PERTANIAN KULONPROGO : Kurang 5 Hari, Melon Gagal Panen

Ratusan petak tanaman melon di Kecamatan Temon terendam banjir akibat hujan yang terus turun beberapa hari terakhir, Rabu (5/10/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI - Harian Jogja)
06 Oktober 2016 17:20 WIB Sekar Langit Nariswari Kulonprogo Share :

Pertanian Kulonprogo menghadapi masalah curah hujan yang terlalu tinggi

Harianjogja.com, KULONPROGO-Curah hujan yang tinggi selama beberapa waktu terakhir merendam ratusan petak tanaman melon di Kecamatan Temon. Akibatnya, tanaman melon yang sudah hampir memasuki masa petik ini terancam gagal panen.

Sahono, salah satu petani di Desa Palihan, Temon, mengatakan bahwa tanaman melonnya sebenarnya sudah bisa dipetik dalam 5 hari ke depan setelah mencapai usia 60 hari. “Kukut sudah, tidak bisa diselamatkan,”keluhnya ketika ditemui di sawahnya, Rabu (5/10/2016).

Ia sendiri menggunakan lahan sewa seluas 1 hektar untuk menanam 15.000 bibit melonnya. Sebelumnya, Sahono memprediksi bahwa musim hujan sudah berakhir sehingga melon miliknya bisa dipanen dengan kondisi prima. Namun, hujan yang terus turun selama lebih dari sepekan terakhir membuat harapannya pupus.

Diprediksi, kerugian yang diderita berkisar Rp25 juta yang mencakup biaya operasionalnya semata. “Harga sewa lahannya belum masuk hitungan,” tambahnya.

Meski bukan kali pertama hujan mengakibatkan gagal panen namun Sahono mengatakan bahwa tahun ini merupakan yang terparah. Pasalnya, dari target panen sebanyak 7 truk melon namun hanya 1 truk yang bisa terealisasi.

Bambang, petani lainnya yang ditemui di lokasi yang berdekatan mengatakan sudah banyak petani yang mengikhlaskan tanamannya tidak bisa dipanen. “Lahan di sebelah utara ada sekitar 24.000 tanaman melon tidak bisa diselamatkan, semua gagal,” tambahnya.

Melon sendiri merupakan tanaman yang rentan sekali dengan air. Karena itu, jika terlalu banyak air yang masuk melalui pori-pori maka buahnya dipastikan akan membusuk.

Camat Temon, Jaka Prasetya mengatakan bahwa sebelumnya telah dilakukan pemantauan mengenai kondisi petani melon bersama sejumlah dinas terkait. Sebenarnya, sejumlah petani telah berupaya untuk menyelamatkan tanamannya dengan menyedot air yang menggenang dengan alat diesel. Namun, setelah hujan yang tak kunjung berhenti, petani kemudian tak lagi menlanjutkan usahanya.

Selain tanaman melon, Jaka memaparkan bahwa sejumlah tanaman semangka dan cabai juga berada dalam kondisi yang sama. Namun, usia tanaman tersebut cenderung lebih bervariasi daripada tanaman melon. Paling tidak, terdapat 189 hektar tanaman cabai dan 219 hektar tanaman melon di kawasan Kecamatan Temon.