HARGA KEBUTUHAN POKOK : Harga Daging Meroket, Pedagang Rugi 25%

Pedagang daging sapi pasar Kranggan bernama Supri sedang menjual dagangannya, Jumat (26/2/2016). (Bernadheta Dian Saraswati/JIBI - Harian Jogja)
28 Februari 2016 07:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harga kebutuhan pokok untuk daging terus saja meninggi.

Harianjogja.com, JOGJA-Dampak kenaikan harga daging sapi sebesar Rp6.000 per kg banyak dikeluhkan para pedagang di pasar tradisional. Mereka mengeluhkan turunnya minat beli konsumen yang secara langsung turut menurunkan  keuntungan penjualannya. Setidaknya, setiap pedagang mengalami kerugian hingga 25%.

Wal misalnya. Pedagang daging sapi Pasar Beringharjo ini terpaksa menanggung rugi 25% karena jumlah pembeli semakin menurun pasca kenaikan harga daging sapi yang terjadi akhir pekan lalu. Biasanya ia mampu menjual 2 kuintal daging, kini hanya menjual 1,5 kuintal saja.

“Sebenarnya pasokannya ada tapi kalau yang beli saja turun, kitanya nggak berani ambil [daging] banyak," kata dia, Jumat (26/2/2016). Ia sendiri mengambil pasokan daging dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Segoroyoso Bantul.

Untuk semua jenis daging yang ia jual, ia kenakan kenaikan Rp6.000 sesuai aturan yang dibuat RPH Segoroyoso. Daging kualitas I ia jual Rp125.000 dari sebelumnya Rp119.000 sementara kualitas II Rp120.000 dari sebelumnya Rp114.000 per kg.

Penurunan keuntungan juga dikeluhkan pemilik Depot Daging Sapi Barokah, Supri. Pedagang yang berjualan di Pasar Kranggan ini setidaknya mengalami kerugian hingga 20%. Sebelum ada Surat Edaran (SE) terkait kenaikan harga, ia mampu menjual 1 kuintal setiap harinya. Namun, kini ia hanya menjual 65 kg saja.

“Itupun masih ada sisa sekitar lima kilo. Kalau sisa ya di es,” ujar dia.

Sebenarnya, kata dia, ia bisa saja mengambil daging dari Segoroyo melebihi 1 kuintal karena pasokan di RPH tersebut masih melimpah.

“Mau ambil 300 kilo pun ada kok barangnya. Tapi mau dilepas [dijual] ke siapa kalau yang beli saja tidak ada,” ujar dia.

Ia beranggapan, naiknya harga daging sapi bukan disebabkan pasokan sapi yang minim tetapi lebih pada permainan harga di tingkat pemilik sapi. Ia sendiri berharap agar pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki RPH sendiri yang mampu menjual daging dengan harga yang stabil. Hal ini akan membuat pedagang sapi di pasaran lebih diuntungkan daripada harus mengambil daging dari Segoroyo yang harganya selalu naik.

“Naik Rp6.000 itu kita enggak naikkan Rp6.000 lho. Misalnya kemarin Rp110.000 ya sekarang cuma saya naikkan jadi Rp115.000 saja demi menjaga langganan. Saya rugi Rp1.000 juga kalau dipikir,” keluhnya.

Kenaikan harga daging sapi juga memberikan imbas kepada produksi sosis sapi. Dita Aurel, penjual sosis di Pasar Kranggan mengaku saat ini stok sosis sapi merek Champ kosong. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, jika stok sosis kosong seperti ini, pertanda bahwa produktivitasnya terpengaruh harga bahan baku yang naik.

Di Pasaran, komoditas lain seperti cabai juga mengalami kenaikan. Dilihat rata-rata harga di Pasar Beringharjo, Kranggan, dan Demangan per Jumat (26/2) yang terpantau Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindagkop) DIY, kenaikan terjadi baik untuk cabai rawit maupun cabai besar. Cabai merah keriting naik dari Rp26.000 menjadi Rp26.666. Cabai merah besar naik dari Rp33.666 menjadi Rp34.333 sementara cabai rawit merah naik hingga Rp1.000 per kg. Kini harga di pasaran di jual Rp27.333 per kg.

Bawang merah juga mengalami kenaikan dari Rp27.000 menjadi Rp28.000 sementara bawang putih naik Rp666 menjadi Rp29.666 per kg.