Nama AHWA Muktamar ke-35 NU Terpilih, Siapa Saja?
9 nama AHWA Muktamar ke-35 NU terpilih dari 4.703 suara. Mereka akan menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode berikutnya.
Kompakers Jogja (JIBI/Harian Jogja/dok. Kompakers)
Klangenan Jogja berikut mengenai fotografi.
Harianjogja.com, JOGJA-Fotografi kini tak lagi jadi hobi yang eksklusif. Tidak melulu orang-orang yang memiliki kamera canggih saja yang bisa menekuni bidang ini. Seperti perempuan-perempuan Jogja pecinta fotografi yang tergabung dalam Komunitas Kompakers Jogja.
Ketua Kompakers Jogja Reni Ratnawati mengungkapkan, komunitas ini sebagian besar member adalah perempuan, mulai dari mahasiswi, wanita karir, pengusaha hingga ibu-ibu muda yang hanya beraktivitas di rumah. Reni mengatakan, dari sering berkumpul dan momotret bersama akhirnya Komunitas Kompakan ini terbentuk.
“Kami bagian dari komunitas upload kompakan yang berasal dari Medan. Awal terbentuknya, dari grup kecil yang hobi memotret barang pecah belah, dari situ banyak perempuan yang bergabung menjadi membernya,” ujar Reni saat ditemui Harianjogja.com di Miwiti Cafe, Pop Hotel, Kamis (4/2/2016).
Komunitas ini memilih objek yang tak biasa untuk difoto dan dikemas sebagai karya fotografi yang menarik. Berbagai benda remeh-temeh yang ada di sekeliling rumah menjadi objek menarik untuk diabadikan dengan kamera ponsel. Genre fotografi yang dianut komunitas yang terbentuk 30 Oktober 2014 lalu itu adalah Still Alive Photography.
Menurut Reni, genre tersebut menampilkan foto-foto objek dari benda sekeliling yang selama ini hanya sepele dan dianggap tidak menarik sebagai objek fotografi. Di antaranya seperti piring, makanan atau perabot rumah tangga. Namun, justru keunikan inilah yang menjadikan para perempuan yang tergabung dalam komunitas ini untuk mencoba menampilkan sisi menarik objek tersebut.
“Memang tidak seperti genre fotografi pada umumnya yang memotret landscape atau human interest yang perlu melakukan hunting foto ke mana-mana. Namun, karena sebagian beasr membernya juga ibu rumah tangga, benda-benda di sekeliling rumah bisa dijadikan objek menarik,” jelas Reni.
Nungki Viandaru, anggota Kompakers Jogja menambahkan, objek foto yang diambil lebih fokus pada benda. Namun, sejak awal dibentuk, jenis foto yang difoto dan diunggah yakni cenderung mengurangi tren selfie.
“Selain itu, karena kebanyakan dari kami menggunakan kamera ponsel dalam memotret, jadi hobi ini benar-benar low budget. Selain itu, tidak perlu hunting foto jauh-jauh,” kata Nungki.
Sementara itu, Carinda Zulfika Khudori menambahkan, sejak terbentuk setahun lalu, komunitas ini telah beberapa kali melakukan meet up dengan para membernya. Diakuinya, komunitas yang terbentuk lewat sosial media seperti Instagram, cukup sulit untuk bertemu tatap muka dan saling mengenal lebih dekat. Maka dari itu, sesekali pertemuan dengan merangkai program menarik dirutinkan agar sesama member dapat saling mengenal.
“Kegiatan saat meet up itu banyak, ada workshop fotografi sampai workshop kerajinan yang bisa menambak keterampilan masing-masing anggota,” imbuh Arin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
9 nama AHWA Muktamar ke-35 NU terpilih dari 4.703 suara. Mereka akan menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode berikutnya.
Volkswagen menyetujui tambahan pengurangan 50.000 posisi. Total pekerjaan yang dipangkas hingga 2030 mencapai 100.000 posisi di tengah tekanan industri otomotif
PSIM Jogja ditahan Persita 1-1 dalam lanjutan Super League 2026/2027. Sempat tertinggal, gol A. Purzycki pada menit ke-84 menyelamatkan Laskar Mataram.
Kenali 10 perangkat elektronik yang tetap menyedot listrik saat standby. Simak cara sederhana mengurangi konsumsi listrik dan tagihan bulanan.
Daftar harga mobil hybrid dan PHEV September 2026 di Indonesia. Pilihannya mulai Rp280 jutaan hingga hampir Rp4 miliar.
Pieter Huistra mengaku kecewa setelah PSS Sleman kalah 1-2 dari Bali United pada laga perdana Super League 2026/2027. Ia menyoroti penalti kontroversial dan kes