HARI KUSTA SEDUNIA : Paling Banyak Menyerang di Negara Tropis, Ini Alasannya

27 Januari 2015 19:40 WIB Mediani Dyah Natalia Jogja Share :

Hari kusta sedunia, Indonesia belum 100% bebas dari lepra.

Harianjogja.com, JOGJA-Penyakit kusta banyak menyerang negara beriklim tropis termasuk Indonesia. Negara ini memiliki pasien kusta terbanyak ketiga dunia dibawah India dan Brazil. Hingga kini, jumlah pasien kusta di Indonesia masih cenderung tinggi, bahkan menjadi momok masyarakat di sejumlah daerah.

Pakar kesehatan kulit Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Hardyanto Soebono, mengatakan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2012 menunjukkan masih ada 14 provinsi di Indonesia yang belum berhasil melakukan eliminasi kusta karena masih banyaknya kasus kusta baru yang bermunculan.

Secara keseluruhan terdapat 18.994 kasus kusta baru dengan prevalensi sebesar 7,76 per 100 ribu penduduk. Sementara angka kecacatan tingkat dua pada 2012 mencapai 2.131 orang atau sebesar 0,87 per 100 ribu penduduk. Keempat belas provinsi tersebut adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Papua, dan Papua Barat.

“Sebenarnya eliminasi secara nasional sudah tercapai di 2003 lalu, tetapi dilihat per daerah masih banyak yang belum eliminasi,” terangnya.

Misalnya saja di Jawa Timur jumlah kasus kusta baru pada tahun 2012 cukup tinggi mencapai angka 4.807 orang. Banyaknya penderita kusta di daerah tersebut, kata Hardyanto, dikarenakan pola hidup masyarakat yang kurang memperhatikan sanitasi atau kesehatan lingkungan.

“Di daerah Lamongan, Tuban, dan Gresik masyarakatnya masih ada yang mandi di sungai secara bersama-sama, padahal airnya tidak bersih,”ujarnya.

Lebih lanjut disampaikan Hardyanto, untuk 20 provinsi Indonesia lainnya telah berhasil melakukan eliminasi kusta. Salah satunya adalah provinsi DIY yang memiliki jumlah kasus tergolong rendah yakni 0,4 per 10.000 penduduk. Ia mencontohkan dalam rentang tahun 2014di RSUP Dr. Sardjito setiap bulannya hanya menerima lima pasien kusta baru. Itu pun sebagain besar merupakan pasien rujukan dari luar daerah seperti Klaten, Purworejo, dan Magelang.

Upaya untuk melakukan eliminasi kusta dikatakan Hardyanto perlu dukungan dari berbagai pihak. Langkah percepatan eliminasi kusta dapat ditempuh dengan peningkatan deteksi dini, eliminasi stigma di masyarakat, sosialiasi hidup sehat serta survei daerah endemik.

“Daerah endemik perlu disurvei setahun sekali, misal di SD karena infeksi dimulai dari anak-anak,”tandasnya.