KESEHATAN ANAK : Orang Tua Tak Suka Sayur & Buah, Anak Rentan Obesitas

Anak obesitas (Thinkstock)
22 Februari 2016 03:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Kesehatan anak berupa berat badan perlu diperhatikan.

Harianjogja.com, KULONPROGO- Meski belum memasuki angka mengkhawatirkan, obesitas di kalangan anak bawah lima tahun (balita) harus diwaspadai. Dikhawatirkan kegemukan berlebihan akan mempengaruhi tumbuh kembang dan kesehatan anak tersebut di masa mendatang.

Kepala Seksi Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo, Andri Susilaningdyah menyatakan angka obesitas balita di Kulonprogo masih berada di bawah 5%. Meski masih di batas aman, ia menjelaskan masih terus dilakukan berbagai program untuk menekan angka ini.

Obesitas pada balita dikhawatirkan akan mempengaruhi kesehatan si anak di masa mendatang, khususnya penyakit tidak menular.

“Bisa saja diabetes melitus [DM], jantung, darah tinggi, dll,” ujarnya pada Harianjogja.com, Minggu (21/2/2016).

Terlebih lagi, usia balita merupakan masa keemasan di mana tumbuh kembang anak berpengaruh di kehidupannya mendatang.

Umumnya obesitas pada balita dikarenakan pola makan tak seimbang dibandingkan pengaruh genetik. Kebanyakan orang tua dengan balita yang pilih-pilih makanan lebih memilih memberikan susu sebagai pengganti makanan. Padahal, susu bersifat untuk melengkapi asupan makanan bukan untuk menggantikan.

Saat ini masyarakat umum masih memiliki pola konsumsi sayur dan buah yang rendah. Hal inilah yang kemudian ditularkan oleh orang tua kepada si anak. Selain itu, banyaknya jenis makanan manis dan junk food yang dikonsumsi oleh balita juga menjadi faktor pemicu obesitas.

Ia juga memaparkan pola hidup modern berpengaruh terhadap obesitas pada balita. Hal yang dimaksud adalah minimnya aktivitas fisik pada si balita sehingga asupan makanan yang masuk tidak diproses.

“Sekarang kan anak jarang main ke luar, lebih banyak yang ngegame di rumah,”kata Andri.

Selama ini pemantauan yang dilakukan oleh Dinkes Kulonprogo dilakukan melalui puskesmas-puskemas. Sedangkan untuk pendidikan akan pola makan dan aktivitas balita disosialisasikan oleh petugas di lapangan.

Berdasarkan data dari Dinkes Kulonprogo, tingkat obesitas pada tahun 2015 di Kulonprogo berkisar 4,54% dari 20.791 balita. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 4,95%.

Terpisah, Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Kulonprogo, Baning Rahayujati menyatakan bahwa obesitas termasuk dalam kategori gizi berlebih dan sebagaimana gizi buruk juga berefek buruk terhadap kesehatan. Meski demikian, masyarakat pada umumnya memiliki pandangan bahwa balita yang lucu merupakan balita yang sehat.

“Jika anaknya gendut dianggap lucu,” jelasnya. Padahal, pemahaman demikian bisa berakibat buruk bagi pola makan dan berefek kepada kesehatannya.