Kampanye "Sarung is My Denim" Ajak Gunakan Sarung untuk Segala Suasana

Para desainer yang tergabung dalam Indonesian Fashion Chamber (IFC) menampilkan sarung dengan berbagai motif dan mode di depan pengunjung Sahid J-Walk, Jumat (29/1/2016). (Kusnul Isti Qomah/JIBI - Harian Jogja)
07 Februari 2016 06:20 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Kampanye "Sarung is My Denim" yang dilakukan oleh Indonesian Fashion Chamber (IFC) mengajak masyaraat menggunakan sarung sebagai bagian dari fashion

Harianjogja.com, SLEMAN-Melalui organisasi Indonesian Fashion Chamber (IFC), desainer fashion mengampanyekan gerakan “Sarung is My New Denim” sebagai upaya mengglobalkan budaya Indonesia. Layaknya China yang dikenal dengan Cheongsam, Jepang dengan Kimono serta Korea dengan Hanboknya, Indonesia pun bisa dikenal dengan sarung.

Para desainer IFC seperti halnya Ali Charisma, Dina Midiani dan Deden Siswanto menganggap sarung bisa menjadi pakaian sehari-hari layaknya denim. Sarung tidak hanya dipakai kaum laki-laki saat kenduri tetapi sarung juga dapat bernilai jual dengan diciptakan menjadi busana harian hingga formal.

Hal ini menjadi tantangan baru bagi perancang mode untuk membuat sarung yang hadir dengan sentuhan modern, yang dapat dipakai tidak hanya pada acara adat tetapi juga sekedar jalan-jalan ke mal.

Ali Charisma mengatakan, fashion Indonesia bisa jadi tuan rumah di negeri sendiri. “Untuk menjadi mode dunia harus menjadi diri sendiri. Salah satunya dengan menampilkan sarung sebagai busana harian,” kata dia dalam IFC Talkshow di Sahid J-Walk, Jumat (29/1/2016).

Sebagai awal mula sarung dikenalkan ke dalam dunia fashion, segmentasi dasar adalah masyarakat menengah ke atas dengan usia 17 tahun ke atas. Tapi, kata Ali, target yang diharapkan para desainer adalah sarung dapat dipakai semua kalangan. "Tujuan kita  membantu perekonomian indonesia. Membantu pengrajin," kata dia.

Meski belum berani menargetkan berapa persentase masyarakat khususnya di Jogja yang mengenakan sarung, tapi ia berharap agar sebanyak mungkin orang mulai melirik sarung untuk pakaian sehari-harinya.

Sarung tidak hanya dipakai kaum laki-laki tetapi juga bisa bagi kaum feminin. Cara pemakaiannya pun tidak sebatas dililit tetapi bisa dikreasi tanpa menghilangkan bentuk sarung dari aslinya. Konsepnya, kata Ali, lebih pada etnik kontemporer yaitu produk lokal yang disajikan dengan taste internasional.

Menurutnya, satu catatan penting dalam mengangkat kembali sarung sebagai pakaian kerakyatan Indonesia adalah tidak menggunakan sarung hanya sebagai bahan untuk membuat pakaian tetapi lebih mengangkat style sarung tanpa mengubah bentuknya.

Dini Midiani juga sepakat bahwa dengan mengangkat sarung dari style-nya akan sangat membantu pengrajin sarung. Misalnya saja ketika sarung diubah bentuk menjadi model baju terusan, cara ini akan mengurangi pendapatan pengrajin.