Hadapi MEA, Ini Pesan Ketua Kadin DIY

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga (kanan) dan Menteri Perindustrian Saleh Husin (kedua dari kanan) meminum jamu dari penjual jamu gendong dalam pencanangan Gerakan Bangga Minum Jamu di Kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Jumat (9/1/2015). Kegiatan itu untuk menyosialisasikan aksi minum jamu di kalangan di lingkungan kementerian. (JIBI/Solopos/Antara - Sigid Kurniawan)
03 Mei 2015 04:20 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Hadapi MEA, industri kecil perlu mempersiappkan. Berikut ini pesan Ketua Kadin DIY

Harianjogja.com, JOGJA- Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DIY, Gonang Djuliastono berharap agar para pelaku usaha mampu memetakan kekuatan internal ataupun eksternal menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Selain itu, pelaku usaha juga harus menerapkan standarisasi produk berteknologi, melindungi produk dalam negeri dan terus menggarap pasar dalam negeri agar tidak digusur oleh produk-produk impor.

Gonang menambahkan, dengan pemetaan kekuatan tersebut, pengusaha dan UKM akan mengetahui celah-celah dan potensi yang bisa diambil.

"Dari sembilan negara MEA, yang kami nilai cukup kuat bersaing adalah Malaysia, Singapura dan Thailand. Pertumbuhan mereka cukup pesat. Tapi, pasar dan produk dalam negeri juga sangat berpotensi besar [untuk bersaing]," ujar Gonang, baru-baru ini.

Menurutnya, pasar dalam negeri masih perlu digarap dan ditingkatkan. Begitu juga dengan penetrasi pasar lokal, kata Gonang, perlu terus didorong melakukan ekspansi produk ke luar (ekspor).

Untuk itu, lanjutnya, proses produksi, manajemen UKM hingga kualitas sumber daya manusianya harus terus ditingkatkan. Jika peningkatan kualitas tidak dilakukan, sambung Gonang, hal itu akan menjadi masalah bagi pelaku usaha dalam negeri.

Menurutnya, pemerintah baik pusat maupun daerah, perlu berpihak untuk memproteksi produk dalam negeri dengan standariasasi internasional. Jika tidak pasar dalam negeri akan digusur negara lain dan dipenuhi produk-produk impor.

"Masih ada waktu untuk mempersiapkan itu. Termasuk standarisasi dan penguasaan teknologi," katanya.