LONGSOR BANTUL : Tebing Jembatan Ambrol, Sumur Warga Mendadak Kering

Kondisi tebing Kali Winongo pasca ambrol, Selasa (30/6/2015). (JIBI/Harian Jogja - Arief Junianto)
01 Juli 2015 10:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Longsor Bantul terjadi di sebuah tebing di Sabdodadi.

Harianjogja.com, BANTUL-Setidaknya empat sumur milik warga mendadak mengering pasca-ambrolnya tebing sungai setinggi 15 meter di kawasan Dusun Neco Kidul, Desa Sabdodadi, Senin (29/6/2015) malam. Padahal sepanjang musim kemarau, keempat sumur itu nyaris tak pernah kering.

Hal itu diakui oleh Asih, 58, warga Neco Kidul. Saat ditemui di lokasi sekitar ambrolnya tebing itu, Selasa (30/6/2015) pagi mengakui, sumur tersebut mendadak kering sesaat setelah tebing itu ambrol. Diduganya, longsoran itu membuka celah resapan air di dalam tanah. Sehingga air tanah yang biasa dimanfaatkan warga sebagai sumur resapan pun ikut terdampak.

"Kalau sekarang malah tidak asat [kering, red]. Karena celah resapannya tertutup material longsoran kan," ucapnya.

Longsoran itu, tambahnya, merupakan imbas dari proyek pelebaran jembatan yang dikerjakan oleh rekanan dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bantul sejak dua bulan lalu. Itulah sebabnya, ia dan beberapa warga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi longsoran menyayangkan pihak DPU Bantul yang tidak melakukan sosialisasi terhadap warga sekitar lokasi proyek terkait dengan waktu pengerjaan proyek itu. "Tahu-tahu sudah dikerjakan. Padahal saya kan punya warung di samping jembatan itu. Kalau dikasih tahu kan saya bisa siap-siap," gerutunya.

Terpisah, Alfiyah, 46, warga lainnya mengisahkan detik-detik ambrolnya tebing itu. Dikatakannya, sekitar pukul 19.00, ketika warga tengah khusyu' beribadah shalat tarawih, ia yang ketika itu tengah berada di rumahnya dikejutkan dengan suara gemuruh dari arah Sungai Winongo. "Ternyata ketika saya tengok ke luar, pelataran rumah saya melorot ke bawah, terseret tebing sungai yang ambrol," kisahnya.

Tak hanya itu, ia pun kini mengkhawatirkan titik longsor itu merembet ke arah sisi rumahnya. Pasalnya, tebing tanah yang berada sisi sebelah barat titik longsoran itu kini juga sudah terlihat menjorok ke dalam. "Kalau tidak segera dibangket, saya khawatir tebing di sisi rumah saya itu juga ikut longsor," cemasnya.

Tak hanya rumahnya saja, tebing yang bibirnya hanya berjarak sekitar 1,5 meter dari rumah itu juga mengancam satu unit rumah lainnya. Pasalnya, bibir tebing di sisi rumah itu pun kini sudah terlihat labil. Sebagai catatan, tebing yang longsor itu memang berada di sebelah barat pondasi lantai jembatan yang tengah dibangun oleh pihak Pemkab Bantul.

Hingga kini, pihak kontraktor rekanan Pemkab Bantul yang menggarap proyek jembatan itu tengah merampungkan ujung jembatan di sisi seberangnya terlebih dulu. "Saat kami menggarap yang sisi utara, lha kok malah yang sisi selatannya ambrol," kata Kepala Bidang Jalan DPU Bantul Budi Sarjono saat ditemui di kantornya.

Ia berkilah, ambrolnya tebing itu di luar dugaannya. Hal itu lantaran sebelum mengerjakan proyek, pihaknya sudah melakukan kajian dan penelitian terlebih dahulu terhadap kondisi area sekitar jembatan. "Dan hasilnya itu clear. Tak ada masalah," tegasnya.

Akan tetapi, saat melakukan pengecekan di lokasi, Selasa (30/6/2015) pagi, ia menemukan adanya lapisan tanah pasir di struktur tanah sekitar lokasi pondasi tersebut. Inilah yang diduganya menjadi penyebab tebing itu ambrol. Tak hanya itu, ia pun menduga lapisan pasir itu mengandung air tanah. Sehingga tingkat stabilitasnya pun rendah. "Jadi ketika tebing ambrol, pasir itu juga akan membelokkan arah aliran mata air. Ini yan membuat sumur
warga mendadak kering," paparnya.

Ia menjelaskan, proyek pembangunan jembatan itu merupakan satu dari tiga proyek jembatan yang digarapnya untuk tahun anggaran 2015 ini. Selain jembatan di Dusun Neco itu, pihaknya kini juga tengah menggarap dua jembatan lainnya, yakni di Dusun Gunungpolo Desa Argorejo (Sedayu) dan di kawasan sekitar kompleks perkantoran Pemkab Bantul di Manding (Bantul). Untuk tahun ini, pihaknya mendapatkan jatah dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebesar total Rp3 miliar.

"Kalau khusus untuk jembatan di Neco itu, anggarannya sekitar Rp1 miliar," ucapnya.

Jembatan sepanjang kurang lebih 30 meter itu rencananya akan diperlebar dari yang semula cuma 2,5 meter menjadi 6 meter. Tapi akibat insiden ambrolnya tebing di sekitar proyek itu, ia khawatir pengerjaannya akan molor dari target 150 hari yang telah ditetapkan sebelumnya. Tak hanya itu, kini ia pun dipusingkan dengan ancaman pembengkakan anggaran. Pasalnya mau tak mau, pihaknya tetap harus mencari solusi atas rapuhnya dinding tebing di sisi barat proyek yang panjangnya mencapai 20 meter tersebut.

"Kami harus tanggung sendiri pembengkakan anggaran itu. Tak bisa dibebankan pada rekanan, karena ini kan force majeur. Kami masih hitung berapa pembengkakan anggran itu," ungkapnya.