Kisah Guru SD Marsudirini Jogja Mengajar di Australia, Kenalkan Gasing dan Anyaman Kipas

JIBI/Harian Jogja/Desi SuryantoMaira dan Rania dibantu orang tuannya mencoba permainan gasing dalam Fesyival Petualangan di Negeri Dolanan di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Minggu (05/01 - 2014). Festival yang menghadirkan beragam permainan tradisional dari berbagai penjuru nusantara itu digelar serentak di enam kota di Indonesia sebagai upaya menumbuhkan kecintaan anak/anak untuk kembali memainkan permainan tradisional sebahai salah satu kekayaan budaya.
25 Februari 2016 13:55 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Kisah guru SD Marsudirini yang mengajar di Australia, mereka mengenalka gasing dan anyaman kipas

Harianjogja.com, JOGJA- FX Oktaf Laudensius dan Lucia Wahyu Candrawati, merupakan guru di antara ratusan guru Indonesia yang berkesempatan mengajar di Australia selama tiga pekan.

Kedua guru Sekolah Dasar (SD) Marsudirini, Jogja, memperkenalkan budaya Indonesia dan kebudayaan Jogja selama berada di Asutralia.

Setelah melalui proses seleksi yang cukup ketat Oktaf dan Lucia akhirnya lolos untuk mengikuti pertukaran guru dengan beberapa sekolah di Asutralia. Tepatnya pada 24 Februari-15 Maret 2014, keduanya berangkat ke negeri Kanguru.

Oktaf mengajar di sekolah Yankallila Area School. Sementara Lucia  mengajar di Rapid Bay School. Kedua sekolah setingkat SD di Indonesia itu terletak di Australia bagian Selatan.

Selama berada di Asutralia, Oktaf memperkenalkan berbagai kebudayaan Indonesia berikut permainan-permainan tradisionalnya kepada para siswa SD di Yankallia Area School. “Di antaranya permainan gasing, membuat anyaman kipas dari rotan,” kata Oktaf, Rabu (24/2/2016).

Selain itu dirinya juga memperkenalkan kebudyaan jogja, mulai dari tata krama, adat istiadat, hingga beberapa wisata di Jogja.

Dalam menjelaskan kebudayaan Indonesia, Oktaf menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Inggris. Namun bukan berarti ia tidak mahir bahasa Inggris. Karena di sekolah tempat dia mengajar di Australia itu juga sama-sama sedang mempelajari bahasa Indonesia dan berbagai kebudayaan Indonesia, Jogja khususnya.

Apa yang dilakukan Oktaf dan Lucia juga dilakukan dua guru Australia yang mengajar di SD Marsudirini. Keduanya adalah Denise dan Carmel. Kedua guru asing dari Yankallia Area School dan di Rapid Bay School tersebut juga menceritakan budaya dan pariwisata di Australia kepada siswa Marsudirini.

Program pertukaran guru tersebut juga melibatkan siswa. Sesekali siswa Marsudirini juga berinteraksi dengan siswa sekolah di Australia melalui video teleconference.

Hal itu dilakukan saat kunjungan Kedutaan Besar Australia dan tim Bridge Project SD Marsudirini, Jogja, Rabu, kemarin. Selama lebih kurang 30 menit siswa dari kedua sekolah yang berbeda bahasa dan budaya itu berkomunikasi melalui layar. Bahasanya pun campuran Indonesia dan Inggris.

Kunjungan Kedubes Australia dan Bridge Projec tersebut untuk meninjau program partnership school antara Indonesia-Australia.  Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogja, Edy Heri Suasana mengatakan program pertukaran guru memberi kesempatan pada siswa dari kedua negara untuk saling bertukar bahasa dan budaya, melalui native speaker langsung.

Ia mengatakan dari 150 sekolah di Indonesia, empat sekolah di antaranya dari Jogja ikut dalam program partnership school dengan Asutralia. Keempat sekolah tersebut, yakni SD Marsudirini, SDN Ungaran, SDN Lempuyangwangi, dan SMA Negeri 3 Jogja.