TAMBAK UDANG BANTUL : Ini Curhat Pengelola Tambak

JIBI/Harian Jogja - Antara
07 Januari 2015 00:20 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Tambak udang Bantul yang ditutup pada Senin (5/1/2015) menuai protes dari pengelola.

Harianjogja.com, BANTUL-Penutupan tambak udang di pesisir selatan Kabupaten Bantul menuai protes dari puluhan pengelola tambak.

"Ini kan enggak adil, giliran punya warga ditutup, sedangkan punya Indocore [perusahaan tambak udang yang dikelola swasta] enggak ditutup padahal juga sama-sama dekat dengan JJLS ada sekitar enam kolam," kata Pario salah satu pemilik tambak, Senin (5/1/2015).

Menurut dia, tambak harusnya tidak dilarang sebelum JJLS digunakan atau ada kegiatan pelebaran jalan.

"JJLS saja masih buntu, di daerah lain belum jadi dan belum digunakan tambak sudah ditutup," ungkapnya mengaku bingung akan bekerja apa setelah usahanya ditutup.

Pario mengungkapkan butuh waktu hingga enam kali panen udang lagi untuk mengembalikan modal senilai Rp150 juta yang ia dan adiknya gunakan untuk membangun tambak. Uang sebanyak itu ia pinjam dari bank dan masih berutang selama tiga tahun.

Sudarno, Ketua Paguyuban Pengelola Tambak mengatakan, penutupan tambak itu bakal mengganggu nasib sekitar 2.000 penduduk pesisir yang menggantungkan hidup dari usaha tersebut. Mulai dari anggota keluarga hingga pelaku usaha seperti warung-warung kecil yang banyak berdiri setelah tambak udang bermunculan.

Anjar Rintaka sibuk menjelaskan ke warga bahwa akan ada relokasi bagi tambak yang ditutup asal pengelola mengurus izin. Ihwal tambak milik Indocore menurutnya sengaja tidak diminta ditutup karena perusahaan sudah mengantongi perizinan.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Harian Kepala Satpol PP Bantul Sunarto justru tidak muncul saat protes bermunculan. Hanya anak buahnya yang menengahi warga. Ia tampak pergi saat warga sudah ramai mengutarakan penolakan.