ABU KELUD : Awas, Kena Mata Jangan Dikucek

MUNTAHKAN MATERIAL VULKANIKKawah Gunung Kelud memuntahkan material vulkanik terlihat dari desa Sumberasri, Nglegok, Blitar, Jawa Timur, Sabtu (15/2). Gunung Kelud hingga kini masih berstatus Awas dan mengeluarkan material vulkanik berupa debu vulkanik, pasir, kerikil, dan batu dengan radius mencapai 15 km. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto -
17 Februari 2014 04:40 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Kepala Dinas Kesehatan Kota Jogja, Fita Yulia Kisworini Minggu (16/2/2014) menjelaskan, karena bentuknya yang halus abu vulkanik dapat dengan mudah terhirup dan masuk ke paru-paru.
Dalam jangka pendek masuknya abu yang mengandung silica ke dalam paru-paru menyebabkan rasa gatal di tenggorokan dan kerongkongan serta gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang ditandai dengan rasa sesak saat bernapas.

Sementara dalam jangka panjang, kandungan silica dapat mengendap dalam paru-paru dan berpotensi mengganggu kinerja organ tubuh.

Tak hanya berisiko pada saluran pernapasan, abu juga cukup berbahaya ketika kontak dengan mata secara langsung. Bila mata yang kelilipan dikucek, abu yang ada di selaput mata dapat menggores selaput mata dan memicu peradangan mata.

Bila abu terlanjur terhirup ada baiknya segera perbanyak minum air putih untuk mengurangi rasa gatal di kerongkongan. Sedangkan bila mulai terasa sesak disarankan segera menghubungi puskesmas atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan obat penanggulangan ISPA.

Sedangkan untuk mata yang terpapar abu, disarankan tidak mengucek mata, melainkan segera membasuh mata dengan air bersih untuk menghilangkan abu yang masuk ke mata.

“Kami sudah berkoordinasi dengan puskesmas-puskesmas di Jogja, bila butuh penangan darurat pasokan obat-obatan sudah kami sediakan di sana,” kata Fita.

Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kota Jogja menyarankan warga Jogja untuk mengenakan masker dan kacamata ketika beraktivitas. Penggunaan masker dan kacamata dapat menghindarkan saluran pernapasan dan mata terkena abu vulkanik. Untuk ketersediaan masker, Fita menjelaskan pihak Pemerintah Kota saat ini tengah menghadapi krisis pasokan masker sehingga warga yang belum memiliki masker dapat menggantinya dengan sapu tangan atau kain untuk menutup hidung dan mulut.

Sementara menanggapi risiko abu masuk ke dalam sumur terbuka, Fita mengaku pihaknya juga sudah bekerja sama dengan puskesmas untuk menyediakan tawas sebagai pengendap material vulkanik yang berada di sumur.