FASILITAS DIFABEL : Dosen FST UIN Sunan Kalijaga Belajar Metode Ramah Difabel

Direktur Pusat Layanan Difabel Universitas Colombia, Earllyne Robert saat berdiskusi dengan para dosen Prodi Biologi, FST UIN Suka belum lama ini. (Istimewa)
16 Februari 2016 10:21 WIB Jogja Share :

Fasilitas difabel di UIN Sunan Kalijaga terus diperhatikan, salah satunya dengan memberi pelatihan mengajar ramah difabel pada dosen

Harianjogja.com, JOGJA – Sejumlah Dosen Program Studi (Prodi) Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi Univeristas Islam Negeri Sunan Kalijaga (FST UIN Suka) mengikuti  “Teaching Learning Methods for Students With Disabilities Training”. Acara yang digelar di Laboratorium FST ini merupakan kerjasama Pusat Studi dan Layanan Difebel (PSLD) UIN Suka dan FST UIN Suka.

Direktur PSLD UIN Sunan Kalijaga, Muhrisun mengatakan acara ini akan menjadi pertemuan rutin bagi dosen. Diharapkan acara ini bisa menjadi peningkatan kualitas dosen di UIN Suka. Salah satunya untuk mempermudah proses perkuliahan mahasiswa difabel.

“Harapannya nantinya mahasiswa difabel tidak lagi kesulitan dalam menerima materi kuliah. Ini adalah bentuk ketauladanan UIN Suka untuk memberikan pendidikan inklusi,” kata Muhsirun dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Senin (15/2/2016).

Salah satu pembicara, Direktur Pusat Layanan Difabel Universitas Colombia, Earllyne Robert menjelaskan bahwa difabel bukan berarti keterbelakangan mental. Difabel hanya mengalami kecacatan fisik yang menghalangi gerak langkah mereka. Mereka harusnya tetap bisa sukses, meski keterbatasan gerak.

“Kecacatan fisik bisa dialami secara permanen sejak lahir, bisa juga karena sakit atau kecelakaan lalu menjadi cacat fisik, seperti tuna rungu, tuna netra atau tuna daksa. Namun mereka masih bisa bersaing jika mendapatkan perlakuan yang baik,” kata Earllyne.

UIN Suka saat ini memang menerima banyak mahasiswa difabel telah melengkapi fasilitas-fasilitas yang memudahkan proses perkuliahan mahasiswa difabel. Bahkan kini, semua dosen sudah mulai dapat menggunakan bahasa isyarat meskipun terbatas, seperti ketika harus memberi pemahaman kepada mahasiswa tuna rungu atau menuliskan huruf braille agar mahasiswa tuna nentra menjadi paham.

“Namun sebenarnya ada beberapa teknik berkomunikasi agar mahasiswa difabel tidak merasa termarginalkan. Misalkan semua mahasiswa normal dalam suatu proses pembelajaran, dikondisikan untuk respek, sehingga mahasiswa difabel tidak mengalami hambatan atau rasa sungkan untuk bertanya,” kata Earllyne.

Earllyne menambahkan pemilihan kata-kata jika di dalam kelas ada mahasiswa yang difabel harus diperhatikan juga. Perlu pemilihan kata yang pas, agar tidak salah arti.

“Jika ada volunteer atau interpreter jangan menjelaskan ke arah mereka, tetapi ke arah mahasiswa difabelnya saja. Sebab secara psikis akan merasa lebih diperhatikan, kata Robert.