TEDHAK SITEN : Cucu Sultan Pilih Stetoskop, Garpu, dan Buku

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoRAj. Nisaka Irdina Yudanegara puteri pertama pasangan KPH Yudhanegara dengan GKR Bendara menjalani prosesi Panggangan dalam rangkainan upacara tradisi Tedak Siten di Kraton Kilen, Kompleks Keraton Ngayogyakarta, Minggu (01/03 - 2015). Upacara adat Jawa memijakkan kaki pertama ke tanah itu bertujuan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mandiri.
02 Maret 2015 09:40 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Raden Ajeng Nisaka Irdina Yudanegara, putri pertama pasangan suami istri GKR Bendara (Jeng Reni) dan KPH Yudanegara (Ubay) menjalani upacara tedhak siten, bersamaan dengan hari ulang tahun pertamanya, Minggu (1/3/2015). Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Uli Febriarni.

Irdi, begitu nama panggilan cucu Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X itu, siang kemarin dibalut kebaya brokat warna pink dan kain batik sebagai bawahan.

Setahun lalu, 1 Maret 2014, ia lahir dengan berat tubuh 3,3 kilogram dan tinggi 50 sentimeter. Kini, ia tumbuh dengan pipi tembam dan tak ingin jauh dari gendongan ibunya.

Sekitar pukul 14.00 WIB, rangkaian upacara tedhak siten untuk Irdi dimulai. Dengan dipapah oleh kedua orang tuanya, Irdi mulai menginjak tanah yang diletakkan di atas tampah kecil.

Kemudian dia menginjak jadah yang terdiri dari tujuh warna. Irdi kemudian masuk ke dalam sebuah kurungan ayam besar, didampingi oleh seorang pengasuh.

Saat Irdi memilih barang yang diyakini akan menjadi harapan pilihan jalan hidup masa depannya, seluruh keluarga dan segenap tamu undangan yang berada dekat dengan kurungan tertawa. Ternyata, Irdi mengambil sebotol air minum dan meneguk air di dalamnya.

Dengan terus didampingi Jeng Reni dan Ubay dari luar kurungan, Irdi mulai memilih sejumlah barang. Barang pertama yang dipilihnya adalah stetoskop.

“Garpu. Oh, pilih garpu,” ucap Jeng Reni sedikit berteriak pada upacara tersebut.

Setelah garpu, barang ketiga yang diambil Irdi ialah buku.
Setelah itu, ia dimandikan oleh neneknya, GKR Hemas, dan Jeng Reni. Irdi berganti baju, yang berwarna senada dengan ibundanya.

Sang kakek, Sri Sultan HB X menyatakan, tedhak siten merupakan salah satu harapan dan bentuk pelestarian tradisi Jawa di dalam keluarga Kraton. Ia berdoa agar Irdi menjadi anak yang pandai serta bermanfaat bagi bangsa dan negara.

Tedhak siten merupakan upacara dalam tradisi Jawa yang dilaksanakan bagi seorang anak dengan usia minimal tujuh kali 35 hari (selapan).