HARI RAYA IMLEK : Rupang Kwan Kong di Kelenteng Poncowinatan Tak Boleh Diturunkan

HArianJogja/Gigih M. HanafiPengurus klenteng mencuci dan membersihkan patung dewa serta mempersiapkan keperluan imlek di Klenteng Tjen Ling Kiong atau Klenteng Poncowinatan, Jogja, Selasa (2 - 2). Ritual pencucian patung dewa tersebut sebagai bagian untuk menyambut perayaan Imlek 2567.
03 Februari 2016 15:55 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Hari raya Imlek didahului dengan pembersihan rupang (patung dewa)

Harianjogja.com, JOGJA-Satu minggu sebelum perayaan Imlek tiba, masyarakat keturunan etnis Tionghoa meyakini bahwa para dewa-dewi naik ke surga. Momen ini pun mereka manfaatkan untuk membersihkan rupang atau patung para dewa sebelum pergantian tahun China tiba.

Tahun ini, Imlek diperingati pada Senin (8/2/2016). Satu minggu sebelumnya, Senin (1/2) adalah waktu di mana para dewa-dewi mulai meninggalkan bumi.

“Kalau sudah naik, kami baru berani membersihkan rupangnya. Maka kami membersihkan rupangnya sekarang,” kata pengurus Kelenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan Jogja, Margomulyo, usai memandikan puluhan rupang di kelenteng tersebut, Selasa (2/2/2016).

Masyarakat Tionghoa menganggap saat para dewa-dewi naik ke surga, patung tersebut kosong dan tidak ada yang menempati. Oleh karena itu para pengurus kelenteng ataupun masyarakat jelata yang mentahtakan rupang di rumahnya berani memandikan rupang.

Ada puluhan rupang di Kelenteng Poncowinatan yang dibersihkan menggunakan air bercampur bunga mawar. Rupang-rupang tersebut sebelumnya ditahtakan di 17 altar yang ada di setiap sudut Kelenteng Tjen Ling Kiong.

Secara perlahan rupang diturunkan dan dilap menggunakan kain yang telah dibasahi air kembang. Petugas juga harus mengawali dengan doa untuk meminta izin membersihkan rupang. Setelah dibersihkan, rupang dikembalikan di altarnya masing-masing.

Rupang itu memiliki ukuran yang berbeda-beda. Ada yang kecil, sedang, dan ada pula yang besarnya hampir menyerupai manusia dewasa yang sedang duduk. Di antara rupang yang ada, hanya tiga rupang yang masih tetap berdiri di altarnya.

Pengurus kelenteng harus naik ke altar untuk membersihkan ketiga rupang berukuran besar itu. “Itu rupang tuan rumah kelenteng ini, Dewa Kwan Kong atau Sing Tee Kun atau Dewa Keadilan. Didampingi anak angkatnya dan penasehatnya,” kata Margo.

Menurut dia, ketiga rupang dewa tersebut ditahtakan di altar utama dan tidak diperbolehkan untuk diturunkan. Petugas harus naik ke altar setinggi 1,5 meter untuk membersihkannya.

Pernah suatu ketika saat rupang Dewa Kwan Kong berbahan kayu cendana itu rapuh dan akan diperbaiki, petugas menurunkan patung tersebut. “Langit cerah tiba-tiba hujan. Percaya tidak percaya. Maka kita tidak berani menurunkan,” kata Margo. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1980-an.

Aturan dalam ritual pembersihan rupang memang harus didahului dari rupang tuan rumah. Di Kelenteng Poncowinatan pun demikian. Rupang Dewa Kwan Kong dibersihkan pertama kali dan baru diikuti puluhan rupang-rupang kecil lainnya seperti Dewi Kwan Im, Dewa Umur, Nabi Khonghucu, Dewa Bumi, dan Dewa Kekayaan.

Selain rupang berbentuk manusia, ada pula rupang harimau yang diletakkan di bawah altar Dewa Bumi.