PAMERAN SENI : Revolusi Bebek, Kritik untuk Pejabat Rakus

09 September 2013 10:30 WIB Jogja Share :

[caption id="attachment_445699" align="alignleft" width="500"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/09/09/pameran-seni-revolusi-bebek-kritik-untuk-pejabat-rakus-445697/pameran-lukisan-bebek" rel="attachment wp-att-445699">http://images.harianjogja.com/2013/09/pameran-lukisan-bebek.jpg" alt="" width="500" height="333" /> Pengunjung menyaksikan pameran Revolusi Kwek-kwek (JIBI/Harian Jogja/Kurniyanto)[/caption]

Harianjogja.com, JOGJA – Ratusan patung bebek teronggok di lantai ruang tengah gedung Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Ratusan bebek itu bercorak warna-warni, ada yang dicat warna merah, juga ada yang dicat warna kuning, hijau, merah laiknya warna khas rasta , namun juga ada yang polos tidak berwarna.

Diantara ratusan bebek yang dipasang secara berbaris itu didapati tulisan yang sarat akan kritik sosial, seperti Anti KKN , Anti Korupsi hingga tulisan Miss Universe seolah menyentil prokontra yang tengah terjadi dalam pemilihan wanita terbaik sejagad itu.

Ratusan patung bebek berbahan dasar kayu dan serat bambu itu menjadi satu dari 43 karya seni yang disuguhkan dalam pameran seni rupa bertajuk Revolusi Kwek-kwek oleh paguyuban seni Sidji asal Bantul. Pameran ini berlangsung di TBY, Jl Sriwedani, pada 6-10 September 2013. Pameran diikuti 22 anggota paguyuban seni Sidji yang terbentuk 14 tahun silam.

Menurut Seppa Darsono, salah satu anggota paguyuban seni Sidji, karya patung yang mayoritas berukuran 25 X 15 sentimeter itu memiliki jumlah total sebanyak 250-an buah patung bebek. Masing-masing anggota paguyuban Seni Sidji menyumbangkan sembilan karya patung bebek dengan memasukkan uneg-uneg mereka.

“Jadi ini [patung bebek] hanya menjadi media saja bagi seniman untuk menyampaikan pesan-pesan terutama persoalan sosial dan politik yang terjadi di tanah air,” terangnya kepada Harian Jogja, Minggu (8/9/2013) saat ditemui di sela pameran.

Karya berjudul Kwek-kwek itu memunculkan figure bebek. Bebek di sini dilukiskan dengan bermacam objek dan bentuk sesuai dengan gaya khas masing masing seniman. Misalnya lukisan kanvas Suraji, berjudul Makan Terus.

Di lukisan ini bebek mengenakan jas berdasi. Ia begitu rakus menyantap makanan. Belum selesai menelan aneka buah-buahan dan ikan segar yang ada di paruhnya, tangan kanan bebek sudah mengenggam buah lain untuk dimasukkan lagi keparuhnya.

“Ini potret dari rakusnya pejabat di Indonesia. Mereka seolah tidak puas dengan apa yang telah mereka dapatkan dan mereka terus melakukan korupsi,” ujar Seppa menjelaskan karyanya.

Suryadi, salah satu anggota paguyuban seni Sijdi lainnya mengungkapkan pemilihan figur bebek dalam pameran sejatinya muncul atas keprihatian kelompoknya dalam melihat peta seni rupa yang terjadi saat ini. Ia melihat karya seni rupa yang dibuat oleh pelukis kebanyakan lebih dominan kearah budaya pop.

Hal ini, lanjutnya berbeda dengan masa reformasi. Pada saat itu karya seni yang dibuat oleh seniman selalu mengusung tema sosial dan politik.

“Padahal setelah 15 tahun berlalu dari era reformasi Indonesia tidak kunjung membaik. Demokratisasi yang harusnya membuat bangsa semakin adil dan sejahtera justru membuat korupsi semakin tumbuh dan semakin merajalela, para pejabat berjaamaah sama-sama korupsi,” ucapnya.

Perilaku tersebut, tidak ubahnya seperti bebek yang memiliki sifat bergerombol dan berbaris hanya tunduk pada perintah si penggembala. Untuk itu, kelompoknya sengaja mengusung tema Revolusi Kwek-kwek sebagai ajakan dan kritik agar tidak berperilaku seperti bebek.

“Ini cara kami untuk terus berkarya sesuai idealisme,” ucapnya.

Pameran Revolusi Kwek-kwek merupakan pameran ketujuh dalam sejarah pameran yang dilakukan paguyan seni Sidji. Sebanyak 22 anggota paguyuban seni Sidji masing-masing menyumbangkan dua karya dalam pameran ini. Kelompok seni Sidji merupakan kelompok yang anggotanya berasal dari tiga kecamatan pinggiran di Bantul yakni Dlingo, Jetis dan Imogiri.