SEJARAH KRATON MATARAM : Petilasan Mbang Lampir, Banyak Dikunjungi Pemimpin Daerah

Dua orang pengunjung turun dari area utama petilasan di Mbang Lampir, Dusun Mendak, Desa Girisekar, Panggang. Senin (18/5/2015). (JIBI/Harian Jogja - David Kurniawan).
19 Mei 2015 21:20 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Sejarah Kraton Mataram berupa petilasan Mbang Lampir sampai saat ini banyak dikunjungi tokoh penting.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Petilasan Mbang Lampir memiliki sejarah penting dalam pendirian kerajaan Mataram, cikal bakal Kraton Yogyakarta. Jauh sebelum kerajaan berdiri, di tempat inilah Ki Ageng Pemanahan mendapatkan wahyu pendirian kraton. Seperti apa pertapaan itu?

Suasana sejuk langsung terasa saat masuk area petilasan. Berbagai macam pohon mulai dari ringin, kunut hingga sejenis sawo memenuhi area petilasan yang berada di atas bukit bernama Gunung Lanang Mahenongko Kembang Lampir. Tempat ini, dibangun oleh Sri Sultan HB IX pada 1977 yang lalu.

Petilasan yang berada di Dusun Mendak, Desa Girisekar, Panggang itu terdiri empat bangunan. Yakni, satu bangunan utama, sebuah aula berada di puncak bukit, dan dua bangunan di bawahnya bernamaBangsal Prabayeksa kanan dan di kiri. tempat ini biasanya digunakan tempat beristirahat para peziarah.

Khusus aula, tempat itu tertutup dan tidak sembarang orang bisa masuk. Sebab, tempat itu dibuat khusus untuk Keluarga Keraton, terutama Sultan HB IX. Di tempat inilah juga tersimpan pusaka Wuwung Gubug Mataram dan Songsong Ageng Tunggul Naga.

Untuk bisa sampai ke bangunan utama, bagi peziarah harus menyiapkan tenaga ekstra. Sebab, selain harus menaiki 56 anak tangga, pengunjung harus berhati-hati karena tingkat kecuraman mencapai sekitar 45 derajat.

Nama Kembang Lampir sendiri memiliki beberapa versi. Selain nama Kembang Lampir itu sendiri, juga ada yang menyebut Mbang Lampir hingga Kembang Semampir.

Namun, menurut Juru Kunci Petilasan Sutrisno mengatakan, umumnya pengunjung lebih sering menyebutnya Mbang Lampir. Dia juga tidak memermasalahkan banyaknya sebutan di petilasan itu, karena pada dasarnya memiliki makna yang sama.

“Kalau berdasar cerita, yang benar adalah Kembang Semampir. Tapi untuk lebih memudahkan, disebutlah Mbang Lampir,” kata Sutrisno, saat ditemui di area petilasan, Senin (18/5/2015).

Dia menjelaskan, nama Kembang Semampir sendiri tidak lepas dari pertapaan yang dilakukan oleh Ki Ageng Pemanahan. Sebelum membantu anaknya Panembahan Senopati mendirikan Kerajaan Mataram, ia diminta gurunya Sunan Kalijaga untuk bertapa di bukit itu.

Di sela-sela pertapaannya tersebut, Ki Ageng Pemanahan mendapatkan sekuncup bunga yang terselip di Pohon Wegik. Lalu, kembang itu diambil dan dibawa pulang.

Namun sebelum pulang, Ki Ageng Pemanahan menyempatkan diri berkunjung ke rumah Ki Ageng Giring di Desa Sodo, Kecamatan Paliyan. Di rumah itulah, terjadinya peristiwa menenggak degan (kelapa muda) Gagak emprit milik saudara seperguruannya itu, yang dipercaya bisa menurunkan raja-raja besar di Tanah Jawa.

