Bansos September 2026 Belum Cair Padahal Terdaftar? Ini Penyebabnya
Bansos September 2026 belum cair meski nama terdaftar? Simak penyebab, cara cek status, perubahan desil hingga masalah rekening.
Batu Akik Fire Opal Wonogiri yang belakangan banyak diburu. (M Ismail/JIBI/Solopos)
Demam batu akik, warga Kedungmiri cukup lama menggeluti usaha batu alam. Namun, baru dua bulan terakhir, warga makin gencar mencari batu tersebut.
Harianjogja.com, BANTUL—Demam batu akik mendatangkan rezeki tersendiri bagi warga di Dusun Kedungmiri, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri. Setelah banyak orang luar daerah yang berbondong-bondong turun ke Sungai Oya, sebuah sungai besar yang melintasi kampungnya, warga Kedungmiri baru menyadari batu alam sedang mendapat perhatian para pecinta akik.
Tanpa mengerti jelas tentang kualitas batu, jenis dan standar harganya, puluhan warga dari total 167 kepala
keluarga di Kedungmiri ikut turun ke sungai untuk mencari batu.
“Sebenarnya sudah dari tahun 2000-an [menambang batu] tapi hanya untuk hiasan taman. Tahu kalau buat akik ya
baru dua bulan ini,” ungkap salah satu warga, Sumari, 34, sembari menyiapkan alat untuk memoles batu yang ia
peroleh, Selasa (17/3/2015).
Dengan tren batu akik saat ini, pria yang biasanya menjadi buruh serabutan ini merasa diuntungkan. Batu sungai
yang selama ini hanya dijual murah, baru-baru ini ditawar dengan harga fantastis. Untuk satu buah batu yang telah
dipoles, Sumari bisa mematok harga sampai Rp200.000.
“Dalam sehari bisa tiga sampai empat batu,” tuturnya.
Hal senada juga diungkapkan Ponijem. Perempuan 57 tahun ini tiba-tiba mengesampingkan pekerjaannya sebagai pencari rumput demi mengikuti jejak para tetangga yang lebih dulu mencari batu. Dalam sehari, ia turun ke sungai sampai dua kali dan mendapatkan berbagai jenis batu.
Batu yang ia peroleh itu lantas dijual kepada kepala dusun.
“Bisa dijual kiloan kalau batu kecil. Yang besar [bongkahan] dijual bijian,” ungkapnya. Setiap satu kilogram,
Ponijem mendapatkan uang Rp25.000-Rp50.000, tergantung warna dan sisi keunikan batu.
Kepala Dusun Kedungmiri Sugiyanto membenarkan jika saat ini sebagian warganya menjadikan kegiatan mencari batu sebagai pekerjaan sampingan. Ditanya tentang jenis batu dan harganya, Sugiyanto tidak mengetahui secara persis. “
Ada yang bentuknya aneh dan kristal, itu yang bagus,” ucapnya. Dia berani memberi harga tinggi untuk batu yang dipandang memancarkan warna kemilauan, membentuk kecubung es dan mengkristal.
Sugiyanto tak menampik jika warga masih memiliki keterbatasan dalam mengolah batu. Dua bulan ini, dia hanya mengerahkan lima pekerja untuk memoles batu kali menggunakan gerinda.
Meski demikian, Sugiyanto mengaku senang karena di antara batu yang terkumpul, ada satu bongkahan yang bernilai jual tinggi.
“Ada satu bongkahan seberat dua kuintal terjual Rp3,75 juta,” paparnya. Sugiyanto memaparkan saat ini batu Oya sudah terjual sampai luar kota, seperti Jakarta. Pendapatan yang diperoleh sepenuhnya dimiliki warga dan tidak masuk kas dusun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bansos September 2026 belum cair meski nama terdaftar? Simak penyebab, cara cek status, perubahan desil hingga masalah rekening.
Polisi membekuk Gembel, spesialis pencuri pompa sumur bor yang terungkap beraksi di 19 TKP di Gunungkidul dan Bantul.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji meminta ASN meninggalkan kebiasaan lama dan memperkuat target pembangunan, termasuk kemiskinan dan pengangguran.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.
Pemkab Sleman dan Klaten menyepakati pembagian PBJT Candi Prambanan untuk mengoptimalkan PAD dan pengembangan kawasan wisata.
Lomba menyanyi Manunggal Fair Kulonprogo batal mendadak. Peserta kecewa karena sudah datang dan menyiapkan penampilan.