WISATA SEJARAH : Mengunjungi Munumen Pahlawan Pancasila Saksi Peristiwa Gestaok

Monumen Pahlawan Pancasila, yang terletak di Kentungan, Sleman. Monumen ini dibangun untuk mengenang jasa Pahlawan Indonesia yang gugur karena Korban kekejaman kelompok yang diduga adalah PKI, Minggu (2/10/2016). (Yudho priambodo/JIBI - Harian Jogja)
03 Oktober 2016 17:55 WIB Sleman Share :

Wisata sejarah kali ini mengajak pembaca mengunjungi monumen Monumen Pahlawan Pancasila

Harianjogja.com, SLEMAN- Gerakan Satu Oktober (Gestaok) selalu diperingati dengan upacara di lapangan Monumen Pahlawan Pancasila, Kentungan, Sleman, Yogyakarta.

Dalam peristiwa tersebut dua petinggi TNI Brigjen Katamso dan kolonel Sugiyono disiksa hingga tewas oleh sekelompok pihak yang diduga berasal dari Partai Komunis Indonesia (PKI).

Puluhan tenda sudah terpasang rapi di halaman samping-samping monumen. Taburan bunga yang masih segar sudah tertabur di samping sebuah lubang berukuran sekitar satu meter kali dua meter di dalam museum.

Tampak persiapan upacara bendera dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober pun sudah siap digelar.

Tidak perlu kata-kata ataupun cerita monolog panjang, relief-relief di tembok monumen menggambarkan kejadian peristiwa sejarah di Indonesia tersebut. Kekejaman penyiksaan PKI begitu tergambarkan. Suasana museum yang lengang menambah keheningan saat relief tersebut dicermati lebih seksama.

Bersambung halaman 2


Pengurus Monumen, Maris Aji, mengatakan Setiap tahun upacara selalu diperingati, upacara tersebut juga sebagai peringatan gerakan Satu Oktober dimana ada dua pahlawan disiksa dan dikubur di kompleks yang saat ini dijadikan monumen tersebut.

"Dahulu tanggal 1 Oktober 1965 malam hari, dua petinggi Korem 072 Pamungkas diculik. Mereka disiksa, dibunuh, lalu mayatnya dikubur di lubang yang ada di monumen ini," katanya, Minggu (2/10/2016).

Dua kendaraan Tank yang ada disebelah barat monumen masih terlihat gagah, keduanya saat ini tampak siaga menjaga keutuhan monumen. Sembilan foto pahlawan nasional yang gugur dalam peristiwa G30S juga sudah terjejer di samping timur mimbar upacara.

Pemerintah, keluarga korban penculikan PKI, mahasiswa, pelajar, aparat kepolisian, dan berbagai eleman selalu hadir dalam upacara memperingati jasa-jasa pahlawan tersebut.

"Upacara ini untuk mengenang dan menghormati jasa pahlawan yang gugur karena mereka sebagai korban kekejaman kelompok yang diduga PKI," imbuhnya.

Bersambung halaman 3

Begitu juga monumen Pahlawan Pancasila sebelum upacara dipercantik dengan beberapa hiasan dan ornamen. Beberapa petugas tampak sudah mengepel dan membersihkan lantai monumen. Tak lupa kaca untuk menyimpan pakaian dinas Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono sudah tampak bening.

Adalah Suharto, yang kala itu menjabat sebagai Presiden yang mengusulkan sebuah monumen dibangun di daerah kentungan Yogyakarta. Atas saran itulah kemudian terbangun sebuah monumen saksi sejarah bernama Monumen Pahlawan Pancasila yang di bangun pada tahun 1988 dan diresmikan tahun 1911 oleh Paku alam VIII.

Monumen tersebut dibangun dengan usulan juga untuk selalu mengenang dan memperingati peristiwa sejarah dimana dua orang petinggi Angkatan darat disiksa dan dibunuh dengan kejam.

Jenazah mereka di kubur dalam lubang yang saat ini masih jelas keberadaannya didalam monumen. Lubang itu sengaja tidak dibangun, tanah yang berwarna coklat tua dan sedikit gersang memang sengaja dijaga keutuhannya.

Namun kini, banyak harapan pengurus monumen saksi sejarah besarnya bangsa ini agar lebih banyak menjadi perhatian masyarakat, khususnya pelajar.

Bersambung halaman 4

Seperti apa perjuangan pahlawan pada masa penjajahan, ataupun perjuangan mereka melawan kekejaman PKI wajiblah diketahui oleh generasi saat ini.

"Tidak terlalu banyak, namun juga tidak terlalu sepi. Harapannya banyak sekolah-sekolah mengunjungi monumen. Biarkan anak-anak tahu dan paham sejarah," katanya.

Menurutnya, ketika anak-anak mengetahui perjuangan pahlawan, tanpa diminta pasti rasa kepedulian dan rasa menghormati jasa-jasa mereka akan tumbuh dari dalam diri mereka.

Sehingga demikian monumen tersebut bukanlah hanya menjadi sebuah bangunan tua, yang dirawat namun hanya berteman dengan sepi. Canda riang, tawa, dan suara gemuruh kaki anak-anak yang berlarian pasti akan menguatkan dan membuat monumen tidak akan pernah terbangun sia-sia.