Ini yang Bikin Petani Tembakau Kalasan Khawatir Hasil Panen Tak Bisa Maksimal

Fahmi Ahmad Burhan
Fahmi Ahmad Burhan Senin, 10 September 2018 19:17 WIB
Ini yang Bikin Petani Tembakau Kalasan Khawatir Hasil Panen Tak Bisa Maksimal

Lahan tembakau milik Suparjo, di Dusun Bulungasem, Desa Selomartani, Kalasan, Minggu (9/9/2018)./Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan

Harianjogja.com, SLEMAN-Sejumlah petani tembakau di Kecamatan Kalasan yang mulai menanam pada Juli, mulai khawatir hasil panen tak maksimal. Saat ini tanaman yang baru ditanam diserang suhu dingin, sehingga kualitas tembakau tidak baik.

Patani tembakau di Dusun Bulungasem, Desa Selomartani, Kecamatan Kalasan, Suparjo, mengatakan kualitas tembakau yang ia tanam di lahan seluas satu hektare kualitasnya menurun drastis. "Pekan kemarin sempat terkena dampak suhu dingin, sehingga kualitas tanaman turun," ujar Suparjo saat ditemui Minggu (9/9/2018).

Suparjo mengatakan gangguan cuaca bakal berpengaruh pada masa panen. "Kami memperkirakan pada Oktober mendatang belum bisa panen," ucapnya. Ia mulai menanam tembakau pada Juli. Menurutnya, idealnya dalam menanam tembakau pada Mei dan Juni.

Petani yang menanam tembakau di Kalasan mengalami penurunan jumlah dibanding tahun lalu. Menurut Suparjo, diperkirakan hanya 15% petani yang berani menanam tembakau di Kalasan tahun ini dibanding tahun lalu. "Tahun lalu hasil panen jelek, sehingga banyak petani yang memilih menanam jenis tanaman lain," ujar Suparjo.

Ia mengatakan pada Senin (10/9), Dinas Pertanian Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman bakal menggelar pelatihan penanaman tembakau di Kalasan. Hal ini dilakukan dengan melihat jumlah tanaman tembakau di Kalasan yang terus menurun. Pelatihan yang digelar bakal menekankan agar petani menanam tembakau tepat waktu.

Suparjo membandingkan tanaman tembakau yang dia tanam pada Juli dengan tembakau yang dia tanam pada Juni. Menurutnya, hasilnya sangat berbeda. Suparjo mengaku memiliki lahan tanaman tembakau seluas dua hektare yang dia tanam pada Juni.

"Hasilnya sangat bagus. Saya sudah didatangi pembeli yang bersiap membeli tembakau saya dengan harga Rp40.000 sampai Rp50.000 per kilogram," katanya.

Tahun lalu, dia mengalami gagal panen dan terpaksa menjual tembakau dengan kisaran Rp20.000.

Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan DP3 Sleman, Edi Sri Hartanto, mengatakan petani idealnya menanam tembakau pada Mei dan Juni. Menurutnya, berkurangnya tanaman tembakau di Sleman terjadi lantaran banyak petani lebih memilih tanaman hortikultura lain.

"Petani takut merugi. Mereka sudah bertahun-tahun tidak mendapat hasil yang bagus, maka beralih ke tanaman lain seperti cabai," ujar Edi. Selain itu, harga yang tidak menentu membuat petani enggan menanam tembakau.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online