PERTANIAN KULONPROGO : El Nino Bukan Satu-satunya Penyebab Harga Jagung Naik

Ilustrasi kebun jagung (Septhia Ryanthie/JIBI - Solpos)
02 Februari 2016 04:23 WIB Rima Sekarani Kulonprogo Share :

Pertanian Kulonprogo memiliki cara tersendiri menghadapi fenomena El Nino.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Fenomena El Nino memiliki multiefek, termasuk pada harga jual jagung. Kendati demikian ada faktor lain yang ikut berpengaruh.

Merespon hal ini, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Kulonprogo, Bambang Tri Budi menjelaskan telah mengupayakan penanaman swadaya jagung di lahan dan tegalan pada musim penghujan. Hasilnya, produktivitas jagung meningkat pada tahun 2015. Sayangnya peningkatan ini tidak didukung ketersediaan lahan. Luas lahan pertanian jagung yang menurun mengakibatkan produksi turun.

Berdasarkan data dari Dispertahut Kulonprogo, luas lahan jagung di Kulonprogo pada tahun 2015 hanya mencapai 4.187 hektare setelah sebelumnya mencapai 5.036 hektare. Sedangkan untuk jumlah produksi tahun 2015 meningkat hingga 64,81 kuintal per hektare. Jumlah ini lebih banyak dari produksi tahun 2014 yang berada di angka 64,81 kuintal per hektare. Produksi jagung di Kulonprogo sendiri terpusat di beberapa kecamatan antara lain Sentolo, Pengasih, Kalibawang, Lendah, dan Girimulyo.

Februari Harga Daging Ayam Mulai Normal
Bambang menyampaikan persoalan ini juga menjadi salah satu sebab tingginya harga daging ayam yang terjadi di pasaran beberapa waktu belakangan.

Adapun Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (KKP) Kulonprogo, Sudarno menyatakan kenaikan harga ayam potong dan telur merupakan salah satu imbas dari harga pakannya yang meningkat. Namun, ia memastikan kondisi akan kembali normal pada Februari yakni setelah melewati siklus 1 kali pembibitan ayam.

Harga ayam potong di Kulonprogo sebelumnya mencapai Rp38.000 per kilogram pada pertengahan Januari lalu. Sedangkan harga telur capai angka Rp24.000 per kilogram. Namun, harga kedua komoditas ini kemudian terpantau turun pada pekan lalu. Masing-masing komoditas mengalami penurunan harga hingga Rp2.000 per kilogram.