Hujan Mulai Turun, Petani Gunungkidul Diimbau Tak Buru-buru Menanam
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
Ilustrasi tembakau./Harian Jogja- Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, BANTUL -- Petani tembakau di wilayah Dlingo mengeluh karena hasil panen tidak bisa dipasarkan secara maksimal. Petani hanya menjual hasil panen ke pasar wilayah lokal.
Salah seorang petani tembakau di Dusun Koripan I, Desa Dlingo, Dlingo, Sadiyo mengatakan hasil panen tembakau tahun ini sangat bagus. Kondisi ini berbeda dengan panen tahun lalu yang mengalami kegagalan. “Tahun ini panennya lebih baik karena cuaca baik tidak terkena hujan,” kata dia kepada Harian Jogja, Kamis (4/10/2018).
Tanaman tembakau ditanam satu kali setahun. Biasanya penanaman dilakukan pada saat musim kemarau sehingga lahan yang dimiliki warga tetap berfungsi. “Dalam sekali tanam, tembakau bisa panen tiga kali. Kalau saya menanam 1.500 batang dan setiap panen bisa menghasilkan 100 kilogram daun tembakau basah,” ucap dia.
Menurut dia, proses pembuatan tembakau melalui proses yang panjang karena daun-daun tembakau yang dipetik harus dijemur hingga kering. Selanjutnya, daun-daun itu dicacah dan kembali dijemur hingga kering. “Prosesnya lama karena harus dijemur berkali-kali,” katanya.
Menurut dia, harga tembakau saat ini di kisaran Rp.50.000 per kilogram. Namun, untuk mendapatkan harga jual ini, sambung Sadiyo, para petani harus menjual sendiri-sendiri ke pasar.
“Ya, memang kami harus jual sendiri karena tidak ada perusahaan yang membeli tembakau dari hasil panen petani,” kata Sadiyo.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan Tumijam, Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo di Dusun Koripan I, Desa Dlingo. Menurut dia, untuk hasil panen tidak ada masalah karena daun tembakau yang dipetik sangat baik. Hanya, lanjut dia, untuk pemasaran para petani masih kesulitan karena harus menjual sendiri. “Ya petik sendiri, jual sendiri,” kata Tumijan.
Dia menjelaskan pada 2015 lalu sempat ada perusahaan yang berjanji akan membeli tembakau milik petani Dlingo. Hanya, kerja sama tersebut tidak berjalan mulus karena tembakau-tembakau petani tidak jadi dibeli. “Habis itu petani tidak percaya lagi dan memilih menjual sendiri,” kata dia.
Meski demikian, Tumijan tetap berharap ada bantuan untuk proses pemasaran sehingga petani tidak kesulitan memasarkan hasil panen. “Ya kalau memang ada perusahaan yang ingin membeli tidak masalah, tapi jangan sampai pembelian hanya sebatas janji tanpa ada realisasi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hujan mulai turun di Gunungkidul, tetapi petani diminta tidak terburu-buru menanam karena musim hujan diprediksi mulai Desember 2026.
Pemkab Bantul mulai menyosialisasikan wajib belajar prasekolah setahun bagi anak usia 5–6 tahun sebagai bagian dari program wajib belajar 13 tahun.
Komisi A DPRD Jogja mendorong adanya kendala pemerintahan digital dan memperkuat audit eksternal untuk meningkatkan layanan publik.
Kapolres Sukoharjo AKBP Andhika Dharma Sena dan tiga personel dinonaktifkan serta diperiksa Propam Polri terkait penggeledahan Ponpes Hamalatul Quran.
Kajian Celios memperkirakan kerugian kesehatan akibat karhutla 2026 mencapai Rp224,65 triliun, dengan potensi 41,89 juta orang terdampak ISPA.
Pemprov Jawa Tengah mengumpulkan 31.032,44 liter minyak jelantah dari 60.680 ASN dan pegawai BUMD hingga meraih penghargaan MURI.