MITIGASI BENCANA : BPBD Tambah 3 alat Deteksi Dini Banjir Merapi

Gunung Merapi setelah letusan freatik, Senin (18/11/2013). (JIBI/Harian Jogja - Gigih M Hanafi)
10 Oktober 2016 12:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Mitigasi bencana Gunung Merapi ditingkatkan dengan penabmahan alat deteksi dini banjir

Harianjogja.com, SLEMAN- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman akan menambah tiga unit instrumen early warning system (EWS). Pemasangan EWS tersebut akan dilakukan di wilayah aliran sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Kunto Riyadi mengatakan, penambahan EWS tersebut dilakukan untuk mengantisipasi potensi banjir lahar hujan seiring meningginya curah hujan belakangan ini.

“Ada beberapa wilayah sungai yang akan dipasangi EWS tambahan. Hilir Kali Trasi yang merupakan intake Kali Boyong, hulu Kali Kuning di wilayah Hargobinangun, dan hulu Kali Krasak di Tunggularum,” paparnya, Minggu (9/10/2016).

Sebelumnya BPBD memasang sembilan unit EWS di sejumlah titik, tiga unit di Kali Boyong, satu unit di Kali Opak, dan lima unit di Kali Gendol.

Dengan tambahan tiga unit EWS tersebut, pihaknya berharap pemantauan terhadap potensi bencana bisa lebih optimal. Pasalnya, beberapa sungai yang mengaliri wilayah Kota Jogja dan Bantul berhulu di Sleman, semisal Kali Code sebagai anak aliran Kali Boyong.

“Sampai saat ini volume material erupsi Merapi masih tersisa jutaan kubik. Jika curah hujan meningkat dan durasinya lama, maka potensi banjir lahar hujan dapat terjadi sewaktu-waktu. Tentu masalah ini harus diantisipasi dan terus diwaspadai," tambah Kunto.

Menurutnya, banjir lahar hujan bersifat destruktif sehingga harus terus dipantau. Berdasar kajian dari BPPTKG, saat ini aktivitas di wilayah Merapi terbilang normal. Meski normal, pihaknya menilai semua pihak diharapkan tetap meningkatkan kewaspadaan. Di Kali Gendol, misalnya, potensi terjadinya lahar hujan cukup tinggi.

“Untuk antisipasi semua potensi bencana itu, kami menggandeng relawan pemantau sungai yang melakukan pemantauan visual ketika terjadi aliran. Saat ini ada 49 kelompok relawan dengan 1600 anggota yang cukup militan di lapangan,” katanya.