PASAR TRADISIONAL JOGJA :Sub Raiser Pasthy Belum Diminati, Apa Alasannya?

Pembeli memilih ikan di salah satu kios Pasar Gede, Solo, Rabu (20/8/2014). Ikan laut seperti bawal, dorang, dan tenggiri rata-rata mengalami kenaikan harga Rp5.000 per kilogramnya karena pengaruh cuaca. (Septian Ade Mahendra/JIBI - Solopos)
16 Maret 2015 02:20 WIB Redaksi Solopos Jogja Share :

Pasar tradisional Jogja, tepatnya sub raiser Pasty belum diminati petani ikan.

Harianjogja.com, JOGJA- Belum dapat menarik minat petani ikan, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Jogja terus mempromosikan "sub raiser" Arwana di Pasar Satwa dan Tanaman Hias (Pasthy) Jogja.

"Sampai saat ini, belum ada petani ikan yang ikut memanfaatkannya karena mereka masih bisa melakukan pembesaran benih secara mandiri di kolam yang mereka miliki," kata Kepala Disperindagkoptan Kota Jogja Suyana, Minggu (15/3/2015).

Meskipun demikian, Suyana optimistis pada suatu saat akan ada petani atau kelompok petani ikan yang tertarik untuk memanfaatkan "sub raiser" tersebut, guna mengembangkan bisnis pembesaran benih Arwana.

Di lokasi tersebut, lanjut Suyana, telah dilengkapi dengan berbagai peralatan pendukung pembesaran benih ikan, kondisi air yang sudah memenuhi baku mutu dan memiliki kolam yang mampu menampung sekitar 30.000 benih ikan.

"Kami terus upayakan agar petani atau kelompok petani bahkan pihak swasta bisa memanfaatkan lokasi tersebut," tuturnya.

Saat ini, sub raiser tersebut masih dimanfaatkan oleh Disperindakoptan Kota Jogja untuk pembesaran benih ikan Arwana.

"Kami membeli benih yang masih berukurang sekitar lima centimeter dengan harga Rp30.000 per ekornya. Benih tersebut kemudian dipelihara dan dibesarkan hingga mencapai panjang sekitar 10 centimeter," ucapnya.

Benih yang sudah dibesarkan tersebut kemudian dijual dengan harga jual mencapai sekitar dua kali lipat dibanding harga pembelian.

Pada tahun ini, Disperindagkoptan Kota Jogja berencana membeli sekitar 1.000 ekor benih Arwana untuk dibesarkan.

"Pembelian benih terkadang mengalami kendala khususnya saat bulan dingin seperti Agustus. Saat bulan seperti itu, ketersediaan benih di pasaran menurun," ungkapnya.

Selama ini, lanjut dia, benih dari sub raiser di Pasthy tersebut dipasarkan melalui pedagang besar yang berlokasi di Magelang Jawa Tengah.

Fasilitas sub raiser di Pasthy tersebut dibangun oleh pemerintah pusat pada 2005 yang ditujukan sebagai bagian mata rantai suplai komoditas Arwana untuk pasar internasional.

Namun, bangunan di pasar tersebut baru digunakan sejak 2013. Bangunan terdiri dari dua bangunan utama, yaitu bangunan di sisi depan digunakan untuk penjualan ikan hias, sedangkan di bagian belakang untuk pembesaran benih ikan.