Libur MBG Picu Harga Telur dan Ayam di Gunungkidul Turun
Harga telur, ayam potong, cabai, dan sejumlah kebutuhan pokok di Gunungkidul turun selama program MBG libur. Pedagang menyebut permintaan pasar ikut berkurang.
Salah satu jenis alat mesin pertanian (alsintan)/JIBI
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul di 2018 menemukan adanya pengecer pupuk bersubsidi yang kehabisan modal. Hal ini berdampak habisnya stok pupuk untuk petani. Diharapkan di tahun ini kasus tersebut tidak terulang.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan jajarannya mengevaluasi penyaluran pupuk bersubsidi pada 2018. Salah satu catatan penting yakni ditemukannya pengecer yang tidak memiliki modal cukup sehingga tidak bisa membayar pupuk ke distributor. Kondisi ini berdampak terhadap penyaluran pupuk ke petani tersendat. “Stoknya tidak ada, sehingga petani tidak bisa mengambil,” kata Raharjo kepada Harian Jogja, Kamis (14/2/2019).
Disinggung mengenai jumlah pengecer yang kehabisan modal, Raharjo menuturkan tidak banyak. Meski demikian temuan itu menjadi bahan evaluasi agar kasus yang sama tidak terulang lagi di 2019. “Jumlahnya hanya dua pengecer, tetapi tetap menjadi masalah karena bisa berpengaruh terhadap distribusi pupuk ke petani,” katanya.
Menurut Raharjo kewenangan menunjuk pengecer ada di distributor, tapi pada saat ada masalah DPP tidak bisa tinggal diam karena harus turun memediasi. “Kami mempertemukan distributor, gapoktan dan pengecer. Kami bersyukur hasil pertemuan berjalan positif sehingga masalah dapat diselesaikan dengan baik,” katanya.
Selain masalah pengecer yang kehabisan modal, DPP juga menemukan penggunaan pupuk Phonska yang berlebihan oleh petani. Meski perkembangan tanaman baik, tetapi karena kuota sangat terbatas sehingga dapat menimbulkan kelangkaan. “Imbauan kami jangan pakai Phonska berlebihan. Sebagai solusi masih ada pupuk bersubsidi lain yang secara fungsi tidak kalah dengan Phonska,” katanya.
Salah seorang petani di Dusun Ngrandu, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Sugeng Apriyanto, mengatakan petani di wilayahnya masih membutuhkan pupuk kimia bersubsidi maupun tidak. Meski demikian para petani mulai sadar dan beralih menggunakan pupuk organik. “Sekarang tidak semuanya menggunakan pupuk kimia, banyak yang dicampur dengan pupuk organik,” katanya.
Menurut dia penggunaan pupuk organik tidak hanya sebagai solusi saat terjadi kesulitan mendapatkan pupuk kimia. Dari sisi hasil, pupuk organik mampu memberikan hasil panen yang memuaskan. “Harapan kami baik pupuk kimia maupun organik mudah didapatkan sehingga pemeliharaan tanaman tidak terganggu,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga telur, ayam potong, cabai, dan sejumlah kebutuhan pokok di Gunungkidul turun selama program MBG libur. Pedagang menyebut permintaan pasar ikut berkurang.
ISEAI mengusulkan skema B50 lebih fleksibel melalui Dynamic Blending Policy untuk menekan risiko fiskal dan menjaga keberlanjutan program.
Plt Jampidsus Rudi Margono memastikan penanganan perkara korupsi tetap berjalan usai pengunduran diri Febrie Adriansyah.
Pemda DIY menilai Gunungkidul memiliki potensi besar mengembangkan wisata geopark, kakao, kopi, dan durian dengan prinsip keberlanjutan.
KPK merespons pelimpahan tiga perkara dugaan korupsi terkait Febrie Adriansyah ke Kejaksaan dan mengajak publik menghormati proses hukum.
KPK membuka peluang memeriksa suami Bupati Sukoharjo Etik Suryani dalam kasus dugaan pemerasan di Pemkab Sukoharjo.