Pedagang Alun-alun Utara Khawatir Tak Dapat Lapak

Harian Jogja/Gigih M. HanafiJalan menuju Alun-alun Utara ditutup dengan tali agar tidak digunakan parkir kendaraan pariwisata, Senin (21 - 10). Menjelang pernikahan anak Raja Yogyakarta pada 21/23 Oktober mendatang sejumlah lokasi mulai dibersihkan.
04 Maret 2015 09:24 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Pedagang di Alun-alun Utara Jogja khawatir kehilangan lapak akibat adanya revitalisasi

Harianjogja.com, JOGJA-Sejumlah pedagang menyatakan kekhawatiran tidak mendapat lapak setelah adanya revitalisasi di Alun-alun Utara (Altar).

Pernyataan tersebut disampaikan lewat salah satu pengurus Forum Komunikasi Komunitas Alun-alun Utara (FKKAU), Ari Rusdiyantara, saat dijumpai, Selasa (3/3/2015).

Pihaknya menuturkan, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang sebelumnya berada di pinggir Altar, sejak Desember 2014, ketika revitalisasi dilakukan, tidak menjalankan aktivitas perdagangan seperti yang biasa dilakukan.

Untuk mendapatkan uang agar terpenuhi kehidupan sehari-hari, beberapa dari mereka membuka warung kecil-kecilan di rumah, yang lain memilih menggunakan uang tabungan mereka.

"Mereka menilai, proyek di tepi Altar sudah terlalu lama. Kami mohon untuk dipercepat," ujarnya.

Di sisi lain, pihaknya menyadari bahwa proses revitalisasi Altar tidak dapat dilakukan kilat, apalagi melibatkan pihak Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kota Jogja, sementara FKKAU  yang menjembatani antara pedagang dan pemerintah.

Hanya, bila proyek di tepian usai dilakukan, pedagang juga memiliki kekhawatiran jika wisatawan memilih berjalan dari Jl. Trikora ke selatan langsung ke Altar, tidak berjalan-jalan ke pinggir, untuk sekadar membeli jajan atau produk dagangan para PKL.

Dari pendataan yang dilakukan divisi yang mengurusi pedagang di Altar, terdapat 500 pedagang yang menjalankan aktivitasnya di pinggiran Altar, baik dalam bentuk tenda, asongan atau berdagang di tepian.

Sementara, jumlah kapasitas lapak yang ada dibangun saat ini masih jauh dari jumlah tersebut. Sehingga, nantinya satu orang pedagang harus rela hanya mendapat satu lapak.

"Karena sebelumnya, ada satu pedagang yang punya dua atau tiga lapak, tapi nanti setelah lapak baru selesai dibangun, satu pedagang hanya dapat satu lapak," terangnya.

Pihaknya telah mengupayakan untuk terus melakukan sosialisasi, hanya saja, kekhawatiran terus menyelimuti benak PKL.

Maka, FKKAU bekerja sama dengan pemerintah ke depan akan berusaha memindahkan shelter Si Thole yang sebelumnya ada di dekat keben, untuk berada lebih dekat dengan lapak PKL.

"Menyiasati agar wisatawan minimal melewati dan kemungkinan mampir ke lapak mereka. Dan nanti, kalau ternyata kurang, kami akan berusaha mengajukan untuk kalau bisa ditambah," tandas Ari.