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Kapolda DIY menegaskan tidak ada anggota Jaga Warga saat kericuhan unjuk rasa 28 Oktober 2026 di kawasan Malioboro.
Polda Jateng memastikan benda logam berdiameter 4,5 milimeter di tubuh bocah Kendal bukan peluru senjata api.