PEMANASAN GLOBAL : Layanan Transportasi Publik di Jogja Mendesak Dioptimalkan Kurangi Kendaraan Pribadi

18 Maret 2016 22:20 WIB Uli Febriarni Jogja Share :

Pemanasan global membuat layanan transportasi publik di Jogja mendesak untuk dioptimalkan

Harianjogja.com, JOGJA-Layanan transportasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi salah satu hal yang mendesak untuk dioptimalkan oleh Pemerintah di lingkungan DIY.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Wahana Lingkungan Hidup Jogja Haliq Sandra, pada Rabu (16/3/2016). Menyusul terjadinya pemanasan global, yang juga memengaruhi DIY.

Di tingkat nasional, ia menyebut pemerintah Republik Indonesia belum memiliki komitmen tinggi untuk mengurangi efek rumah kaca di Indonesia. Sedangkan dalam tingkat lokal, efek rumah kaca banyak dikontribusi oleh polusi kendaraan bermotor.

Kehadiran jumlah kendaraan bermotor yang begitu tinggi ini sesungguhnya juga menjadi dilematika di DIY, mengingat Pendapatan Daerah salah satunya berasal dari pajak kendaraan. Dengan banyaknya jumlah kendaraan, utamanya kendaraan pribadi maka pajak yang dihasilkan semakin tinggi. Meski demikian, polusi yang ditimbulkan juga semakin tinggi, titik kemacetan bertambah.

Kondisi ini, sesungguhnya menjadi sinyal kuat bahwa alat transportasi publik, menjadi salah satu kebutuhan mendesak. Namun, Pemda belum dapat memaksimalkannya. Misalnya saja Trans Jogja yang sudah ada di tengah masyarakat, belum bisa menjawab kebutuhan masyarakat atas alat transportasi publik yang nyaman, memiliki jaminan ketepatan waktu. Sehingga banyak masyarakat masih lebih memilih menggunakan alat transportasi pribadi.

"Ada faktor kedua yang menyebabkan efek rumah kaca, yakni polusi dari asap industri. Tapi di Jogja tidak banyak lokasi industri dan belum begitu berkembang, sehingga memang asap kendaraan menjadi persoalan yang menjadi sorotan," terangnya, kepada Harian Jogja.

Faktor berikutnya terkait pemasan global, yang perlu dicermati bersama yaitu, belum maksimalnya praktek gaya hidup hijau di tengah anggota masyarakat. Dari cara sederhana saja, yakni masih minimnya pengolahan sampah sebelum menuju ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Padahal dengan minimnya pengolahan sampah, maka gas metan yang dihasilkan dari sampah masih begitu tinggi dan mencemari lingkungan.

Persoalan lainnya, kemauan masyarakat untuk memilih menggunakan kendaraan tidak bermotor atau bahkan berjalan kaki, masih kecil. Padahal mereka hanya menuju lokasi dengan jarak pendek.

Mengenai faktor terakhir ini, Haliq menyayangkan sejumlah kebijakan Pemda saling tumpah tindih, dan tidak ramah kepada pejalan kaki. Misalnya saja, adanya trotoar bagi pejalan kaki. Namun, Pemda juga kemudian membuat ruang-ruang hijau di sekitar trotoar, bahkan meletakkan pot-pot tanaman di area trotoar itu sendiri. Yang mengurangi luasan trotoar.

"Selain itu di banyak titik, jalur sepeda justru dialihfungsikan, menjadi tempat parkir," ujarnya.