DAMPAK LETUSAN KELUD : Pariwisata Kaliurang Rugi Rp600 Juta

HarianJogja/Gigih M. HanafiPekerja membersihkan Abu Vulkanik masuk di kompleks Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Senin (17 - 2). Proses pembersihan zona inti Candi Prambanan diperkirakan memakan waktu hingga dua bulan. Tetapi untuk kawasan yang masuk zona pemanfaatan dan zona penyangga akan mulai dibuka untuk umum pada Rabu, 19 Februari 2014.
21 Februari 2014 10:17 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Debu abu vulkanik yang belum teratasi secara tuntas hingga kini, berdampak pada sektor pariwisata di Kabupaten Sleman.

Semua objek wisata sempat ditutup sementara dan beberapa agen wisata juga harus membatalkan jadwal perjalanan wisata akibat situasi yang tidak mendukung.

“Semua objek wisata terkena dampak. Terasa signifikan karena Bandara Adisutjipto juga ditutup,” ucap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, Ayu Laksmidewi, Kamis (20/2/2014).

Dia menyatakan, seluruh sektor pariwisata di Sleman mengalami kerugian. Sejauh ini upaya yang bisa ditempuh adalah membersihkan sisa-sisa abu vulkanik yang ada di area tempat wisata.

Ayu Laksmidewi mengakui upaya pembersihan debu dirasa belum maksimal. “Kita berharap bisa mengandalkan turunnya hujan,” imbuhnya.

Di bidang perhotelan, kerugian yang ditanggung pengelola juga cukup tinggi. “Sebanyak 50 persen dari hotel besar di DIY berada di Sleman, jadi jika mengacu pada PHRI [Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia] DIY, kerugian yang dialami mencapai Rp1,1 miliar per hari,” papar Ayu Laksmidewi.

Dia mengatakan, okupansi hotel pascahujan abu vulkanik hanya mencapai 32%.

Objek wisata Kaliurang juga mengalami nasib serupa. Secara keseluruhan, kerugian yang dicapai hingga Rabu (19/2) tercatat mencapai Rp600 juta.

“Tingkat kunjungannya masih sekitar 20 persen,” ungkap Ayu Laksmidewi. Tidak hanya objek wisata, usaha-usaha di sekitarnya pun terkena imbasnya. “Warung-warung dan toko juga sempat tutup,” tambah Ayu.

Ayu Laksmidewi berpendapat, terkait usaha kuliner, debu abu vulkanik Gunung Kelud paling berpengaruh kepada mereka yang usahanya berupa rumah makan terbuka.

Bentuk usaha yang demikian jauh lebih rentan terkena debu abu vulkanik sehingga membuat konsumen enggan untuk membeli. “Siapa yang mau makan makanan berdebu?,” kata Ayu Laksmidewi.