Advertisement
HARI RAYA IMLEK : Rupang Kwan Kong di Kelenteng Poncowinatan Tak Boleh Diturunkan
Advertisement
Hari raya Imlek didahului dengan pembersihan rupang (patung dewa)
Harianjogja.com, JOGJA-Satu minggu sebelum perayaan Imlek tiba, masyarakat keturunan etnis Tionghoa meyakini bahwa para dewa-dewi naik ke surga. Momen ini pun mereka manfaatkan untuk membersihkan rupang atau patung para dewa sebelum pergantian tahun China tiba.
Advertisement
Tahun ini, Imlek diperingati pada Senin (8/2/2016). Satu minggu sebelumnya, Senin (1/2) adalah waktu di mana para dewa-dewi mulai meninggalkan bumi.
“Kalau sudah naik, kami baru berani membersihkan rupangnya. Maka kami membersihkan rupangnya sekarang,” kata pengurus Kelenteng Tjen Ling Kiong Poncowinatan Jogja, Margomulyo, usai memandikan puluhan rupang di kelenteng tersebut, Selasa (2/2/2016).
Masyarakat Tionghoa menganggap saat para dewa-dewi naik ke surga, patung tersebut kosong dan tidak ada yang menempati. Oleh karena itu para pengurus kelenteng ataupun masyarakat jelata yang mentahtakan rupang di rumahnya berani memandikan rupang.
Ada puluhan rupang di Kelenteng Poncowinatan yang dibersihkan menggunakan air bercampur bunga mawar. Rupang-rupang tersebut sebelumnya ditahtakan di 17 altar yang ada di setiap sudut Kelenteng Tjen Ling Kiong.
Secara perlahan rupang diturunkan dan dilap menggunakan kain yang telah dibasahi air kembang. Petugas juga harus mengawali dengan doa untuk meminta izin membersihkan rupang. Setelah dibersihkan, rupang dikembalikan di altarnya masing-masing.
Rupang itu memiliki ukuran yang berbeda-beda. Ada yang kecil, sedang, dan ada pula yang besarnya hampir menyerupai manusia dewasa yang sedang duduk. Di antara rupang yang ada, hanya tiga rupang yang masih tetap berdiri di altarnya.
Pengurus kelenteng harus naik ke altar untuk membersihkan ketiga rupang berukuran besar itu. “Itu rupang tuan rumah kelenteng ini, Dewa Kwan Kong atau Sing Tee Kun atau Dewa Keadilan. Didampingi anak angkatnya dan penasehatnya,” kata Margo.
Menurut dia, ketiga rupang dewa tersebut ditahtakan di altar utama dan tidak diperbolehkan untuk diturunkan. Petugas harus naik ke altar setinggi 1,5 meter untuk membersihkannya.
Pernah suatu ketika saat rupang Dewa Kwan Kong berbahan kayu cendana itu rapuh dan akan diperbaiki, petugas menurunkan patung tersebut. “Langit cerah tiba-tiba hujan. Percaya tidak percaya. Maka kita tidak berani menurunkan,” kata Margo. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1980-an.
Aturan dalam ritual pembersihan rupang memang harus didahului dari rupang tuan rumah. Di Kelenteng Poncowinatan pun demikian. Rupang Dewa Kwan Kong dibersihkan pertama kali dan baru diikuti puluhan rupang-rupang kecil lainnya seperti Dewi Kwan Im, Dewa Umur, Nabi Khonghucu, Dewa Bumi, dan Dewa Kekayaan.
Selain rupang berbentuk manusia, ada pula rupang harimau yang diletakkan di bawah altar Dewa Bumi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Prabowo Subianto Ultimatum Lembaga Penegak Hukum untuk Berbenah Diri
Advertisement
Sukolilo Pati Sempat Viral, Ternyata Simpan Banyak Tempat Wisata
Advertisement
Berita Populer
- Kunjungan di Breksi Diperkirakan Tak Seramai Tahun Lalu
- Ingin Berlibur ke Solo tanpa Macet, Cek Jadwal KRL Minggu 22 Maret
- Catat bagi Warga Soloraya, Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 22 Maret 2026
- Ingin Balik setelah Lebaran di Jogja, Ini Jadwal KA Bandara YIA
- Jadwal KA Prameks Rute Kutoarjo-Jogja Minggu 22 Maret 2026
Advertisement
Advertisement



