MASA ORIENTASI SISWA : MOS Tanpa Atribut? Tak Seru!

Suasana Masa Orientasi Siswa (MOS) di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMA N) 2 Playen, Gunungkidul, Senin (27/7 - 2015). (Harian Jogja/Uli Febriarni)
28 Juli 2015 13:20 WIB Uli Febriarni Gunungkidul Share :

Masa orientasi siswa yang tidak menggunakan atribut dianggap tidak seru

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Pelaksanaan Masa Orientasi Sekolah (MOS) di sejumlah Sekolah Menengah Atas (SMA) Kabupaten Gunungkidul, dinilai justru tidak seru apabila tidak disertai penggunaan atribut atau tugas yang unik dan membuat peserta didik baru (siswa baru). Sesungguhnya bagaimana konsep MOS 2015?

Saat dijumpai di sela seminar Kesehatan Reproduksi di SMA N 2 Playen, Ken Noveryan, Senin (27/7/2015) merasa tidak keberatan menjadi peserta MOS yang harus menggunakan atribut khas selama MOS berlangsung tiga hari di sekolah barunya.

"Enggak keberatan, seru sebetulnya [menggunakan atribut unik selama MOS]," ucapnya dengan ekspresi penuh senyum lebar.

Masih berseragam putih biru, sebagai siswa yang baru lulus dari Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Playen, ia mengungkapkan bahwa ia merasa bahagia, senang bisa bertemu, berkenalan dan menjalin kedekatan dengan guru, dan teman-teman baru. Ia juga menilai materi yang diberikan sekolah selama MOS hari pertama itu, amat berguna dan mudah ia mengerti.

Memberikan alasan pentingnya atribut unik untuk dikenakan selama MOS, Seksi Pendahuluan Bela Negara Organisasi Siswa Intra Sekolah SMA N 2 Playen, Kharestu Alfiatdi mengatakan bahwa atribut seperti topi kukusan dan papan nama digantung di dada itu menjadi pembeda antara siswa lama dan siswa baru. Selain itu, semacam tanda pengenal bagi mereka sendiri.

"Supaya mereka juga mudah sosialisasi satu sama lain. Kalau tidak menggunakan atribut, kami meminta mereka bertanggungjawab, bukan kami yang menghukum, melainkan teman-teman mereka, tapi sanksi tidak menjurus ke kekerasan. Kami hanya ingin mereka bersikap jujur, mengakui kesalahan dan bertanggungjawab," ungkapnya.

Khares menambahkan, MOS memiliki peranan penting untuk mendukung siswa baru beradaptasi terhadap lingkungan, budaya akademik, hingga semua orang yang ada di sekolah. Agar mereka bisa menjalani Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan optimal.

"Kalau mereka tidak mampu beradaptasi, mereka tentunya tidak dapat maksimal mengikuti KBM," urainya di akhir obrolan.

Ketua Penyelenggara MOS SMA N 2 Playen, Eko Purwoko menjelaskan, siswa baru mendapat sejumlah tugas untuk dikerjakan dan dibawa ke sekolah, yang mendukung program yang dijalankan oleh sekolah. Berhubung sekolah sedang mengembangkan pertanian, maka setiap satu orang siswa baru diminta membawa satu tanaman bunga atau obat, yang nantinya akan ditanam di sekolah.

Bukan hanya diminta membawa tanaman, sekolah mengenalkan sejumlah materi kepada siswa baru, selama MOS berlangsung 27 Juli hingga 29 Juli 2015. Seperti materi agar siswa menjauhi narkoba, memahami pentingnya tertib berlalu lintas, sejarah sekolah, kesehatan reproduksi, tata tertib sekolah dan budaya akademik sekolah, sampai motivasi belajar.

"Kenalan, agar siswa tidak kaget dengan sekolah," ucapnya.

Terpisah, Ketua MOS SMA N 2 Wonosari, Nurul Asfiani menjelaskan bahwa meski siswa baru tidak diwajibkan menggunakan atribut khusus, selama MOS mereka akan mendapat tugas dan materi pengenalan sekolah, yang berubah setiap harinya. Pada hari pertama, mereka mendapat tugas membawa 'nasi kakak', 'ikan sakit', 'bakal ayam', 'cacing goreng' dan 'coklat ariana grande'. Ia mengklaim itu bukanlah tugas yang sulit dan aneh bagi siswa baru, hanya saja memang membutuhkan daya pikir kritis dan kreatif untuk memahaminya.

'Nasi kakak', adalah sego abang atau nasi merah, 'ikan sakit' maksudnya siswa baru diminta membawa ikan gereh, 'bakal ayam' tidak lain maksudnya membawa telur, 'cacing goreng' itu mi goreng. Semua yang mereka bawa, merupakan bekal yang akan mereka konsumsi sendiri di sekolah.

"Tugas ini untuk melatih daya pikir kritis dan kreatif siswa baru. Tugas-tugas unik selama MOS itu tradisi, kalau tidak ada, sepertinya 'garing'," tuturnya.

Dengan anggaran Rp1 juta, OSIS memfasilitasi siswa baru mengikuti MOS, yang juga diisi dengan materi kelas, seperti sejarah sekolah, budaya akademik, tata tertib sekolah hingga mengundang motivator dari kuar sekolah.

Di kesempatan sama, Ketua Panitia Penyelenggara MOS SMA N 2 Wonosari, Arifin memaparkan bahwa MOS menjadi wahana untuk mengenalkan sekolah dan masa adaptasi siswa. Agar siswa mengenal sekolah dengan baik, bukan hanya budaya akademik, melainkan mengenal secara individu teman dan guru-guru mereka.

"Kami juga menekankan pada pengenalan Kurikulum 2013 yang diterapkan di sekolah, agar siswa baru tidak kaget," tegasnya.