BUPATI KULONPROGO MENDALANG : Hanya Latihan Dua Kali, Tetap Mampu Membuat Penonton Tertawa

02 Maret 2015 10:40 WIB Kulonprogo Share :

Biasanya Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo naik ke atas panggung, berdiri, kemudian membaca atau memberi sambutan. Namun, Sabtu (28/2/2015) malam ia naik ke pentas untuk urusan berbeda. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Switzy Sabandar.

Hasto mengenakan blangkon dan surjan merah bermotif geblek renteng. Ia berjalan perlahan karena kain jarik yang dikenakannya membatasi langkahnya lebih panjang. Sampai di depan kelir yang membentang di panggung, Hasto duduk bersila. Bibirnya komat kamit. Ia berdoa supaya pertunjukkan perdana di hadapan warganya berjalan lancar.

Laki-laki, perempuan, tua, dan muda  yang jumlahnya lebih dari ratusan orang duduk dan sebagian berdiri mengelilingi areal pertunjukkan di Alun-alun Wates. Mata mereka tak sedikit pun lengah dari panggung. Seolah menelanjangi tempat sang pemimpin akan mempertontonkan aksinya.

“Bupati arep ndalang, aja rame [Bupati mau mendalang, jangan ribut],” ucap salah satu penonton perempuan yang menyuruh anaknya diam.

“Hom Wilaheng,” kata pertama yang meluncur dari Hasto dilanjutkan dengan membaca selembar kertas yang berisi naskah jejer.

Suara berat dengan tekanan di kata tertentu membuat dia tak ubahnya dalang profesional. Keprak yang berada di genggaman tangan kirinya sesekali diketukkan sesuai dengan intonasi pembacaan jejer.

Di tengah pembacaan, Bupati juga melantunkan suluk. Hanya satu kali, tetapi sudah cukup menjadi syarat dalam pergelaran wayang kulit.

Tangan kanannya memainkan wayang Duryudana yang sebelum naik ke pentas dia terima dari Ketua DPRD Kulonprogo Akhid Nuryati. Ternyata Duryudana bukan tokoh utama yang dimainkan Hasto. Ia menancapkan Duryudana di debog sebelah kanan.

Tangannya beralih memainkan dua tokoh wayang di sebelah kiri yang populer dengan karakter buruk manusia, Durna dan Sengkuni. Naskah jejer sekaligus alur cerita dibuat Hasto bersama tim dari Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kulonprogo.

Sengkuni dan Durna dinilai sebagai tokoh wayang yang paling mudah diekspolrasi dan dieksploitasi sehingga keduanya menjadi pemeran utama. Sementara Duryudana menjadi simbol pemimpin.

Hasto terbilang mahir mendalang untuk ukuran politikus. Apalagi ia hanya latihan dua kali sebelum pementasan.

Kepiawaiannya terlihat dari caranya memainkan wayang Durna dan Sengkuni yang sedang berdialog. Ia membuat suaranya menjadi dua tipe, alto atau suara tinggi melengking ketika memainkan Durna, dan nada berat diperuntukkan bagi karakter Sengkuni.

“Aku ngerti kabeh, saka pengairan sawah nganti air ketuban, [Saya tahu semua, dari perairan sawah sampai air ketuban]” ucap Hasto saat memainkan Durna.

Perkataan itu sontak disambut tawa penonton.  Ia tak semata-mata membawakan lakon Mbangun Astinapura, tetapi juga mampu menghidupkan suasana melalui humor segar yang berkaitan dengan reproduksi. Maklum, semua orang mafhum Bupati adalah dokter obsgin yang sudah pasti fasih dengan hal-hal semacam itu.

Selama 30 menit mendalang, laki-laki kelahiran Kulonprogo, 30 Juli 1964 ini banyak menyelipkan cerita tentang pembangunan megaproyek dan program Pemerintah Kabupaten Kulonprogo.

Lakon Mbangun Ngastinapura dipilih karena sesuai dengan kondisi masyarakat. Kulonprogo diibaratkan Astinapura yang sedang dalam masa pembangunan.

Selain tawa penonton, tepuk tangan juga menghiasi pertunjukkan. Meski pandai mendalang, laki-laki yang pernah menjadi Kepala Instansi Kesehatan Reproduksi dan Bayi Tabung RSUP Dr. Sardjito ini tetap membaca jejer dengan mencontek naskah.

Tapi hal itu bisa dimaklumi, sebab ia bukan dalang profesional layaknya Ki Seno Nugroho, dalang utama dalam pergelaran wayang kulit semalam suntuk yang kemarin malam membawakan lakon Semar Mbangun Karang Kadempel.

Hasto juga tidak menutup pertunjukkan wayang dengan memainkan gunungan karena pergelaran masih berlanjut dengan aksi dalang cilik Irfan Hasyim yang memainkan wayang kardus dengan lakon yang sama dengannya.

Orang nomor satu di Kabupaten Binangun ini justru mengajak penonton, termasuk di dalamnya forum koordinasi pimpinan daerah, pejabat perbankan, serta warga Kulonprogo, untuk menirukan ucapan Durna dan Sengkuni dengan tangan dikepalkan ke atas.

“Bela Kulonprogo Beli Kulonprogo, Beli Kulonprogo Bela Kulonprogo,” semboyan Kulonprogo menutup pertunjukkan dalang bupati.

“Ini pengalaman baru dan sangat menarik, kalau ada salah-salah sedikit harap dimaafkan, karena saya bukan dalang professional,” ucap bupati yang pernah mendalang saat masih berstatus sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran UGM pada sebuah acara kampus 28 tahun lalu.