Urus Paspor Kini Bisa di Gunungkidul, Tak Perlu ke Kota Jogja
Layanan paspor kini hadir di MPP Dhaksinarga Gunungkidul, memudahkan warga tanpa perlu ke Kota Yogyakarta atau Sleman.
Ilustrasi rumah yang terdampak longsor di Dusun Jatibungkus, Desa Hargomulyo, Kecamatan Gedangsari, Jumat (21/12/2018)./Ist-Dok BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL–BPBD Gunungkidul terus melakukan upaya pemulihan pasca terjadinya musibah longsor di wilayah Kecamatan Gedangsari dan Nglipar. Proses recovery tak hanya melibatkan tenaga manusia mulai dari warga setempat, relawan hingga aparat keamanan, namun juga menggunakan sejumlah alat berat.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, pihaknya terus berusaha melakukan pemulihan agar kondisi di wilayah terdampak longsor pulih seperti semula. Meski demikian, upaya tersebut butuh proses. “Untuk perkembangan masih kita pantau, tapi yang jelas sudah ada kemajuan, jika dibandingkan saat terjadi longsor,” kata Edy kepada Harian Jogja, Sabtu (9/3).
Dia menjelaskan, untuk pemulihan di wilayah terdampak longsor tidak hanya mengandalkan peralatan manual karena juga menerjunkan alat berat. Salah satu contoh penggunaan alat berat di wilayah terdampak longsor di Desa Watugajah, Gedangsari. Diharapkan dengan alat berat ini proses pemulihan bisa berlansung lebih cepat. “Kerja bakti terus dilakukan. Mudah-mudahan kondisi bisa kembali normal secepatnya,” ungkapnya.
Terkait jalan terputus akibat longsor di Desa Mertelu, Edy menuturkan sudah ditangani sehingga bisa dilalui meski hanya untuk kendaraan roda dua. Untuk perbaikan sendiri, ia sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul. “Sudah koordinasi karena ini masalah jalan, maka perbaikan kami serahkan ke DPUPRKP,” katanya.
Sebelumnya, pasca-terjadinya banjir dan longsor yang menerjang Kecamatan Gedangsari, Nglipar dan Ngawen ada sedikitnya tujuh kepala keluarga yang tinggal di daerah rawan. Namun, setelah dilakukan pengarahan ketujuh keluarga ini mau dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. “Kebetulan saya ikut dalam proses negosiasi dengan warga. Awalnya mereka menolak, tapi setelah diberikan penjelasan warga akhirnya mau dipindah,” kata Wakil Bupati Immawan Wahyudi.
Ketujuh rumah warga yang bersedia direlokasi diantaranya empat rumah di Desa Natah, Nglipar; satu rumah di Dusun Baturturu, Desa Mertelu, Gedangsari; dan dua lainnya berada di wilayah Kecamatan Ngawen. “Lima rumah yang terdampak longsor, sedang dua lainnya yang di Kecamatan Ngawen terendam air saat banjir di Kali Oya,” ujarnya.
Immawan menambahkan, pasca-kesepakatan ini, pemkab melalui BPBD akan melakukan koordinasi dengan pihak desa untuk membahas lahan sebagai hunian baru. “Bisa dilakukan dengan tukar guling karena yang terpenting para warga dapat tinggal di lokasi yang aman. Mudah-mudahan untuk penempatan di lokasi baru berjalan dengan lancar,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Layanan paspor kini hadir di MPP Dhaksinarga Gunungkidul, memudahkan warga tanpa perlu ke Kota Yogyakarta atau Sleman.
JMS 2026 mempertemukan ratusan media lokal Jawa Tengah untuk menyusun strategi menghadapi disrupsi digital dan tantangan AI.
Aktivis Global Sumud Flotilla mengaku mengalami sengatan listrik dan kekerasan fisik saat ditahan Israel usai misi kemanusiaan menuju Gaza.
Tingkat pengangguran DIY turun menjadi 3,05% pada Februari 2026. Pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif jadi penyerap tenaga kerja utama.
Harga cabai rawit merah nasional mencapai Rp57.650 per kg menurut data PIHPS Kamis pagi. Telur ayam ras dijual Rp32.500 per kg.
Revisi UU HAM disiapkan untuk melindungi aktivis dan pembela HAM dari kriminalisasi serta memperkuat hak digital dan lingkungan hidup.