Kuota Transmigrasi Belum Jelas, Gunungkidul Masih Menunggu Pusat
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Ilustrasi tembakau./Harian Jogja- Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, BANTUL -- Petani tembakau di wilayah Dlingo mengeluh karena hasil panen tidak bisa dipasarkan secara maksimal. Petani hanya menjual hasil panen ke pasar wilayah lokal.
Salah seorang petani tembakau di Dusun Koripan I, Desa Dlingo, Dlingo, Sadiyo mengatakan hasil panen tembakau tahun ini sangat bagus. Kondisi ini berbeda dengan panen tahun lalu yang mengalami kegagalan. “Tahun ini panennya lebih baik karena cuaca baik tidak terkena hujan,” kata dia kepada Harian Jogja, Kamis (4/10/2018).
Tanaman tembakau ditanam satu kali setahun. Biasanya penanaman dilakukan pada saat musim kemarau sehingga lahan yang dimiliki warga tetap berfungsi. “Dalam sekali tanam, tembakau bisa panen tiga kali. Kalau saya menanam 1.500 batang dan setiap panen bisa menghasilkan 100 kilogram daun tembakau basah,” ucap dia.
Menurut dia, proses pembuatan tembakau melalui proses yang panjang karena daun-daun tembakau yang dipetik harus dijemur hingga kering. Selanjutnya, daun-daun itu dicacah dan kembali dijemur hingga kering. “Prosesnya lama karena harus dijemur berkali-kali,” katanya.
Menurut dia, harga tembakau saat ini di kisaran Rp.50.000 per kilogram. Namun, untuk mendapatkan harga jual ini, sambung Sadiyo, para petani harus menjual sendiri-sendiri ke pasar.
“Ya, memang kami harus jual sendiri karena tidak ada perusahaan yang membeli tembakau dari hasil panen petani,” kata Sadiyo.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan Tumijam, Ketua Kelompok Tani Ngudi Mulyo di Dusun Koripan I, Desa Dlingo. Menurut dia, untuk hasil panen tidak ada masalah karena daun tembakau yang dipetik sangat baik. Hanya, lanjut dia, untuk pemasaran para petani masih kesulitan karena harus menjual sendiri. “Ya petik sendiri, jual sendiri,” kata Tumijan.
Dia menjelaskan pada 2015 lalu sempat ada perusahaan yang berjanji akan membeli tembakau milik petani Dlingo. Hanya, kerja sama tersebut tidak berjalan mulus karena tembakau-tembakau petani tidak jadi dibeli. “Habis itu petani tidak percaya lagi dan memilih menjual sendiri,” kata dia.
Meski demikian, Tumijan tetap berharap ada bantuan untuk proses pemasaran sehingga petani tidak kesulitan memasarkan hasil panen. “Ya kalau memang ada perusahaan yang ingin membeli tidak masalah, tapi jangan sampai pembelian hanya sebatas janji tanpa ada realisasi,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Jadwal KRL Jogja–Solo Minggu 5 Juli 2026 lengkap dari Jogja hingga Palur. Tarif Rp8.000, cek jam keberangkatan terbaru.
Polda Lampung gagalkan peredaran 5 kg sabu dan ekstasi di Bakauheni. Empat tersangka diamankan, termasuk oknum aparat.
Pascal Wehrlein menang di Formula E Shanghai 2026. Kemenangan ke-10 musim ini, kukuhkan dominasi dan peluang juara dunia.
Dua bayi ditemukan di Solo dalam sehari, satu selamat di kereta, satu meninggal di selokan. Polisi lakukan penyelidikan.
Pemerintah susun Perpres perlindungan nakes usai kasus dr Icha, soroti intimidasi dan lemahnya sistem keamanan.