MUSIBAH AIRASIA : Sudibyo Sebut Membantu Proses Identifikasi sebagai Panggilan Hati

Pakar odontologi forensik dari FKG UGM, Sudibyo (JIBI/Harian Jogja - Humas UGM)
06 Januari 2015 23:40 WIB Mediani Dyah Natalia Sleman Share :

Musibah AirAsia, pakar odontologi forensik dari FKG UGM, Sudibyo mengaku terjun langsung membantu mengidentifikasi jenazah penumpang sejak jumat (2/1/2015). Keterlibatannya ini sebagai bentuk panggilan hati.

Harianjogja.com, SLEMAN-Pakar Odontologi Forensik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM), Sudibyo mengaku sebelum bergabung dengan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur, keberangkatannya ke Surabaya atas inisiatif sendiri dan menggunakan dana dari kantong pribadi.

"Sebagai anggota tim odontologi forensik nasional, dirinya merasa terpanggil apabila terjadi bencana di Indonesia yang memang membutuhkan keahliannya di bidang forensik gigi," terangnya usai bertemu dengan Rektor UGM, Dwikorita Karnawati, Senin (5/1/2015).

Sebelum bergabung menangani musibah AirAsia ini, Sudibyo juga pernah membantu korban gempa Bantul tahun 2006. Kala itu, ia berhasil mengidentifikasi 17 korban yang belum dikenal, korban awan panas di Bungker Merapi tahun 2006, dan identifikasi jenazah Mbah Marijan setelah saat erupsi Merapi tahun 2010.

“Apa yang saya lakukan karena murni panggilan hati,” jelasnya usai bertemu dengan Rektor UGM, Dwikorita Karnawati, Senin (5/1/2015).

Meski menyempatkan pulang selama dua hari di Yogyakarta, Sudibyo berencana akan berangkat kembali ke Surabaya pada Selasa, (6/1/2015). Sudibyo menuturkan dirinya masih dibutuhkan. Apalagi, imbuh dia, belum semua penumpang berhasil ditemukan dan baru beberapa jenazah dari musibah AirAsia yang sudah teridentifikasi.

Selain Sudibyo, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengirim pakar odontologi forensik lain, yakni Ahmad Syaify. Keduanya ditugaskan membantu Tim DVI mengidentifikasi jenazah penumpang Air Asia QZ8501.