SEJARAH 3 KRATON MATARAM : Wahyu yang Menuntut Raja Penuh Cinta

Museum sejarah purbakala Pleret berdiri di bekas area Kraton Pleret, Istana Kerajaan Mataram Islam pada abad ke-17. (JIBI/Harian Jogja - Bhekti Suryani)
12 Mei 2015 18:20 WIB Bhekti Suryani Bantul Share :

Sejarah 3 Kraton Mataram juga memiliki istana di sisi selatan dan dikenal dengan nama Kraton Pleret.

Harianjogja.com, BANTUL-Istana raja di Ibukota Kerajaan Mataram Islam ini hanya berumur 33 tahun. Sejarah menyebutnya Kraton Pleret, sebuah istana yang lahir dari raja kontroversial, Amangkurat I.

Kraton Pleret bermula dari sebuah wahyu. Syahdan, Raja Amangkurat I yang merupakan anak dari Raja Sultan Agung (keturunan keempat Raja Mataram islam) itu mendapat titah dari leluhur agar memindahkan pusat ibukota kerajaan dari Kotagede ke wilayah selatan. Tepatnya kini di Dusun Kedaton, Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul.

Menurut wahyu yang diturunkan, Pleret merupakan lokasi yang tepat untuk ibukota kerajaan. Ada dua sungai yang mengapit wilayah ini, yaitu sungai Opak dan Gajah Wong. Sungai dianggap baik untuk pertahanan kerajaan dari serangan musuh. Lalu ada pasar tua di wilayah ini, tempat warga biasa berinteraksi. Pasar itu sampai detik ini masih lestari di Pleret.

Selain itu, struktur tanah di Pleret konon memiliki kualitas paling baik untuk membuat batu bata, yang dipakai sebagai bahan bangunan istana. Pembangunan lalu dimulai pada 1647, tak lama setelah Amangkurat I naik takhta pada 1645. Istana ini disangga batu bata.

Ada sumur tepat di bagian depan istana yang biasa digunakan untuk menjamas atau mencuci barang pusaka. Benteng batu bata berdiri mengelilingi kompleks istana seluas kurang lebih 2.000 meter persegi itu. Benteng ini dikelilingi saluran air.

“Amangkurat I terkenal suka mengalirkan air di kerajaan dia, seperti saat dia membangun semacam sungai buatan yang disebut Segoroyoso untuk latihan perang,” ungkap Trias Indra Setiawan, pengelola museum sejarah purbakala Pleret, yang berdiri di bekas Istana Pleret, Sabtu (9/5/2015).

Sejarah itu, kata Trias, bisa dilacak antara lain di buku karya H.J de Graaf berjudul Disintegrasi Mataram di Bawah Amangkurat I. Selain mendirikan istana, Amangkurat I membangun pula masjid agung di sebelah barat Kraton (agak utara) yang dikenal sebagai masjid Kauman Pleret. Jaraknya hanya sekitar 500 meter dari Istana. Masjid Agung itu kini terkubur di dalam tanah dan tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah.

Amangkurat I yang terkenal kontroversial karena kisah kehidupannya bersama para selir juga membangun makam di atas Gunung Kelir, dua kilometer dari pusat kerajaan. Makam itu adalah milik istrinya, Ratu Malang. Istri dari seorang dalang yang ia rebut, istri yang ia peluk jasadnya selama tiga hari karena cinta yang menggelora.

Ratu Malang konon tewas karena diracun para selir Amangkurat I yang iri lantaran Ratu Malang menjadi favorit raja. Para selir itu diceritakan mati kelaparan, dihukum oleh Amangkurat I yang kesal pada perbuatan mereka terhadap Ratu Malang.

Namun kekuasaan Amangkurat I tidak sampai setengah abad. Pada 1677, Kraton Pleret diserang pasukan pemberontak dari Kediri, Jawa Timur, yang dipimpin Trunojoyo. Ibukota dan istana kerajaan lalu berpindah ke Kartasura sebelum kemudian berakhir di Kraton Jogja saat ini.

“Filosofinya, kalau sebuah istana sudah pernah diserang, maka tidak boleh lagi digunakan, harus pindah ke tempat lain,” ujar Trias.

Sejak saat itu, Istana Pleret ditinggalkan dan tidak terurus. Situs bersejarah itu terkubur lebih dari tiga setengah abad. Baru pada 2004 lalu, Pemerintah DIY berinisiatif menggali dan menelusuri jejak situs Kraton Pleret dengan mulai mendirikan museum tepat di bekas di area kediaman raja Amangkurat I.