Jalan Watusigar-Nglipar Rusak Sejak 1997, Warga Minta Diperbaiki
Jalan Watusigar-Nglipar rusak sejak 1997. Warga berharap akses diperbaiki, sementara tahun ini baru direncanakan pengerjaan sekitar 100 meter.
Salah satu jenis alat mesin pertanian (alsintan)/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul di 2018 menemukan adanya pengecer pupuk bersubsidi yang kehabisan modal. Hal ini berdampak habisnya stok pupuk untuk petani. Diharapkan di tahun ini kasus tersebut tidak terulang.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan jajarannya mengevaluasi penyaluran pupuk bersubsidi pada 2018. Salah satu catatan penting yakni ditemukannya pengecer yang tidak memiliki modal cukup sehingga tidak bisa membayar pupuk ke distributor. Kondisi ini berdampak terhadap penyaluran pupuk ke petani tersendat. “Stoknya tidak ada, sehingga petani tidak bisa mengambil,” kata Raharjo kepada Harian Jogja, Kamis (14/2/2019).
Disinggung mengenai jumlah pengecer yang kehabisan modal, Raharjo menuturkan tidak banyak. Meski demikian temuan itu menjadi bahan evaluasi agar kasus yang sama tidak terulang lagi di 2019. “Jumlahnya hanya dua pengecer, tetapi tetap menjadi masalah karena bisa berpengaruh terhadap distribusi pupuk ke petani,” katanya.
Menurut Raharjo kewenangan menunjuk pengecer ada di distributor, tapi pada saat ada masalah DPP tidak bisa tinggal diam karena harus turun memediasi. “Kami mempertemukan distributor, gapoktan dan pengecer. Kami bersyukur hasil pertemuan berjalan positif sehingga masalah dapat diselesaikan dengan baik,” katanya.
Selain masalah pengecer yang kehabisan modal, DPP juga menemukan penggunaan pupuk Phonska yang berlebihan oleh petani. Meski perkembangan tanaman baik, tetapi karena kuota sangat terbatas sehingga dapat menimbulkan kelangkaan. “Imbauan kami jangan pakai Phonska berlebihan. Sebagai solusi masih ada pupuk bersubsidi lain yang secara fungsi tidak kalah dengan Phonska,” katanya.
Salah seorang petani di Dusun Ngrandu, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Sugeng Apriyanto, mengatakan petani di wilayahnya masih membutuhkan pupuk kimia bersubsidi maupun tidak. Meski demikian para petani mulai sadar dan beralih menggunakan pupuk organik. “Sekarang tidak semuanya menggunakan pupuk kimia, banyak yang dicampur dengan pupuk organik,” katanya.
Menurut dia penggunaan pupuk organik tidak hanya sebagai solusi saat terjadi kesulitan mendapatkan pupuk kimia. Dari sisi hasil, pupuk organik mampu memberikan hasil panen yang memuaskan. “Harapan kami baik pupuk kimia maupun organik mudah didapatkan sehingga pemeliharaan tanaman tidak terganggu,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jalan Watusigar-Nglipar rusak sejak 1997. Warga berharap akses diperbaiki, sementara tahun ini baru direncanakan pengerjaan sekitar 100 meter.
DPRD DIY menyoroti anggaran logistik bencana BPBD yang hanya Rp53 juta dan mendorong tambahan dana untuk penanganan bencana.
Pameran Harmoni di Tanggul Tirto menampilkan 30–40 foto untuk mengenalkan keragaman destinasi wisata Bantul di luar kawasan pantai.
Otorita IKN memperketat penanganan karhutla. Satu perusahaan disanksi dan satu terduga pelaku pembakaran dilaporkan ke aparat hukum.
Dentuman di Bandung disebut BMKG tak berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau. Simak penjelasan soal gempa, skyquake, dan kemungkinan penyebabnya.
Kepengurusan MPI DIY periode baru dikukuhkan. Fadhl Muhammad Firdaus mendorong gerakan sosial dan solusi nyata bagi masyarakat.