Selingkuh, 2 Perangkat Desa Dilengserkan Warga

Ratusan warga Karangasem menduduki balaidesa meminta perangkat desa mundur dari jabatannya karena diduga berselingkuh dengan sesama perangkat desa. (JIBI/Harian Jogja - Kusnu Istiqomah)
04 Februari 2014 03:33 WIB Ujang Hasanudin Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ratusan warga Desa Karangasem, Paliyan, Gunungkidul, DIY, menggeruduk balai desa setempat, Senin (3/2/2014). Mereka menuntut oknum perangkat desa Karangasem mundur dari jabatannya karena ketahuan selingkuh. Bahkan pasangan selingkuh hamil empat bulan sebagai hasil dari hubungan gelap itu.

Kedua perangkat Desa Karangasem tersebut adalah Markuat, 50, yang menjabat sebagai Kepala Urusan Perencanaan dan pasangannya Emi Dwi Asmawati, 25, Kepala Urusan Umum.

Setelah didesak warga dengan menduduki balaidesa sekitar dua jam, Markuat dengan dikawal polisi dari Polsek Paliyan dan TNI Koramil Paliyan akhirnya menyatakan mundur dari jabatannya di hadapan warga. Sementara surat pengunduran diri Emi Dwi Asmawati menyusul.

Dalam pernyataannya, Markuat yang sudah memiliki istri dan tiga anak mengakui telah menjalin hubungan gelap bersama rekan kerjanya Emi Dwi Asmawati. Bahkan dari hubungannya tersebut Emi kini hamil empat bulan. Markuat berjanji akan menikahi Emi. “Saya mengakui berbuat zina. Sebagai wujud perbuatan zina, saya mengundurkan diri dari jabatan saya,” ucap Markuat. Ucapan Markuat disambut tepuk tangan warga, sebagian lainnya meneriakkan kata-kata kotor.

Markuat menyampaikan permohonan maaf kepada semua perangkat desa dan warga Karangasem karena perbuatannya telah mencemarkan nama baik Karangasem. Dia juga berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. “Saya siap menikahi [Emi],” kata dia. Usai menyampaikan pernyataan, Markuat langsung dikawal polisi dan TNI meninggalkan balaidesa.

Badarudin, salah satu warga menuturkan, perselingkuhan kedua perangkat desa itu sebenarnya sudah lama diketahui warga sejak Agustus tahun lalu. Namun karena belum mendapatkan bukti-bukti kuat warga membiarkan keduanya. Namun setelah kabar kehamilan Emi beredar, warga geram. “Warga merasa dicemarkan nama baik desanya,” kata dia

Dengan lengsernya Markuat dan Emi dari jabatannya, setidaknya, kata Badarudin, warga Karangasem masih peduli dan menjaga diri dari tindakan asusila. Dia berharap kasus serupa tidak terulang lagi baik dari perangkat desa maupun dari warga.

Kepala Desa Karangasem Amanat Ichsan mengungkapkan, pengunduran diri anak buahnya merupakan bentuk tanggungjawab sebagai pegawai desa atas perbuatannya. Dia berharap kasus tersebut menjadi pelajaran semuanya dan warga yang melakukan unjukrasa agar tidak melakukan tindakan anarkistis.