SEKATEN JOGJA : Dievaluasi, Kekhidmatan Berkurang

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoSejumlah warga berbaur dengan wisatawan mengunjungi berbagai wahana permainan dan kuliner di Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) 2013-2014 di Alun-alun Utara Yogyakarta, Senin (13/01/2014). Perayaan sekaten akan ditutup dengan upacara tradisi Kundur Gongso malam ini dan Grebeg Maulud pada Selasa (14/01/2014), meski demikian pasar malam sekaten dengan beragam wahana permainannya baru akan tutup dan dibongkar pada Minggu (19/01 - 2014).
05 Januari 2015 18:40 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Sekaten Jogja 2014 dinilai kurang khidmat. Sebab pengajian memaknai kehidupan Nabi Muhammad hanya dapat didengar warga yang ada di Masjid Gede Kauman.

Harianjogja.com, JOGJA-Kekhidmatan Sekaten 2014 dirasakan berkurang, selain itu, sejumlah pedagang mengeluhkan terjadinya penurunan omzet dibanding pada Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) tahun sebelumnya.

Diutarakan oleh Ari Rusdiyantara, Anggota Forum Komunitas Kawasan Alun-alun Utara, bahwa pada tahun-tahun sebelumnya, begitu rangkaian PMPS ditutup oleh Pemerintah Kota dan jadwal kondhur gongso diawali dengan pengajian Maulid Nabi, maka suara yang ditimbulkan oleh semua wahana permainan, baik musik maupun suara khas wahana, dimatikan dan mulai hening. Sehingga kajian dan ceramah pengajian tak dapat ikut didengarkan oleh masyarakat umum.

"Kalau tahun ini, meski pengajian sudah dimulai, suara musik dan wahana masih ramai, jadi pengajian hanya bisa didengar oleh yang berada di Masjid Gede Kauman. Pesan Sekaten tak tersampaikan kepada khalayak umum," tuturnya, ditemui di area PMPS, Jumat (1/1/2015).

Karena, lanjut Ari, sesungguhnya pasar malam bukanlah inti acara dari Sekaten yang digelar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Melainkan apa yang disampaikan dalam pengajian, memaknai sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAW. FKKAU berharap, pada Sekaten di tahun berikutnya konten reliji lebih ditingkatkan lagi, sehingga makna Sekaten dapat tersampaikan ke seluruh masyarakat.

Sedangkan Anggota Tim Promosi dan Pemanfaatan Lahan PMPS 2014, sekaligus Kabid Perdagangan Disperindagkoptan Kota Jogja, Sri Harnanik mengatakan, Disperindagkoptan berharap, pada 2015 PMPS bisa lebih indah dan lebih tertata dibanding PMPS tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya. Dengan penyediaan tenda yang seragam bagi para pedagang.

Meski demikian, sejumlah pedagang mengeluhkan penurunan omzet dagang. Diungkapkan oleh Suparti misalnya, seorang pedagang batik. Ia menyatakan bahwa omzet penjualannya melesat turun hingga 75%. Hal ini diduganya karena menurunnya jumlah pengunjung.

"Soalnya sekarang bus sudah tidak boleh masuk ke area alun-alun utara, jadi kami juga merasakan wisatawan yang berkunjung dan membeli dagangan ikut menurun. Penjualan kami adalah oleh-oleh wisata, hanya bisa mengandalkan wisatawan," tutur Suparti yang juga mengaku sebagai penjual batik yang setiap harinya menjual batik di sana.