Delapan Pekerja di Gunungkidul Kena PHK, Efisiensi Mulai Berdampak
Delapan pekerja di Gunungkidul terkena PHK hingga akhir Juni 2026. Efisiensi perusahaan dan kondisi ekonomi global disebut menjadi pemicu utama.
Ilustrasi ubur-ubur/Harian Jogja
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Kondisi gelombang di kawasan Pantai Selatan mulai turun. Hal ini dimanfaatkan nelayan untuk kembali mencari ikan di laut. Namun, redanya gelombang memicu munculnya ubur-ubur menyengat di Pantai Selatan.
Koordinator SAR Satlinmas Wilayah I DIY, Sunu Bayu Handoko mengatakan, kondisi di kawasan pantai mulai berangsur-angsur normal karena ketinggian gelombang mulai menurut. Dampak menurunnya gelombang, para nelayan mulai berakivitas di laut setelah beberapa hari libur menangkap ikan.
“Pagi ini sudah terlihat melaut karena kondisi gelombang relative aman untuk menangkap ikan,” kata Sunu kepada Harianjogja.com, Sabtu (15/6/2019).
Meski kondisi gelombang sudah mulai landai, namun pada saat melaut, nelayan diminta tetap berhati-hati. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, nelayan diminta menggunakan alat keselamatan diri, khususnya pelampung pada saat menangkap ikan. “Jaket pelampung ini sangat penting, khususnya membantu nelayan pada saat terjadi musibah,” ungkapnya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Koordintator SAR Satlinmas Wilayah II DIY, Marjono. Menurut dia, kondisi di pantai selatan mulai membaik sehingga dimanfaatkan nelayan untuk menangkap ikan di laut. “Memang belum semua nelayan, tapi sudah ada beberapa yang berani melaut,” katanya.
Marjono menuturkan, kehati-hatian pada saat beraktivitas di laut dibutuhkan agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan. “Kewaspadaan ini penting agar nelayan bisa beraktivitas dengan aman lancar dan pulang dengan selamat,” katanya.
Kondisi gelombang yang mulai landai tidak hanya berdampak baik terhadap nelayan. Namun di sisi lain, juga mengakibatkan kembalinya ubur-ubur di kawasan pantai.
Menurut dia, hingga Sabtu siang sudah ada beberapa pengunjung yang menjadi korban sengatan ubur-ubur atau yang dikenal masyarakat local dengan nama inpes. “Untuk data pastinya masih nanti sore, tapi dari laporan awal sudah ada beberapa yang kena sengatan,” katanya.
Untuk penangan, Marjono mengaku sudah menyiapkan oksigen serta cairan penghilang rasa sakit akibat racun dari sengatan ubur-ubur. Menurut dia, reaksi dari sengatan berbeda-beda mulai dari gatal-gatal, kepanasan, sesak napas hingga pingsan. “Kami minta pengunjung terus waspada karena bentuk dari ubur-ubur menarik untuk dipegang, tapi saat disentuh akan menyengat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Delapan pekerja di Gunungkidul terkena PHK hingga akhir Juni 2026. Efisiensi perusahaan dan kondisi ekonomi global disebut menjadi pemicu utama.
Marc Marquez tercepat di practice MotoGP Jerman 2026 (1'19.394). Bagnaia gagal ke Q2, start dari Q1. Raul Fernandez dan Diggia di 3 besar. Enea Bastianini crash
Pemda DIY menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,9-6,7 persen pada 2027. Angka kemiskinan ditargetkan turun hingga 8,5-9,5 persen melalui APBD sekitar Rp4,93 triliun
Korban meninggal akibat wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo mencapai 625 orang. Penyebaran kini meluas ke wilayah baru dan memicu kewaspadaan WHO.
Pria lebih cepat move on? Terapis ungkap itu hanya norma sosial. Pria proses internal, wanita eksternal, tapi waktu pemulihan tak beda signifikan.
Storage WhatsApp cepat penuh bisa membuat HP lemot dan memori cepat habis. Simak penyebab utama serta cara mudah membersihkan file besar di WhatsApp.