PERDA GEPENG : Jatah Makanan di Penampungan Hanya 190 Orang, Jumlah Gelandangan & Pengemis 300 Orang

Espos/Agoes RudiantoRAZIA KERETA-Petugas Polsuska merazia pengemis, pengamen dan pedagang asongan yang beroperasi di dalam gerbong kereta di Stasun Purwosari, Solo, Selasa (8 - 9). Razia yang dilakukan dalam rangka pengamanan jalur transportasi menjelang arus mudik Lebaran.
08 Oktober 2016 09:20 WIB Sunartono Jogja Share :

Perda gepeng belum sepenuhnya dapat diterapkan.

Harianjogja.com, JOGJA - Ratusan gelandangan dan pengemis (gepeng) di camp Assessment atau penampungan yang berlokasi di Jalan Parangtritis Km. 5 Sewon, Bantul terancam keberadaannya. Pemda DIY akan menggunakan bangunan yang dihuni ratusan gepeng itu untuk dimanfaatkan sebagai kampus akademi komunitas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY mendesak Pemda DIY untuk segera menyiapkan gedung baru.

Yazid mengaku sudah melihat dapur camp assessment, dalam bulan Oktober 2016 hanya tersedia jatah makan untuk 190 gepeng, padahal mereka datang dan pergi dengan jumlah mencapai 300 orang. Pihaknya akan mengupayakan penambahan anggaran bahan makanan pada tahun 2017 mendatang.

"Kaget dengan kebijakan anggaran masalah makan tadi mungkin dalam bulan ini terkecil sekitar biasanya 300 orang, tetapi tadi untuk bulan ini hanya jatah 190 orang saja ini sangat kecil," kata dia, Jumat (7/10/2016)

Menurutnya, konsep rehabilitasi harus seimbang antara fisik dan mental. Jika pemberian asupan makanan saja kurang, menurutnya menjadikan fisik lemah. Akibatnya proses pemberdayaan individual gepeng bisa terganggu. Setelah direhabilitas, para gepeng itu dikembalikan ke daerah asal.

"Kami akan usulkan anggaran yang lebih besar untuk makanan gepeng di tahun 2017," ujarnya.

Menanggapi pernyataan legislatif, Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi menegaskan pemakaian camp assessment sebagai tempat akademi komunitas memang akan dilakukan pada 2017. Tetapi, pihaknya belum mendapatkan informasi detail kepastian waktunya. Ia mengakui, bukan perkara mudah untuk memindahkan ratusan gepeng ke tempat baru.

"Karena itu kan mempertimbangkan banyak hal dan tidak waton asal mindah karena aspek lingkungan harus diperhitungkan dan aspek lain, karena yang dipindahkan ini kan orang bermasalah," tegas dia.

Pihaknya tidak akan lagi menggunakan wacana di Kasihan, Bantul. Alternatif lain akan dicarikan. Sayangnya, Untung belum bisa memastikan, apakah akan membangun gedung baru atau memanfaatkan inventaris gedung Pemda DIY yang tidak terpakai. Tetapi, jika legislatif menyarankan adanya pembangunan gedung baru, ia tak mempersoalkannya.

"Suka-suka saja yang penting bagi dinas itu ada lokasi yang manusiawi untuk rehabilitasi," ucapnya