“Banyak pengunjung yang melakukan napak tilas seprti apa yang dilakukan oleh Ki Ageng Pemanahan. Mereka percaya, ritual tersebut bisa mendatangkan berkah, baik itu derajat maupun kemudahan dalam meraih keinginannya,” kata pria yang telah menjadi juru kunci selama 32 tahun itu.

Dia menambahkan, di petilasan tersebut ada beberapa pantangan. Selain dilarang memakai alas kaki dan gambar, pengunjung juga tidak diperbolehkan memakai pakaian bercorak ungu terong dan hijau lumut.

Menurut Pak Tris, warna pakaian itu tidak diperbolehkan karena menyamai warna kebesaran dari Nyi Roro Kidul. Sebab, antara Laut Pantai Selatan dengan Keraton masih memiliki hubungan erat yang tergambar dalam sebuah sumbu imajiner, mulai dari Gunung Merapi, Tugu, Keraton dan Pantai Selatan.

“Untuk itu, bagi pengunjung yang menggunakan pakaian tersebut dilarang masuk,” ujar Bapak tiga anak itu.

Banyak Pemimpin Daerah yang Berziarah

Meski terlihat sepi dan hanya dua orang yang berkunjung saat saya berkunjung, tempat ini banyak dikunjungi oleh pejabat maupun para pemimpin daerah. Dari pengakuan Pak Tris, dari lima bupati dan walikota di DIY, hanya Bupati Bantul yang tidak berziarah ke petilasan itu. “Kalau Gunungkidul dulu diwakili oleh almarhum Sumpeno Putro,” tutur dia.

Dia pun bercerita, di awal bulan ini secara beruntun datang dua orang pemimpin daerah dari Bupati Tabanan, Bali dan Bupati dari salah satu kabupaten di Kalimantan Barat. Malahan berkat keberhasilan memeroleh apa yang diinginkan, ada seorang bupati yang meyumbang pembangunan gapura di pintu masuk petilasan.

“Masih banyak, mulai dari Bupati Sukoharjo, Temanggung, Purwodadi hingga Purworejo. Selain itu, ada juga peziarah dari masyarakat umum,” tuturnya.

Sutrisno menambahkan, untuk saat ini sudah sangat jarang kerabat keraton yang melakukan ziarah. Namun, saat Sultan HB IX masih menjadi raja, ia masih sering melakukan kunjungan. Malahan saat berkunjung, dia seringkali menyamar.

“Kadang menyamar menjadi petani atau tukang pelihara itik. Jadi masyarakat umum tidak akan tahu, tapi bagi kami para juru kunci tahu jika yang datang adalah sultan,” tutur dia.

Untuk laku ritual, kata Sutrisno, pengunjung diminta membawa beberapa persyaratan, mulai dari tiga kuncup kembang tiga warna, dupa dan rokok. Rokok yang diminta pun tidak bisa sembarangan, sebab yang dibawa harus rokok kretek dengan merek Gudang Garam atau Sampoerna.

“Dari dua merek ini memiliki makna penting. Untuk Sampoerna agar mendapatkan kesempurnaan dalam ritual, sedang untuk Gundang Garam memiliki makna sebagai pelengkap. Ibaratnya memasak, tanpa kehadiran garam maka hasilnya tak akan sempurna,” jawab Sutrisno saat disinggung mengenai dua merek itu.

Sementara itu, salah seorang pengunjung Sujiyo mengaku sering berkunjung. Kedatangannya kali ini, dia ingin memintakan kemudahan kepada anaknya agar mendapatkan kerja. “Mudah-mudahan terkabul, dan anak saya mendapatkan pekerjaan yang baik,” kata Sujiyo, kemarin.

Dia pun percaya, saat melakukan ritual maka apa yang diinginkan bisa mendapatkan berkah dan keinginannya bisa terkabul. “Ini kan bagian dari usaha, tapi untuk keberhasilannya tetap saya serahkan ke Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Pria asal Palbapang, Bantul itu.